Pemimpin yang Menyesatkan

Oleh Bahron Ansori, wartawan MINA

Keadaan suatu umat (rakyat) sangat ditentukan siapa pemimpinnya. Jika pemimpinnya adalah orang-orang lurus akidahnya, mulia akhlaknya, maka umat yang dipimpinnya pun akan baik. Sebaliknya, jika pemimpin suatu negeri terdiri dari para penjilat, pengkhianat yang senang menjual asset bangsanya kepada asing, tebar fitnah sana sini, merancang kekacauan, bermuka dua (munafik), maka bersiaplah umat akan mengambil tindakan kepadanya.

Pemimpin yang miskin moral; tidak perduli dengan kesejahteraan rakyat, memperkaya diri, korupsi, kolusi dan nepotisme, berakhlak bejat tidak akan pernah menemui ketenangan baik di dunia terlebih lagi di akhirat kelak. Bisa jadi, pemimpin semacam itu bahagia dan senang di dunia, tapi kelak di akhirat dia akan merasakan kepedihan akibat azab dari Allah Ta’ala.

Adapun umat (rakyat) yang dipimpinnya, bisa jadi saat di dunia ini tak berdaya, karena hukum yang tajam ke bawah dan tumpul ke atas. Upaya apapun yang dilakukan umat untuk membela diri selalu saja salah. Kezaliman demi kezaliman selalu dirasakan umat akibat keputusan dan kebijakan dalam menetapkan hukum yang salah. Umat yang dipimpin oleh para pemimpin yang zalim hanya mampu mengadu kepada Allah tentang segala kesulitan yang dihadapi dan diterima.

Pemimpin yang fakir moral adalah pemimpin yang sesat dan menyesatkan umatnya. Terkait pemimpin menyesatkan ini, ada sebuah hadis dari Abu Darda’ radhiyallahu anhu yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam al-Musnad 6/411 no 27525, ath-Thabrani sebagaimana dalam al-Majma’ az-Zawa’id 5/239, Ibnu Asâkir 19/254 dan ath-Thayâlisi dalam musnadnya no. 975 berkata,

عَهِدَ إِلَيْنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمْ الْأَئِمَّةُ الْمُضِلُّونَ

“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasalam berpesan kepada kami, “Sesungguhnya yang paling Aku takutkan atas kalian adalah para pemimpin yang menyesatkan.”

Hadits ini dishahihkan oleh al-Albani  dalam Shahih al-Jami’ no. 1551 dan disampaikan oleh beliau jalan periwayatan hadits ini dalam Silsilah Ahadits Shahihah no. 1582 dan 1989. Ibnu Katsir rahimahullah dalam Musnad al-Faruq dan al-Munawi rahimahullah dalam at-Taisir 2/162. Syaikhul Islam Ibnu taimiyah rahimahullah berkata: Hadits al-A`immah al-Mudhillin  (para pemimpin yang menyesatkan) adalah kuat dan asalnya ada dalam Shahih Muslim. (Bayân Talbîs al-Jahmiyah 2/293).

Di antara hal-hal yang Nabi Shallallahu ‘alaihi wasalam takutkan atas umatnya dan yang paling berhak ditakuti adalah para pemimpin yang menyesatkan. Selain Dajjal yang paling membuat Aku takut atas kalian adalah para pemimpin yang menyesatkan. Sehingga pengertian hadis ini adalah para pemimpin yang menyesatkan termasuk yang paling Nabi Shallallahu ‘alaihi wasalam takutkan atas umatnya sehingga mereka lebih dikhawatirkan menurut Nabi Shallallahu ‘alaihi wa salam atas umatnya dari Dajjal.

Imam al-Munawi rahimahullah menyatakan: Abul Baqqa` menyatakan bahwa pengertiannya adalah Sungguh Aku takut atas umatku dari selain Dajjal  lebih dari ketakutanku darinya (pemimpin menyesatkan). Sedangkan Ibnul ‘Arabi menyatakan: Ini tidak menafikan hadits yang menyatakan bahwa tidak ada fitnah yang lebih besar dari fitnah Dajjal; karena sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasalam di sini: (selain Dajjal) hanyalah disampaikan kepada para sahabatnya, karena yang Nabi takutkan atas mereka lebih dekat dari Dajjal, sehingga yang dekat dan pasti akan terjadi bagi yang ditakutkan menjadikan ketakutan lebih hebat dari yang jauh yang diperkirakan terjadinya walaupun lebih hebat. (Faidhul Qadîr 4/535).

Ancaman Allah

Di antara bentuk ancaman Allah Ta’ala kepada para pemimpin yang menyesatkan antara lain seperti dalam beberapa penjelasan hadits berikut.

