Pasukan Kemanan Saudi Tembak Mati Dua Teroris ISIS Paling Berbahaya

Foto: Arab News

Riyadh, 9 Rabi’ul Akhir 1438/8 Januari 2017 (MINA) – Dua teroris tewas pada Sabtu (7/12) setelah terlibat baku tembak dengan pasukan keamanan Arab Saudi di Distrik Al-Yasmeen, sebelah utara ibu kota Riyadh.

Para militan bernama Tayea Salem bin Yaslam Al-Sayari dan Talal bin Samran Al-Saedi, yang bersenjatakan senapan serbu Kalashnikov, menembak secara acak ke arah polisi dan mencoba melarikan diri dengan mobil patroli keamanan.

Seorang polisi, datang dari arah belakang mobil patroli, mengejar dua teroris dan berhasil membunuh mereka. Petugas terluka ringan dan dibawa ke rumah sakit untuk perawatan.

“Teroris Tayea Salem bin Yaslam Al-Sayari tewas dalam baku menembak dengan pasukan keamanan setelah mencoba melarikan diri dengan temannya Talal bin Samran Al-Saedi,” kata juru bicara keamanan Kementerian Dalam Negeri Mayjen Mansour Al-Turki kepada Arab News yang dikutip MINA.

Kementerian Dalam Negeri mengatakan kedua tersangka militan itu melepaskan tembakan ke arah polisi setelah dikepung di permukiman Yasmeen di bagian utara Riyadh, memaksa aparat keamanan membalas tembakan itu dan membunuh mereka.

Kementerian merilis foto-foto rompi bunuh diri yang dilengkapi bahan peledak, beberapa senjata api dan amunisi yang ditemukan. Sejumlah bahan peledak lain ditemukan di dalam rumah tempat kedua laki-laki itu bersembunyi, dan diperkirakan bahan peledak itu akan dirakit menjadi bom.

Sumber-sumber keamanan menegaskan Al-Sayari adalah salah satu teroris paling berbahaya yang masuk daftar perburuan otoritas keamanan.

Dia juga salah satu kunci militan yang terkait ISIS yang membuat bom dan sabuk peledak. Selain itu, Al-Sayari dicari karena keterlibatannya dalam serangan teroris tahun lalu di masjid pasukan darurat di wilayah Asir.

Arab Saudi menghadapi serangkaian serangan dari afiliasi ISIS setempat. Ancaman kelompok militan Daesh di negara kerajaan itu merupakan yang paling serius yang dihadapi sejak keberadaan kelompok Al-Qaeda lebih dari 10 tahun lalu. (R11/P1)

Miraj Islamic News Agency (MINA)