Para Pemimpin Teluk Kumpul di Saudi untuk Hasilkan Terobosan

Kuwait, MINA – Para pemimpin Teluk terbang ke Arab Saudi pada Selasa (5/1) untuk pertemuan puncak yang dapat menghasilkan lebih banyak terobosan dalam krisis regional, setelah Riyadh membuka kembali perbatasannya untuk Doha meskipun masih ada permusuhan antara tetangga.

Arab Saudi memimpin koalisi negara-negara di Teluk dan sekitarnya memutuskan hubungan diplomatik dan hubungan transportasi dengan Qatar pada Juni 2017. Riyadh menuduh bahwa Qatar terlalu dekat dengan Iran dan mendukung kelompok-kelompok Islam radikal, tuduhan yang selalu dibantah oleh Doha.

Negara-negara tersebut, bersama dengan Oman dan Kuwait yang telah menjadi penengah antara kedua belah pihak, akan bertemu di kota Al-Ula, Saudi, setelah konsesi pada Senin malam meningkatkan harapan untuk kesepakatan yang lebih luas.

“Langkah-langkah membangun kepercayaan tampaknya dimulai dengan Saudi dan Qatar, tetapi sisanya akan bergabung bahkan jika nanti,” kata asisten profesor Universitas Kuwait Bader al-Saif, Nahar Net melaporkannya.

“Setiap langkah menuju rekonsiliasi lebih baik daripada tidak sama sekali. Dewan Kerjasama Teluk (GCC) membutuhkan pengaturan ulang besar-besaran dan dapat menawarkan lebih dari yang dimilikinya,” tambahnya.

Washington telah meningkatkan tekanan untuk resolusi terhadap apa yang disebut Doha sebagai “blokade”, bersikeras bahwa persatuan Teluk diperlukan untuk mengisolasi Iran sebagai musuh AS.

Jared Kushner, menantu Trump dan penasihat senior yang berkeliling di kawasan itu untuk mencari kesepakatan, akan menghadiri penandatanganan perjanjian “terobosan” pada Selasa, kata seorang pejabat AS.

“Pemerintahan Trump pasti akan mengklaim ini sebagai kemenangan lain,” kata pengamat Royal United Services Institute Tobias Borck. Ia menekankan bahwa kedua belah pihak belum menormalisasi hubungan. (T/RI-1)

 

Mi’raj News Agency (MINA)