Pertama, paling dibenci oleh Allah Ta’ala. Dari Abu Sa’id radhiyallahu ‘anhu ia berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِنَّ أَحَبَّ النَّاسِ إِلَى اللَّهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَأَدْنَاهُمْ مِنْهُ مَجْلِسًا إِمَامٌ عَادِلٌ وَأَبْغَضَ النَّاسِ إِلَى اللَّهِ وَأَبْعَدَهُمْ مِنْهُ مَجْلِسًا إِمَامٌ جَائِرٌ

“Sesungguhnya manusia yang paling dicintai oleh Allah pada hari kiamat dan paling dekat kedudukannya di sisi Allah adalah seorang pemimpin yang adil. Sedangkan orang yang paling dibenci oleh Allah dan paling jauh kedudukannya dari Allah adalah seorang pemimpin yang zalim.” (HR. Tirmidzi)

Dalam hadits di atas sangat jelas, para pemimpin yang sesat lagi menyesatkan, zalim terhadap umat yang dipimpinnya, senang menipu rakyat, tidak peduli dengan kepedihan dan kepiluan yang diderita umat, dialah pemimpin yang sangat dibenci Allah Ta’ala. Adakah hal yang lebih sakit dirasakan daripada dibenci oleh Tuhan Pencipta jagat raya ini?

Kedua, Allah menelantarkannya pada hari kiamat dan tidak mengampuni dosa-dosanya. Dalam sebuah riwayat dari Abu Hurairah radiyallahu ‘anhu menyebutkan, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

ثَلاَثَةٌ لاَ يُكَلِّمُهُمُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلاَ يُزَكِّيهِمْ وَلاَ يَنْظُرُ إِلَيْهِمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ شَيْخٌ زَانٍ وَمَلِكٌ كَذَّابٌ وَعَائِلٌ مُسْتَكْبِرٌ

“Tiga orang yang Allah enggan berbicara dengan mereka pada hari kiamat kelak. (Dia) tidak sudi memandang muka mereka, (Dia) tidak akan membersihkan mereka dari dosa (dan noda). Dan bagi mereka disiapkan siksa yang sangat pedih. (Mereka ialah ): Orang tua yang berzina, penguasa yang suka berdusta dan fakir miskin yang takabur.” (HR. Muslim).

Hadits di atas seharusnya menjadi renungan mendalam bagi para pemimpin. Betapa banyak kedustaan yang terlontar dari para pemimpin suatu negeri sekedar untuk menipu rakyatnya. Tak sedikit akibat kedustaan yang dibuat seorang pemimpin, rakyatnya menjadi sengsara dan hidup dalam penderitaan berkepanjangan.

Ketiga, akan dimasukkan ke dalam Neraka serta diharamkan Syurga baginya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

أَيُّمَا رَاعٍ غَشَّ رَعِيَّتَهُ فَهُوَ فِي النَّارِ

“Siapapun pemimpin yang menipu rakyatnya, maka tempatnya di neraka.” (HR. Ahmad)

Menipu rakyat dengan bualan jani-janji palsu di negeri ini seperti menjadi makanan harian rakyat (umat). Demi memenuhi kepentingan ego dan isi perut (syahwat), rakyat harus ditipu dan dikorbankan. Pemimpin yang menipu rakyat bisa saja tertawa hari ini, tertawa atas kecurangannya, tapi mereka tidak sadar neraka di akhirat sudah menantinya.

Dalam riwayat lain, Rasulullah Shallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَنِ اسْتَرْعَاهُ اللهُ رَعِيَّةً ثُمَّ لَمْ يُحِطْهَا بِنُصْحٍ إِلَّا حَرَّمَ اللهُ عَلَيْهِ الجَنَّةَ. متفق عليه. وفي لفظ : يَمُوتُ حِينَ يَمُوتُ وَهُوَ غَاسِ لِرَعِيَّتِهِ إِلَّا حَرَّمَ اللهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ.

“Barangsiapa yang diangkat oleh Allah untuk memimpin rakyatnya, kemudian ia tidak mencurahkan kesetiaannya, maka Allah haramkan baginya Surga.” (HR. Bukhari dan Muslim). Dalam lafazd yang lain disebutkan, “Ialu ia mati dimana ketika matinya itu dalam keadaan menipu rakyatnya, maka Allah haramkan Surga baginya.”

Masih banyak ancaman Allah Ta’ala kepada para pemimpin yang menyesatkan, menzalimi dan menipu rakyatnya. Semua bentuk ancaman yang Allah janjikan kepada para pemimpin berakhlak buruk, mengkhianati, menipu dan menzalimi rakyatnya tidak ada yang ringan. Apalagi jika pemimpin itu bersekongkol dalam kejahatan dengan segelintir kelompok demi melanggengkan kekuasaannya, wallahua’lam. (A/RS3/P1)

Mi’raj News Agency (MINA)