Pasca-Ledakan, Pengungsi Palestina di Lebanon Butuh Bantuan Darurat Internasional

Pengungsi Palestina di Lebanon (foto: spesial)

Beirut, MINA – Claudio Cordone, Direktur Badan Bantuan dan Pekerjaan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA) di Lebanon mengatakan, para pengungsi Palestina membutuhkan bantuan darurat internasional pasca-ledakan di pelabuhan Beirut pada Selasa (4/8) lalu.

“Setiap orang di Lebanon yang terkena dampak ledakan di Beirut mengalami traumatis, termasuk pengungsi Palestina. Komunitas bantuan internasional harus segara memasukkan pengungsi Palestina dalam pihak yang mendapatkan bantuan tanggap darurat,” kata Clauido sepertid dikutip dara Wafa, Ahad (9/8).

Oleh karena itu, perlunya memastikan pengungsi Palestina terus menerima bantuan tunai yang sangat dibutuhkan agar mereka dapat membeli makanan dan tetap aman.

“Setiap dolar yang diterima UNRWA di Lebanon akan digunakan untuk mendukung keluarga pengungsi Palestina. UNRWA juga akan membutuhkan dukungan keuangan untuk meningkatkan pemulihan ekonomi dan mata pencaharian  para pengungsi Palestina,” tambah Claudio.

Pengungsi Palestina termasuk yang paling rentan di Lebanon, banyak dari mereka sangat bergantung pada bantuan tunai darurat dari UNRWA untuk dapat memberi makan keluarga mereka.

UNRWA khawatir, setelah ledakan itu akan menenggelamkan orang-orang rentan, seperti pengungsi Palestina ke dalam keputusasaan.

Ledakan yang terjadi pada Selasa (4/8) telah menghancurkan Pelabuhan Beirut beserta gudang-gudang penyimpanan. Pelabuhan itu merupakan titik masuk barang ke Lebanon, negara yang mengimpor sebagian besar bahan konsumsi penduduknya.

Insiden tragis tersebut adalah yang terbaru dari serangkaian peristiwa yang telah menjerumuskan Lebanon ke dalam krisis eksistensial paling serius dalam sejarahnya.

Selain itu, negara tersebut juga sedang mengahadapi dampak dari pandemi COVID-19 yang menyebabkan krisis ekonomi, kesehatan dan mata pencaharian masyarakat. Sementara itu krisis politik dan konflik internal dan eksternal, serta keamanan nasional jadi masalah pula. (T/RE1/P1)

Mi’raj News Agency (MINA)