Pangeran Hassan Resmikan Klinik Bantuan BAZNAS untuk Pengungsi Palestina

Pangeran Hassan meresmikan Klinik Bantuan BAZNAS untuk pengungsi Palestina. (Dok. BAZNAS)

Amman, MINA – Presiden Jordan Medical Aid For Palestinians (MAP), Pangeran El-Hassan bin Talal meresmikan klinik bantuan Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) untuk pengungsi Palestina di Yordania.

“Alhamdulillah bantuan kita diresmikan langsung oleh Prince Hassan,” ujar anggota BAZNAS, Irsyadul Halim usai peresmian di Kamp Al-Talbiyeh, Distrik Jizah, Yordania, Ahad (21/4).

Turut hadir Duta Besar RI untuk Yordania dan Negara Palestina, Andy Rachmianto serta sejumlah pejabat Kerajaan Hasyimiyah Yordania dan Jordan Hashemite Charity Organization (JHCO).

Menurut Irsyad, lebih dari 2 juta warga Palestina menjadi pengungsi di Yordania. Mereka tersebar di beberapa titik lokasi yang dikelola lembaga Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang didedikasikan untuk memberikan perlindungan dan pelayanan bagi pengungsi Palestina.

“Mereka tinggal dengan bantuan yang diberikan oleh lembaga-lembaga kemanusiaan. Yordania sebagai negara dengan jumlah pengungsi Palestina terbanyak, juga memiliki lembaga untuk memberikan bantuan bagi program-program sosial, khususnya untuk pengungsi Palestina,” katanya.

BAZNAS, lanjut dia, memberikan bantuan bagi pengungsi Palestina dalam bentuk penyaluran dana zakat sebesar 150.000 dolar AS melalui JHCO dan 150.000 dolar AS melalui UNRWA pada 2018.

“Kini beberapa program telah diimplementasikan seperti bantuan obat-obatan dan sarana pendidikan bagi anak-anak pengungsi Palestina,” katanya.

Irsyad menjelaskan, lokasi bantuan BAZNAS berada di empat tempat pengungsian di Yordania yang dikerjasamakan dengan JHCO. Yaitu, Hettien Camp yang dibangun pada 1968, berlokasi di Provinsi Zarka dan ditinggali oleh 54.876 pengungsi.

“Para pengungsi tidak memiliki pendapatan yang cukup, sehingga sangat bergantung pada bantuan dari luar. Terdapat empat klinik di mana dua di antaranya dikelola UNRWA dan dua klinik lainnya dikelola Jordan Medical Aid for Palestinians (JMAP). Bantuan BAZNAS untuk kamp ini dalam bentuk obat-obatan,” katanya.

Kemudian, lanjut Irsyad, Gaza Camp yang dibangun tahun 1968, terletak di Provinsi Jerash dan ditinggali 37.000 pengungsi. Para pengungsi di sini tergolong sangat miskin dibandingkan dengan pengungsi di kamp lainnya.

“Masih minimnya akses pendidikan dan layanan publik dan juga minimnya infrastruktur dan layanan lainnya, mengakibatkan kualitas hidup yang kurang baik. Terdapat dua klinik yang dibangun UNRWA dan JMAP di sana. Bantuan BAZNAS diberikan di kamp ini dalam bentuk obat-obatan,” ujarnya.

Selanjutnya, papar dia, Kamp Alwehdat yang dibangun tahun 1955, berlokasi di Provinsi Amman dan ditinggali oleh 58.311 pengungsi, sehingga tempat ini dikenal sebagai kamp dengan jumlah pengungsi terbanyak di Yordania.

“Terdapat dua klinik dan 19 klinik swasta, satu pusat rehabilitasi untuk difabel yang mayoritas anak-anak, serta klinik pendengaran untuk memberikan bantuan alat pendengaran,” katanya.

Bantuan BAZNAS diberikan di kamp ini khususnya untuk pusat rehabilitasi dan klinik pendengaran dalam bentuk peralatan dan bahan untuk klinik seperti matras, perban, otoskop, papan braille dan sebagainya.

Irsyad menambahkan, Kamp Altalbiyeh yang dibangun pada 1968, berlokasi sekitar 40 kilometer ke arah selatan Kota Amman dan ditinggali oleh 25.000 pengungsi.

“Terdapat dua klinik dan satu pusat rehabilitasi untuk difabel, khususnya anak-anak. Bantuan BAZNAS diberikan di camp ini dalam bentuk penyediaan klinik mata dan klinik THT,” katanya. (T/R06/R01)

Mi’raj News Agency (MINA)