Pemberantasan Buta Huruf: Sebuah Peluang Kerja Sama Internasional (Oleh: Moehammad Amar Ma’ruf)

Artikel dibuat penulis (kanan) setelah pertemuan dengan Direktur Pembinaan Pendidikan Keaksaraan dan Kesetaraan (Direktur Bindiktara) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), Dr. Abdul Kahar (kiri). (Foto: Istimewa)

Oleh: Moehammad Amar Ma’ruf: Fungsional Diplomat Ahli Madya-Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia*

Manusia mungkin belum semuanya menyadari bahwa membaca/menulis itu merupakan pesan yang tertua dari sebuah perjalanan peradaban manusia. Pesan itu sendiri turun dari Sang Pencipta kepada manusia agar manusia tersebut mendapatkan pengetahuan tentang proses dan tujuan dari penciptaannya di dunia bahkan proses penciptaan alam semesta bagi dirinya.

Kemampuan membaca itu sendiri sudah menjadi bagian dari Hak Dasar/Asasi yang harus dimiliki oleh seorang warga dunia, melalui proses pemberian pendidikan. Dengan pendidikan, manusia itu diharapkan akan dapat membaca pada tingkatannya dan manusia tersebut diharapkan mempunyai pemahaman dan kemampuan terhadap suatu hal guna dapat dimanfaatkan bagi keberlangsungan hidup manusia dan lingkungannya itu ke arah yang lebih baik.

Sungguh miris ketika kita yang kini hidup di dunia yang telah diwarnai berbagai penemuan teknologi modern berteknologi tinggi, masih melihat tingginya sumber daya manusia yang tergolong tidak melek huruf (iliteracy). Kondisi tersebut secara umum diketemukan di negara-negara yang belum berkembang maupun yang sedang berkembang.

Sementara di negara-negara maju tingkat buta huruf dapat dikatakan sangat kecil. Kondisi demikan, secara otomatis akan mempengaruhi tingkat kapasitas pembangunan manusia dan bangsa itu sendiri di dalam menghadapi perkembangan dunia yang dipenuhi dengan dinamika.

Ada beberapa penyebab yang disinyalir menyebabkan suatu masyarakat di suatu negara penduduknya masih buta huruf. Lembaga PBB di Bidang Pendidikan UNESCO 2018 pada laporan tahunannya menyebutkan bahwa beberapa penyebab tingginya buta huruf tersebut disebabkan antara lain akses ke dunia pendidikan masih sangat terbatas dan kurangnya keberadaan tenaga pengajar yang terlatih. Namun demikian, masih ada beberapa sebab artificial lain yang juga sangat mempengaruhi tingginya buta huruf suatu penduduk, yakni adanya peristiwa penjajahan (baca: pembodohan) dan konflik/peperangan oleh suatu bangsa terhadap suatu bangsa dengan tujuan politik tertentu sehingga suatu penduduk menjadi terasing dan terbelakang.

Kejadian lain yang juga dapat menyebabkan hilangnya kemampuan suatu penduduk untuk membaca adalah Bencana Alam yang terjadi akibat perbuatan manusia ataupun yang ditimpakan sehingga menyebabkan hilangnya peradaban suatu kaum berikut sarana/prasarana dalam waktu lama dan baru diketemukan sebagai bahagian dari sejarah tempo dulu. Sementara, warga-warga yang masih hidup seringkali masih menghadapi keterbelakangan dan kelangkaan sarana dan prasarana pendidikan.

Berdasarkan catatan sejarah tentang peradaban manusia dari Era Kekaisaran Byzantium, Romawi dan Islam hingga saat kontemporer ini menunjukkan adanya pergulatan ilmu pengetahuan yang cukup lebar. Pergulatan yang kemudian menimbulkan gap/jurang ini sendiri terjadi karena adanya peperangan dan bencana yang meluluhlantahkan suatu peradaban sehingga membutuhkan beberapa generasi kembali untuk tumbuh menjadi suatu masyarakat yang melek huruf.

