PBB Khawatir Adanya Kekejaman Massal di Myanmar Utara

Yangon, MINA – Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengatakan  khawatir akan bencana hak asasi manusia yang lebih besar di Myanmar, di tengah laporan adanya ribuan tentara berkumpul di utara negara itu yang telah berada dalam kekacauan sejak kudeta Februari.

Dikutip dari AlJazeera pada Ahad (24/10), pelapor Khusus PBB untuk Myanmar Tom Andrews, yang mempresentasikan temuan laporan hak asasi manusia tahunan tentang Myanmar kepada Majelis Umum PBB mengatakan, dia telah menerima informasi bahwa puluhan ribu tentara dan senjata berat sedang dipindahkan ke daerah bergolak di Myanmar utara dan barat laut.

Temuan itu, katanya, juga menunjukkan bahwa pemerintah militer telah terlibat dalam kemungkinan kejahatan terhadap kemanusiaan dan kejahatan perang.

“Kita semua harus siap, karena orang-orang di bagian Myanmar ini siap, untuk kejahatan kekejaman massal yang lebih banyak lagi. Saya sangat berharap bahwa saya salah,” kata Andrews dalam laporannya pada Jumat (22/10).

Lebih dari 1.100 warga sipil tewas dalam tindakan keras berdarah di negara itu terhadap penentang junta dan lebih dari 8.000 ditangkap sejak kudeta, menurut kelompok pemantau lokal.

“Taktik ini sangat mengingatkan pada taktik dahulu yang digunakan  militer sebelum serangan genosida terhadap Rohingya di Negara Bagian Rakhine pada 2016 dan 2017,” kata Andrews.

Pada tahun 2017, sekitar 740.000 orang Rohingya melarikan diri dari negara bagian Rakhine Myanmar setelah pasukan keamanan melakukan tindakan keras yang menurut PBB mungkin sama dengan genosida.

Pada Senin lalu, Pemimpin Junta Militer Myanmar Jenderal Senior Min Aung Hlaing mengumumkan pembebasan lebih dari 5.000 orang yang dipenjara karena memprotes kudeta.

Langkah itu dilakukan hanya beberapa hari setelah Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN) menyatakan tidak akan mengundang rezim militer itu ke pertemuan puncak blok 10 negara itu yang akan datang.

Christine Schraner Burgener, utusan khusus PBB untuk Myanmar, mengatakan kepada Al Jazeera bahwa dia khawatir perang saudara akan pecah di negara itu.

“Orang-orang sekarang dilengkapi dengan iPhone dan sumber informasi utama di Myanmar adalah Facebook dan Twitter,” katanya.

“Mereka sangat bertekad untuk tidak menyerah. Dan jika mereka tidak menyerah, dan jika mereka sangat marah untuk menggunakan kekerasan, maka kekerasan itu akan menciptakan lebih banyak kekerasan” yang akan mengarah pada “konflik bersenjata internal yang besar”, tambah Burgener.

Andrews mengatakan, pasukan Myanmar telah menelantarkan seperempat juta orang. Banyak dari mereka yang ditahan disiksa, termasuk puluhan orang yang meninggal sebagai akibatnya.

Ia menambahkan, pihaknya telah menerima laporan yang dapat dipercaya bahwa anak-anak juga telah disiksa. (T/R6/P1)

Mi’raj News Agency (MINA)