PBB: Yaman Jadi Krisis Kemanusiaan Terburuk di Dunia

Foto: Anadolu

Jenewa, MINA – Seorang petugas informasi publik di kantor Urusan Kemanusiaan PBB Vanessa Huguenin mengatakan, Yaman masih menjadi krisis kemanusiaan terburuk di dunia dengan hampir 80% atau lebih dari 24 juta penduduknya membutuhkan bantuan dan perlindungan kemanusiaan, juga lebih dari 13 juta dalam bahaya kelaparan sampai mati.

Ia mengungkapkan, mengutip survei baru oleh Integrated Food Security Phase Classification (IPC) yang menunjukkan 16.500 orang hidup dalam kondisi kelaparan akut, angka yang diperkirakan akan meningkat hampir tiga kali lipat pada Juni 2021.

“Secara keseluruhan, 13,5 juta orang di Yaman saat ini berisiko mati kelaparan atau berjuang untuk mendapatkan cukup makanan untuk memberi makan keluarga mereka di tengah konflik yang sedang berlangsung,” katanya, demikian Anadolu Agency melaporkan, Selasa (13/1).

Huguenin menegaskan, mencegah kelaparan adalah prioritas utama saat ini. Setiap orang harus melakukan apa saja untuk mencegah kelaparan.

“Kami sudah tahu bagaimana menghentikan kelaparan di Yaman karena kami melakukannya dua tahun lalu ketika dunia memilih untuk membantu,” ujarnya.

Ia mencatat kata-kata kepala kemanusiaan PBB Mark Lowcock saat memberi pengarahan kepada Dewan Keamanan di New York pada 11 November.

Dia juga mengatakan, pada akhirnya, menyelesaikan krisis di Yaman akan membutuhkan solusi politik.

“Ini juga akan membutuhkan dukungan yang dapat diandalkan untuk ekonomi Yaman yang terpukul. Sementara itu, jutaan orang membutuhkan bantuan kemanusiaan untuk bertahan hidup,” jelas Huguenin.

Yaman telah dilanda kekerasan dan kekacauan sejak 2014, ketika pemberontak Houthi yang didukung Iran menguasai sebagian besar negara, termasuk ibu kota Sana’a.

Krisis meningkat pada 2015 ketika koalisi pimpinan Saudi meluncurkan kampanye udara yang bertujuan untuk menggulung kembali keuntungan teritorial Houthi.

Menurut Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan, konflik di Yaman sejauh ini telah merenggut nyawa 233.000 orang.

Pada 30 Desember tahun lalu, setidaknya 22 orang tewas dalam tiga ledakan yang mengguncang bandara di kota pelabuhan selatan Yaman, segera setelah anggota pemerintah yang baru dibentuk tiba di ibu kota sementara.

Sedikitnya 50 orang lainnya terluka dalam serangan itu, kata Kementerian Dalam Negeri Yaman dalam sebuah pernyataan.

Diantara korban adalah warga sipil, pekerja bandara, dan pejabat yang hadir di daerah itu untuk menyambut anggota kabinet, anggota pemerintah Yaman selamat dari serangan itu tanpa cedera. (T/Hju/R1)

 

Mi’raj News Agency (MINA)