Untuk contoh kasus di atas, banyak diketemukannya di kawasan Timur Tengah/Teluk dan Afrika beberapa peninggalan kuno yang meninggalkan bekas-bekas huruf zaman pra sejarah ribuan tahun lalu yang melekat pada manuskrip kuno/relief dan tulisan di dinding/bangunan/gua-gua yang berbentuk dan mempunyai arti tersendiri, dan pada daerah tersebut saat ini banyak sekali penduduk terbelakang yang belum bisa membaca/melek huruf yang berkembang dan berlaku saat ini dikarenakan daerah tersebut ditinggalkan/diasingkan dalam waktu yang lama.

Padahal kawasan Semenanjung Arab dan Afrika dikenal sebagai wilayah awal-awal munculnya ajaran-ajaran agama samawi/agama wahyu yang mendorong tumbuh dan terjadinya penyebaran dampak dari peradaban manusia yang dikenal cakap dalam berbagai bidang ilmu. Sementara, kedua kawasan ini pada dasarnya adalah kawasan yang sangat strategis dan dipenuhi berbagai sumber daya alam yang melimpah.

Saat ini kondisi dan tingkat buta huruf pun di kawasan ini masih sangat kuat dirasakan.  Berdasarkan Laporan Pusat Studi Sosial Ekonomi dan Statistik/SESRIC: Organ Subsidaire OKI) dalam laporan tahun 2016 yang bersumber pada Profil Negara-negara OKI memperlihatkan adanya keseragaman tingkat buta huruf di antara negara-negara OKI, khusunya di negara-negara di kawasan Afrika dan Semenanjung Arab.

Seiring dengan hal tersebut, terlihat pula adanya keseragaman yakni di daerah-daerah yang berpenduduk besar/tinggi (Irak, Iran Pakistan, Bangladesh), rata-rata tingkat buta hurufnya di atas 10 %.

Situasi di atas juga telah membawa concern baru terhadap elemen-elemen yang mendominasi angka buta huruf tersebut. Penanganan angka para penduduk yang buta huruf ini pun dilakukan secara kasus per kasus (terkait gender) namun tetap dalam konteks pengurangan angka iliterasi secara umum. Tentunya tujuan pemberantasan buta huruf model seperti ini adalah untuk mendorong terciptanya sumber-sumber kesejahteraan dan keilmuwan dari masyarakat di  kawasan ini dengan segala kompleksitasnya.

Seiring dengan tumbuhnya jumlah penduduk dunia saat ini yang hampir mencapai angka 7,5 miliar (BPS-AS 2018) lebih upaya ini masih menjadi pekerjaan rumah yang tidak ringan bagi negara-negara di kawasan dan dunia ini. Hal ini juga yang menjadi perhatian negara-negara yang menjadi anggota pada lembaga seperti Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan Organisasi Kerja Sama Islam (OKI), termasuk Indonesia.

Berdasarkan laporan yang diterbitkan oleh sebuah Organisasi yang berkantor pusat di Tunisia itu, yakni ALECSO sebuah organnya Liga Arab pada tahun 2014, menyatakan bahwa dari sekitar 353 jutaan jiwa warga Arab hanya tercatat 256.946 juta orang Arab di kawasan Arab yang akrab dengan dunia tulis dan baca. Angka tersebut menunjukan peningkatan buta huruf menjadi 19,37 persen dari total penduduk, sedangkan buta huruf kalangan perempuan mencapai 60,60 persen dibanding laki-laki hanya 39,42 persen (Minanews.net-2014).

Berbagai upaya kini tengah dilakukan oleh negara-negara di kawasan ini dan oleh  Organisasi Internasional seperti PBB dan OKI. Organisasi Kerja Sama Islam/OKI dalam berbagai pertemuan tingkat tinggi maupun Menterinya telah melihat pentingnya menangani masalah ini secara berkelanjutan.

Organisasi ini juga melakukan upaya penguatan lembaga OKI sendiri dengan membentuk Organ-Organi Khusus yang menangani  Pendidikan dan Kebudayaan serta Ilmu Pengetahuan dan Teknologi dan juga Pemberdayaan Kaum Wanita.

Selain itu juga lembaga ini juga telah membentuk suatu badan Pendanaan seperti Islamic Development Bank/IDB dengan tujuan meningkatkan tingkat kesejahteraan masyarakat negara-negara anggotanya, termasuk peningkatan masalah pendidikan dan pemberantasan buta huruf.

