Jenewa, MINA – Dewan Keamanan PBB memutuskan dengan suara bulat pada Kamis (28/8) untuk memperpanjang mandat Pasukan Sementara PBB di Lebanon (UNIFIL) selama dua tahun lagi. Setelah itu, misi tersebut mulai ditarik secara bertahap selama tahun 2027, dengan Angkatan Bersenjata Lebanon akan memikul tanggung jawab penuh atas keamanan di selatan.
UNIFIL pertama kali dibentuk pada tahun 1978 setelah invasi Israel ke Lebanon selatan. UNIFIL diperkuat secara signifikan setelah perang Israel di Lebanon tahun 2006, mengambil peran yang lebih luas dalam memantau penghentian permusuhan, membantu tentara Lebanon, dan mendukung akses kemanusiaan.
Pada puncaknya, pasukan ini mengerahkan 15.000 tentara dari lebih dari 40 negara.
Resolusi baru yang dirancang oleh Prancis ini menetapkan 31 Desember 2026 sebagai tanggal akhir mandat misi tersebut. Resolusi ini menginstruksikan UNIFIL untuk mengoordinasikan proses keluar yang “tertib dan terorganisir” dengan otoritas Lebanon, sekaligus menegaskan kembali seruan PBB yang telah lama disuarakan agar Israel menarik diri dari wilayah Lebanon yang diduduki dan agar semua pihak menghormati Garis Biru, perbatasan yang ditetapkan oleh PBB
Baca Juga: Boikot Bikin Domino’s Pizza Rugi untuk Pertama Kalinya dalam Beberapa Dekade
Perdana Menteri Lebanon Nawaf Salam menyambut baik keputusan tersebut sebagai kesempatan untuk memulihkan kedaulatan negara, sekaligus menekankan bahwa transisi yang mulus sangat penting.
“Kita harus memperkuat lembaga-lembaga nasional kita untuk mengisi kekosongan yang akan ditinggalkan,” ujarnya dalam pernyataan yang dilaporkan oleh media lokal.
Sebaliknya, Israel telah lama menyuarakan rasa frustrasinya terhadap UNIFIL, menuduhnya gagal menghentikan Hezbollah membangun basis di sepanjang perbatasan. Para pejabat di Tel Aviv kembali menegaskan kekhawatiran tersebut setelah pemungutan suara hari Kamis, dengan alasan misi tersebut tidak efektif dalam mengekang kehadiran militer kelompok tersebut di selatan.
Keputusan untuk membatasi mandat mencerminkan apa yang digambarkan para diplomat sebagai konsensus langka di antara anggota Dewan Keamanan. Hal ini juga menandakan pergeseran dari perpanjangan mandat tanpa batas waktu menuju strategi keluar yang jelas.
Baca Juga: Penjualan Starbucks di Malaysia Anjlok 36% Dampak Aksi Boikot
Para pendukung resolusi tersebut mengatakan perpanjangan dua tahun memberi Beirut waktu untuk mempersiapkan militernya menghadapi transisi dan menghindari kekosongan keamanan yang tiba-tiba.
Pemerintahan Trump menjadi pendukung paling vokal untuk mengakhiri UNIFIL, dengan alasan misi tersebut gagal menahan Hezbollah dan tidak lagi membenarkan biaya tahunannya yang mencapai sekitar setengah miliar dolar.
Washington telah mendesak jadwal yang jelas untuk mengakhirinya dan mengisyaratkan bahwa pendanaan AS yang berkelanjutan tidak dapat dijamin setelah tahun 2026, sebuah sikap yang turut membentuk resolusi yang diadopsi pada Kamis.
UNIFIL saat ini mengerahkan sekitar 10.000 tentara, yang sering terjebak dalam insiden lintas batas di tengah ketegangan berkala antara Israel dan Hezbollah. Kehadiran misi tersebut dianggap mampu membatasi eskalasi, meskipun para kritikus mempertanyakan efektivitas jangka panjangnya.
Baca Juga: Dewan Keamanan PBB Tuntut Gencatan Senjata Permanen Tanpa Syarat di Gaza
Dengan menetapkan tanggal berakhirnya misi, PBB telah mulai menutup babak baru bagi salah satu operasi penjaga perdamaian terlama yang pernah dijalankannya. Bagi Lebanon, tantangannya kini terletak pada memastikan bahwa penarikan pasukan internasional tidak mengganggu stabilitas kawasan yang telah dilanda konflik berulang sejak UNIFIL pertama kali dikerahkan hampir lima dekade lalu. []
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: Tiga Anak Terluka Akibat Ledakan Bom Sisa di Provinsi Badghis, Afghanistan