Pemerintah Manipur India Deportasi 5.500 Pengungsi Myanmar

Pengungsi Myanmar di Negara Bagian Manipur, India sedang berbaris untuk pendataan pada awal Mei 20224. (Gambar: @NBirenSingh via X)

Manipur, MINA – Pemerintah Negara Bagian Manipur, India, mendeportasi sekitar 5.500 pengungsi Myanmar yang melarikan diri dari perang saudara dan mencari perlindungan di desa-desa perbatasan negara itu.

Ketua Menteri Negara Bagian Manipur, Nongthombam Biren Singh, mengatakan dalam unggahan Facebook tertanggal 8 Mei bahwa deportasi sekitar 5.500 “imigran ilegal” sedang berlangsung, meskipun ia tidak secara spesifik merujuk pada pengungsi Myanmar. Radio Free Asia melaporkan, Senin (20/5).

Dari jumlah itu, pihak berwenang telah mengumpulkan hampir 5.200 data biometrik, katanya.

Pemerintah India memiliki kebijakan untuk mengumpulkan sidik jari semua orang asing yang tinggal di India, termasuk pengungsi yang dianggap “imigran ilegal” untuk tujuan keamanan.

Ribuan warga sipil dari Negara Bagian Chin dan wilayah Sagaing, Myanmar, berbondong-bondong melintasi perbatasan India dan masuk ke Negara Bagian Manipur untuk menghindari konflik bersenjata antara pasukan junta dan pasukan pemberontak.

Baca Juga:  Tahun 2025 Akan Menjadi Haji Terakhir di Musim Panas 

Sebanyak 60.000 warga sipil Myanmar lainnya dari Negara Bagian Chin telah melintasi perbatasan dan mencari perlindungan di Negara Bagian Mizoram, di selatan Manipur, menurut kelompok masyarakat sipil Chin di Myanmar dan pekerja bantuan.

Namun, pemerintah Mizoram memutuskan untuk tidak memulangkan pengungsi Chin sampai situasi di negeri asalnya stabil. Banyak etnis Mizo di Mizoram percaya bahwa mereka dan suku Chin berasal dari kelompok etnis yang sama.

Pengumuman Singh bertentangan dengan pernyataan Menteri Dalam Negeri India Amit Shah sebelumnya bahwa pemerintah tidak akan memulangkan para pengungsi sampai perdamaian pulih di Myanmar.

India bukan negara penandatangan konvensi pengungsi PBB, yang menyatakan bahwa pengungsi tidak boleh dikembalikan ke negara dimana mereka menghadapi ancaman serius terhadap kehidupan atau kebebasan mereka. []

Baca Juga:  Usai Buat AS Tegang, Kapal Perang Rusia Tinggalkan Kuba

Mi’raj News Agency (MINA)

Wartawan: Rudi Hendrik

Editor: Widi Kusnadi