Lembaga OKI/IDB ini pun terus berupaya menjembatani adanya gap/jurang pemisah yang cukup tinggi di kalangan negara-negara anggota OKI di bidang pemberantasan buta huruf ini dengan melakukan berbagai program pertukaran pengalaman model terbaiknya: Reverse Linkages dengan mekanisme Triparti maupun melalui program-program Kerja Sama bilateral antara sesama negara anggota dan juga dengan lembaga Pendanaan ini. Dalam Program Aksi: OIC Vision 2025, masalah pemberantasan Buta Huruf di kalangan negara-negara OKI menjadi komitmen bersama melalui program pendidikan dan  menjadi fokus perhatian guna mengejar ketinggalan dari negara-negara di dunia, sebagaimana teks narasi  program aksi OIC 2025 menyebutkan sebagai berikut:

 “……With an average adult literacy  rate of 72.3%, the OIC Member States as a group lagged behind the world average of 82% and also the other developing countries’ average of 84.5%. Despite  being  an  important  strength,young  population  faces  considerable  challenges  in  their social and  economic situations in a significant number of Member States.  Inadequate education and  lack  of  required  skills  make  it  especially  difficult  for  youth  in  finding  jobs  in  the  labour market. It  is  necessary  that  the Member  States enhance  the  share  of  their  annual  GDP  for the education sector.”

Upaya-upaya yang dilakukan oleh negara-negara ini pun tidak terlepas dari perkembangan yang terjadi di dunia pada umumnya dimana Badan PBB yang beranggotakan hampir seluruh negara-negara di dunia ini menyatakan perang terhadap Angka Buta Huruf ini.

Dalam konteks Organisasi Internasional PBB sendiri, PBB telah mengarusutamakan masalah pendidikan berkwalitas  di dalam upaya menghapuskan buta huruf di dunia  sebagai suatu rangkaian mewujudkan Pembangunan Dunia Yang Berkelanjutan (Sustainable Development Goals- 2030), yakni dalam Tujuan ke-4 (Pendidikan Berkualitas) sebagai bagian dari 17 tujuan lainnya.

Bagi Indonesia, sebagai anggota dari kedua organisasi ini baik PBB dan OKI, ataupun OI-OI Sektoral lainnya pemberantasan buta huruf pun menjadi program yang berkelanjutan yang diarahkan untuk terus menghapus angka buta huruf yang masih diketemukan. Berdasarkan data terbaru, yakni sekitar 2,07 % atau sekitar 3,4 juta jiwa dari penduduk Indonesia dengan usia 15-59 tahun masih dalam kondisi buta huruf (Kemdikbud, 2018).

Dalam mengatasi masalah ini, Kementerian Pendidikan dan kebudayaan  Indonesia pun mempunyai Visi dan Misi serta Tujuan Strategis, yang salah satunya adalah melibatkan partisipasi publik dan melakukan diplomasi kebudayaan yang dapat mendorong terciptanya masyarakat dunia yang ramah dan melek huruf.

Baru-baru ini pun, dalam pertemuan antara penulis dan Direktur Pembinaan Pendidikan Keaksaraan dan Kesetaraan-Ditjen Pendidikan Usia Dini-Kemendikbud, Bapak Abdul Kahar (22 Mei 2019) di kantornya, pihak K/L telah secara aktif membantu berbagai agenda internasional di dalam menyebarkan pengalaman terbaik Indonesia bagi negara-negara sahabat. Indonesia sendiri bersedia berbagi dengan negara-negara yang berminat untuk bekerja sama di dalam memberantas buta huruf di dunia.

Dengan melihat perbandingan dan posisi Indonesia di antara negara-negara di dunia, Indonesia berpotensi untuk terus memberikan kontribusi positif di dalam melakukan pemberantan buta huruf baik di tingkat nasional, regional maupun internasional.

Semoga upaya dan raihan Indonesia saat ini dalam upaya pemberantasan buta huruf juga dapat mempercepat berkurangnya tingkat buta huruf di Indonesia dan di dunia. Wallahu’alam bisshowab. (AK/R01/RI-1)

*Penulis juga merupakan Alumni Angkatan II Program Studi Kajian Timur Tengah Islam-Universitas Indonesia

Mi’raj News Agency (MINA)