Pegawai Beita Gelar Aksi Mogok Makan 24 Jam Dukung Tahanan Palestina

Kondisi di salah satu penjara Israel. (Doc. israeliprison)

Nablus, 30 Rajab 1438/27 April 2017 (MINA) – Para pegawai Pemerintah Kota (Pemkot) Beita, sebuah wilayah di selatan Distrik Nablus, utara Tepi Barat yang diduduki, mengumumkan, Rabu (26/4), mereka akan melakukan aksi mogok makan selama 24 jam dalam solidaritas dengan sekitar 1.500 tahanan Palestina yang juga sedang menggelar Mogok Makan selama 10 hari.

Walikota Beita Wassef Mualla mengatakan kepada Ma’an News yang dikutip MINA, semua anggota dan pegawai akan mulai melakukan aksi pada Kamis pagi ini.

“Aksi ini untuk menyampaikan pesan yang kuat dan jelas kepada semua tahanan Palestina di penjara Israel bahwa kami bersama mereka di dalam penjara-penjara (Israel). Aksi mogok makan sampai mereka mendapatkan semua hak-hak mereka yang sah,” jelasnya.

Mualla meminta semua orang Palestina untuk mengambil langkah konkret untuk menunjukkan solidaritas dengan tahanan Palestina, yang sedang menggelar protes atas tindakan penyiksaan, perlakuan buruk, dan pengabaian medis terhadap tahanan di tangan otoritas Israel.

Selain itu, pemberlakuan penahanan administratif secara luas oleh Israel tanpa pengadilan atau dakwaan.

Gerakan Fatah, inisiator aksi, menyerukan aksi mogok makan massal dapat digelar di wilayah Palestina yang diduduki pada hari Kamis dalam solidaritas dengan para tahanan Palestina.

Fatah juga menyerukan pada hari Jumat menjadi “hari kemarahan,” mendesak rakyat Palestina untuk “melakukan perlawanan terhadap penjajah” pada hari itu.

Pada pekan lalu, seorang remaja Palestina ditahan di persimpangan jalan raya Beita pekan lalu karena pasukan Israel berusaha mencegah puluhan jamaah dari Beita dan daerah sekitarnya melakukan sholat Jum’at di persimpangan jalan sebagai bentuk demonstrasi solidaritas dengan tahanan mogok makan.

Otoritas Israel telah menahan sekitar satu juta orang Palestina sejak berdirinya negara sepihak Israel pada 1948 lalu.

Israel kemudian mencaplok Tepi Barat, Al-Quds Timur, dan Jalur Gaza pada tahun 1967.

Menurut laporan organisasi hak asasi manusia Addameer pada Maret lalu, sekitar 6.300 warga Palestina masih ditahan di penjara-penjara Israel. (T/R01/RS3)

Mi’raj Islamic News Agency (MINA)