Wapres Pimpin Rapat Persiapan Pendirian Universitas Islam Internasional

Jakarta, 3 Ramadhan 1437/ 8 Juni 2016 – Wakil Presiden HM Jusuf Kalla mengadakan rapat dengan Menteri Agama, Menteri Riset dan Pendidikan Tinggi, Menteri Sekretaris Negara, tokoh-tokoh pendidikan Islam, Rabu di kantor Wapres, untuk membahas persiapan pendirian Universitas Islam Internasional (UII).

Dibahas masalah Peraturan Presiden sebagai regulasi, perencanaan, anggaran dari APBN dan dari masyarakat, calon lokasi antara lain Cimanggis Depok, lama pembangunan fisik 2-3 tahun  dan lain-lain.

Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin mengatakan bahwa UII ini nantinya diharapkan dapat menjadi pusat studi kajian peradaban Islam di dunia.

“(terkait rencana ini antara lain), diperlukan landasan regulasi dalam bentuk Peraturan Presiden. Harapannya finalisasi dari rancangan Perpres tersebut segara ditandatangani Bapak Presiden RI,” kata Lukman,” demikian keterangan pers yang diterima Mi’raj Islamic News Agency (MINA).

Menurutnya, UII dipersiapkan sebagai perguruan tinggi Islam bertaraf internasional yang tidak hanya mendalami studi-studi keislaman. Namun juga agar dapat mengenalkan kepada seluruh dunia, tentang peradaban Islam di Indonesia. Dengan begitu, tokoh Muslim Indonesia diharapkan dapat lebih memberikan kontribusi positif dalam ikut menata peradaban dunia.

“Indonesia merupakan negara besar dengan umat Islam yang terbesar. Sudah saatnya Indonesia memberikan kontribusi yang besar akan nilai-nilai Islam yang berkembang di Indonesia sebagai contoh atau acuan di dunia dalam menata peradaban,” ujar Menag.

“Pengalaman Indonesia yang sudah ratusan tahun dalam menerapkan nilai-nilai Islam diinstitusionalisasikan, bahkan kemudian dilakukan kajian menyeluruh sehingga akan lahir perguruan tinggi bertaraf Internasional,” tambahnya.

Terkait regulasi, Menag berharap dalam waktu dekat Peraturan Presiden yang akan regulasi pendirian Universitas Islam Internasional Indonesia sebagai perguruan tinggi bertaraf internasional bisa segera terbit.

Terkait anggaran dan lokasi, lanjut Menag, selain dari APBN, juga terbuka pendanaan dari masyarakat. Adapun berapa jumlahnya, masih dalam kajian. Demikian juga tentang lokasi, menurut Menag masih dijajaki beberapa wilayah, antara lain di daerah Kemanggisan, Depok.

Jadi kiblat studi Islam dunia

Senada dengan Menag, tokoh pendidikian / Mantan Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Komaruddin Hidayat mengatakan bahwa proses pendirian UII ini tidak terburu-buru, kira-kira sekitar 2-3 tahun.

Komaruddin memastikan pendirian UII  bukan untuk menyaingi perguruan tinggi Islam yang sudah ada. UII justru akan memperkuat yang sudah ada, utamanya dalam melakukan diplomasi kultural intelektual kepada dunia luar.

“Kita para alumni akan memperkuat perguruan tinggi Islam yang ada dan kita membantu diplomasi kultural intelektual kepada dunia luar,” ucapnya.

Menurut Komaruddin, sudah saatnya Indonesia melahirkan pemikir yang dapat merumuskan dan membicarakan negeri sendiri. Selama ini, cendekiawan Indonesia selalu membaca atau melihat Indonesia melalui tulisan-tulisan buku orang dari luar Indonesia, karena banyak profesor dan doktor asing yang riset di Indonesia.

“Sudah saatnya Indonesia dijadikan kiblat studi, karena Indonesia memiliki pengalaman panjang sejak dari pra kemerdekaan, demokrasi, pluralisme, anti radikalisme, dan lainnya. Indonesia cukup berhasil dan diakui dunia. Nah lembaga ini sebagia tempat riset dialog nasional atau internasional,” tandasnya. (T/R05/P4-P2)

Mi’raj Islamic News Agency (MINA)