Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pemerintah Trump Cabut Visa Mahasiswi Turkiye Pro Palestina

Redaksi Editor : Bahron Ans. - 6 jam yang lalu

6 jam yang lalu

9 Views

Pengunjuk rasa mahasiswa pro-Palestina di Amerika Serikat dukung Palestina. (Foto: Anadolu Agency)

Washington, MINA – Pemerintahan Amerika Serikat di bawah Presiden Donald Trump telah mencabut visa dan menahan Rumeysa Ozturk, seorang mahasiswi doktoral asal Turki di Universitas Tufts, karena dugaan dukungannya terhadap Palestina.

Ozturk ditangkap oleh agen Departemen Keamanan Dalam Negeri (DHS) saat menuju acara buka puasa di dekat rumahnya di Somerville, Massachusetts. Anadolu melaporkan.

Penangkapan ini memicu protes dan kecaman dari berbagai pihak yang menilai tindakan tersebut sebagai pelanggaran terhadap kebebasan berpendapat.

Pemerintahan Trump telah mengambil langkah-langkah untuk mendeportasi mahasiswa asing yang berpartisipasi dalam demonstrasi pro-Palestina di kampus-kampus AS.

Baca Juga: Israel Sahkan Undang-Undang Reformasi Peradilan yang Kontroversial

Namun, langkah ini menuai kritik dari berbagai kelompok hak asasi manusia yang menilai tindakan tersebut sebagai pelanggaran terhadap kebebasan berpendapat dan diskriminatif terhadap mahasiswa asing.

Selain Ozturk, beberapa mahasiswa asing lainnya juga mengalami pencabutan visa dan penahanan akibat partisipasi mereka dalam aksi pro-Palestina.

Mahmoud Khalil, seorang mahasiswa Universitas Columbia, ditangkap oleh agen Imigrasi dan Penegakan Bea Cukai AS (ICE) di apartemennya setelah Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengeluarkan perintah pencabutan visa pelajar dan kartu hijau miliknya.

Tindakan pemerintah AS ini dianggap sebagai upaya untuk membungkam suara-suara yang mendukung hak-hak Palestina dan menekan kebebasan akademik di kampus-kampus.

Baca Juga: Produsen Mobil Eropa ‘Sangat Khawatir’ dengan Tarif Baru AS

Para kritikus menyoroti bahwa kebijakan tersebut secara tidak proporsional menargetkan mahasiswa internasional dan aktivis dari komunitas minoritas, yang dapat menciptakan iklim ketakutan dan menghambat diskusi terbuka mengenai isu-isu internasional.[]

Mi’raj News Agency (MINA)

Baca Juga: PM Lebanon Tegas Tolak Normalisasi Hubungan dengan Israel

Rekomendasi untuk Anda