Pawai Bendera Israel di Kota Tua Dijadwal Ulang Pekan Depan

Yerusalem, MINA – Pejabat Israel hari Rabu  (9/6) ini, mengumumkan akan mengizinkan pawai bendera oleh sayap kanan melalui Kota Tua Yerusalem dengan  dijadwal ulang jadi pekan depan, setelah sebelumnya sempat dibatalkan karena kekhawatiran adanya ketegangan baru antara negara pendudukan dan kelompok perlawanan Palestina di Gaza.

Sebelumnya, Hamas telah memperingatkan agar pawai melalui kawasan Muslim Kota Tua itu tidak dilakukan, MEMO melaporkan.

Kemudian Tentara mengatakan pada hari Senin (7/6) bahwa izin untuk pawai yang akan diadakan telah dicabut. Rute alternatif mungkin dipertimbangkan.

Namun,  pertemuan kabinet Perdana Menteri Benjamin Netanyahu pada Selasa (8/6), mengatakan para menteri telah sepakat pawai dapat diadakan pada hari Selasa 15 Juni jika penyelenggara dan polisi mencapai kesepakatan.

Peringatan Hamas datang dari Wakil Kepala Biro Politik gerakan itu, Khalil Al-Hayya. Dia mengatakan, jika prosesi pawai di dekat Masjid Al-Aqsha dan Yerusalem Timur, maka apa yang terjadi pada 10 Mei bisa terulang. Itu adalah awal dari putaran terakhir kekerasan yang dipimpin Israel terhadap Palestina. Selama 11 hari pemboman Israel berikutnya di Gaza, setidaknya 254 warga Palestina, termasuk 66 anak-anak, tewas.

Dikenal sebagai Pawai Bendera, unjuk rasa tahunan ini diikuti orang-orang Israel ultra-nasionalis sayap kanan yang membanjiri daerah-daerah Muslim merayakan penaklukan Yerusalem Timur oleh pasukan pendudukan Zionis menyusul gelombang kedua pembersihan etnis pada tahun 1967.

Meneriakkan “kematian bagi orang Arab” dan bernyanyi lagu-lagu rasis dan sangat ofensif, ribuan orang biasanya terlihat berparade melalui wilayah Muslim membawa bendera Israel.

Anggota parlemen sayap kanan Itamar Ben-Gvir, seorang tokoh terkemuka di partai sayap kanan Israel Otzma Yehudit, menolak penundaan pawai itu sebagai “menyerah kepada Hamas”. Dia bersikeras bahwa dia akan menuju Kota Tua dengan benderanya besok seperti yang direncanakan.

Israel menduduki Yerusalem Timur pada tahun 1967 dan mencaplok seluruh kota pada tahun 1980, sebuah langkah ilegal yang tidak pernah diakui oleh masyarakat internasional. (T/R7/P1)

 

Mi’raj News Agency (MINA)