PBB : Koalisi AS Diduga Lakukan Kejahatan Perang di Suriah

New York, MINA – Komisi Penyelidikan Perserikatan Bangsa- Bangsa (PBB) tentang Suriah merilis laporan setebal 21 halaman pada Rabu (11/9) yang mengatakan, koalisi yang dipimpin Amerika Serikat (AS), Suriah dan Rusia diduga melakukan kejahatan perang.

Menurut laporan itu, serangan udara oleh koalisi yang dipimpin AS tidak atau gagal mengambil langkah-langkah yang cukup untuk membedakan warga sipil dari target militer.

“Meluncurkan serangan tanpa pandang bulu yang mengakibatkan kematian atau cedera pada warga sipil sama dengan kejahatan perang dalam kasus-kasus di mana serangan semacam itu dilakukan secara sembarangan,” kata laporan itu, Anadolu Agency melaporkan.

Pasukan Demokrat Suriah (SDF) yang didukung oleh AS mengadakan operasi skala besar di Suriah yang “telah menyebabkan kehancuran kota dan desa,” menurut laporan itu.

Turki memandang SDF sebagai bagian dari YPG yang merupakan cabang Suriah dari kelompok teror PKK yang telah menewaskan lebih dari 40.000 orang termasuk bayi, anak-anak dan wanita dalam operasinya selama puluhan tahun.

Rezim Suriah dan Rusia juga dikutuk karena agresi mereka di provinsi barat laut Idlib, Suriah.

Turki dan Rusia sepakat September lalu untuk mengubah provinsi Idlib menjadi zona de-eskalasi di mana tindakan agresi secara tegas dilarang.

Namun, Suriah secara konsisten melanggar ketentuan gencatan senjata, meluncurkan serangan yang sering di dalam zona de-eskalasi.

Pihak-pihak ini, dalam laporan PBB dituduh menargetkan fasilitas kesehatan, sekolah, area pasar dan zona pertanian, yang kemungkinan adalah “kejahatan perang”.

Warga sipil yang menanggung beban agresi di Idlib oleh pemerintah dan Rusia ini berisiko bermigrasi ke negara-negara terdekat, khususnya Turki, yang saat ini menampung lebih dari 3,6 juta pengungsi Suriah.

Lebih dari 1.000 warga sipil tewas di dalam dan sekitar zona demiliterisasi Idlib selama empat bulan terakhir, menurut PBB yang mengatakan agresi lebih lanjut di kota itu dapat memicu tragedi kemanusiaan “lebih buruk daripada yang dialami pada tahun 2015,” mengacu pada masuknya massa pengungsi Suriah ke Turki dan Eropa.

Suriah mengalami perang saudara yang menghancurkan sejak 2011 ketika Assad menindak protes pro-demokrasi dengan keganasan yang tak terduga.

Sejak itu, ratusan ribu orang tewas dalam konflik itu, menurut angka PBB.

Laporan itu juga mencatat bahwa sekitar 13 juta orang telah terlantar, dengan 6,7 juta bermigrasi ke luar negeri dan 6,2 juta dari mereka menjadi pengungsi internal (IDP). (T/LM/Ast/RI-1)

Mi’raj News Agency (MINA)