Israel Didesak Dikeluarkan dari Festival Film Selandia Baru

Wellington, MINA – Para Pembuat film internasional telah meminta Doc Edge Festival di Selandia Baru, untuk mengusir Israel dan membatalkan kemitraan festival dengan Kedutaan Besar apartheid Israel yang melakukan pelanggaran hak asasi manusia sistematis terhadap Palestina.

“Sebagai pembuat film dan peserta Festival Film Doc Edge, kami sangat prihatin dengan berlanjutnya penerimaan festival atas pendanaan dan dukungan resmi dari Kedutaan Besar Israel. Ini adalah afiliasi ofensif dan tidak dapat diterima serta tidak kami dukung,” kata para penandatangan surat kepada manajemen festival, MEMO melaporkan, Rabu (22/6)..

“Banyak organisasi hak asasi manusia menyimpulkan kebijakan sistemik, praktik, dan pelanggaran hak asasi manusia Israel memenuhi definisi hukum apartheid,” kata mereka.

Para penandatangan termasuk Cole Yeoman, Direktur dan Produser Milford Road; Gabriel Shipton, Direktur Ithaka dan saudara Julian Assange; dan Haidy Kancler, Sutradara dan Penulis Melting Dreams.

Mereka merujuk pada tindakan Israel baru-baru ini terhadap Palestina, mencatat bahwa selama sebulan terakhir saja, Israel mengumumkan pembersihan etnis lebih dari 1.000 lebih warga Palestina, rencana lampu hijau membangun hampir 4.500 rumah lagi di pemukiman ilegal Israel, serta membunuh jurnalis Al Jazeera Palestina Shireen Abu Akleh, menyerang pengusung jenazah dan pelayat di pemakamannya.

Dengan berafiliasi bersama Israel, kata mereka, Doc Edge melegitimasi rezim apartheid yang menjijikkan dan rasis.

Menurut mereka, ini adalah kontradiksi terang-terangan dengan semangat festival.

Selain itu, penandatangan juga menolak klaim manajemen festival bahwa itu “apolitis” dan bertujuan  “memfasilitasi dialog”, serta mencatat bahwa penyelenggara festival “telah secara aktif memilih” menerima dana dari pemerintah Israel dan menghindari terlibat dengan mereka yang ‘ telah menyatakan keprihatinan atas pendanaan tersebut sejak awal 2018.

“Afiliasi yang teguh dengan pemerintah apartheid mendiskreditkan gagasan menjadi apolitis. Ini bukan masalah ‘penyensoran’ atau ‘kelompok penekan’, ini masalah Israel menggunakan budaya dan seni sebagai bentuk propaganda, mengumpulkan citra kecanggihan dan filantropi untuk menutupi kejahatannya yang menjijikkan dan membenarkan apartheid,” kata mereka.

Perhatian utama para penandatangan bukanlah pengaruh Israel dalam pemilihan festival, mereka bersikeras, tetapi kredibilitas dan legitimasi yang diperoleh Israel dari dukungan dan platform Doc Edge.

“Seruan kami bukan untuk memihak atau menyensor film, ini untuk mengakui hak asasi manusia dan menjaga ruang budaya kami bebas dari bahaya dan normalisasi rasisme dan penjajahan,” tegasnya.

Surat itu sendiri terinspirasi gerakan internasional yang berkontribusi untuk mengakhiri apartheid di Afrika Selatan puluhan tahun lalu.

Sangat penting untuk memobilisasi tekanan tanpa kekerasan pada Israel untuk mengakhiri apartheid, penganiayaan dan pendudukan ilegal terhadap Palestina, membuat ‘status quo’ cukup nyaman bagi Israel untuk peduli, dan berubah.

Ini adalah solidaritas yang kuat dengan rakyat Palestina dan pengakuan global atas hak asasi manusia/

“Kami meminta Doc Edge untuk mengakhiri afiliasinya dengan Kedutaan Israel apartheid dan melepaskan hubungan yang mendukung dan melegitimasi penganiayaan sistemik dan rasis terhadap warga Palestina,” ujar mereka. (T/R7/P1)

 

Mi’raj News Agency (MINA)

=====
Ingin mendapatkan update berita pilihan dan info khusus terkait dengan Palestina dan Dunia Islam setiap hari dari Minanews.net. Yuks bergabung di Grup Telegram "Official Broadcast MINA", caranya klik link https://t.me/kbminaofficial, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.