PBB: 40 Anak Tewas Selama Aksi di Perbatasan Gaza

New York, MINA – Setidaknya 40 anak telah tewas dan banyak yang terluka selama satu tahun aksi demonstrasi di sepanjang perbatasan antara Jalur Gaza dan Israel, kata PBB pada hari Kamis (28/3), yang menyerukan “de-eskalasi mendesak”.

Ribuan warga Palestina telah berkumpul setidaknya setiap pekan di sepanjang perbatasan dalam aksi protes yang menyebabkan bentrokan mematikan dengan militer Israel, lapor Alarabiya, Jumat (29/3).

Para demonstran menyerukan agar Israel mencabut blokade yang telah berlangsung lebih dari satu dekade di Gaza yang melumpuhkan.

Aksi juga menuntut para pengungsi diizinkan untuk kembali ke rumah keluarga mereka yang melarikan diri pada akhir 1940-an selama pendirian negara Yahudi.

Sekitar 40 anak-anak telah terbunuh dalam protes dan “hampir 3.000 lainnya telah dirawat di rumah sakit dengan cedera, banyak yang menyebabkan cacat seumur hidup,” kata badan anak-anak PBB (UNICEF).

“UNICEF mengulangi kemarahannya karena jumlah anak sangat tinggi yang terbunuh dan terluka akibat konflik bersenjata 2018,” kata direktur Timur Tengah UNICEF Geert Cappelaere.

Dia meminta kedua belah pihak untuk “memastikan anak-anak tidak menjadi sasaran”.

“Mengeksploitasi anak-anak yang kurang memiliki tujuan dan kerentanan atau memasukkan mereka ke dalam kekerasan adalah pelanggaran terhadap hak-hak anak.”

Secara total, 258 warga Palestina telah terbunuh oleh tembakan Israel di Gaza sejak protes dimulai, sebagian besar selama bentrokan perbatasan.

Dua tentara Israel juga terbunuh dalam periode yang sama.

Israel mengatakan tanggapannya diperlukan untuk mempertahankan perbatasan dan menuduh Hamas, yang telah berperang dengan tiga perang, mengatur kekerasan di sana.

Pernyataan UNICEF itu menyusul ketegangan hebat selama pekan ini antara Hamas dan Israel, dengan serangan roket dari Jalur Gazadan juga serangan udara oleh Israel.

Aksi protes massa perbatasan yang direncanakan pada hari Sabtu 30/3 besok untuk memperingati ulang tahun pertama demonstrasi telah menimbulkan kekhawatiran terjadinya ketegangan lebih lanjut. (T/B05/P1)

Mi’raj News Agency (MINA)