Papan Reklame untuk Menghormati Pahlawan Medis di Gaza

Lembaga Advokasi Palestina meluncurkan sebuah kampanye papan reklame (billboard) untuk menghormati pahlawan atas pengorbanan para petugas medis Palestina yang gugur saat bertugas.

Para petugas medis dinilai mempertaruhkan nyawa demi menyelamatkan dan mengobati para pengunjuk rasa dalam demonstrasi “Great March of Return” yang sedang berlangsung di Gaza.

Menurut media Palistina, Palestine News Network (PNN) pada Sabtu (27/10) menyatakan, sejauh ini, hampir 120 petugas medis yang ditembak oleh penembak jitu Israel ketika mencoba untuk merawat para demonstran yang terluka, salah satu di antaranya yaitu Razan Al-Najjar (21 tahun) yang harus kehilangan nyawanya.

Nazar dibunuh saat mengenakan jas perawat putihnya dan mengangkat tangannya untuk menunjukkan bahwa dia tidak bersenjata. Billboard yang dibuat lembaga Advokasi Palestina menampilkan fotonya dengan teks, “Menghormati Para Responden Pertama Gaza” dan “Menyelamatkan nyawa di bawah tembakan Israel”.

Sementara itu, Pendiri Proyek Advokasi Palestina, Richard Colbath-Hess menjelaskan bahwa “tujuan dari billboard adalah untuk meningkatkan kesadaran tentang keberanian dan ketabahan Razan dan relawan lainnya yang mempertaruhkan hidup mereka untuk mendukung warga Gaza yang menderita di bawah pengaruh bencana dari blokade Israel yang didukung AS.”

Colbath-Hess mencatat bahwa pemerintah Amerika Serikat (AS) telah memungkinkan blokade Israel dan serangan militer dengan menyediakan lebih dari $ 3,8 miliar setiap tahun dalam bantuan militer.

Kampanye Great March of Return yang sedang berlangsung dimulai pada 30 Maret 2018. Tujuannya untuk mengakhiri pengepungan dan blokade Gaza yang terus berlangsung dan mengakibatkan kondisi tidak manusiawi di daerah kantong pantai itu. Aksi protes juga bertujuan mengembalikan hak warga Gaza untuk kembali ke tanah mereka, sebab nenek moyang mereka dipaksa pergi pada tahun 1948.

Meskipun sebagian besar pengunjuk rasa tidak bersenjata, Pasukan Pertahanan Israel (IDF) terus menembak tanpa pandang bulu pada warga sipil yang damai di daerah kantong yang diblokade.

Menurut pejabat kesehatan di Gaza, tercatat pada 1 Oktober 2018, pasukan Israel telah menewaskan sedikitnya 190 orang Palestina dan melukai lebih dari 21.000. Korban termasuk anak-anak, orang tua, dan orang cacat, serta jurnalis dan medis seperti Razan.

Warga Gaza hidup dalam beberapa kondisi kemanusiaan terburuk di dunia, dengan mayoritas anak-anak di kawasan itu menderita kekurangan gizi dan hampir setengah dari semua orang dewasa tanpa akses kepada makanan yang dapat diandalkan. Penduduk Gaza bertahan hidup dengan 97 persen pasokan air yang terkontaminasi dan hanya menerima empat jam listrik per hari.

Perserikatan Bangsa-Bangsa telah memperingatkan bahwa daerah itu bisa menjadi “tidak bisa dihuni” pada 2020 akibat dari blokade Israel dan penghancuran infrastruktur sipil. Gaza sering disebut sebagai daerah penjara terbuka terbesar di dunia. (AT/R10)

Sumber: Palestine News Network

Mi’raj News Agency (MINA)