Pemuda Dalam Al-Quran dan Sunnah, Oleh Imaam Yakhsyallah Mansur

بسم الله الرحمن الرحيم

Al-Qur’an

Pemuda adalah seseorang yang akan menjadi tonggak kemajuan bangsa dan agama. Pemuda adalah orang yang menjadi harapan bagi diri, keluarga, dan bahkan masyarakat. Karena pentingnya pemuda, Al-Qur’an banyak memberikan isyarat akan sikap seorang pemuda.

Berikut adalah ayat-ayat Al-Qur’an yang memberi isyarat akan sikap anak-anak muda:

  1. Q.S. Yusuf [12] ayat 30

وَقَالَ نِسْوَةٌ فِى ٱلْمَدِينَةِ ٱمْرَأَتُ ٱلْعَزِيزِ تُرَٰوِدُ فَتَىٰهَا عَن نَّفْسِهِۦ ۖ  قَدْ شَغَفَهَا حُبًّا ۖ  إِنَّا لَنَرَىٰهَا فِى ضَلَـٰلٍۢ مُّبِينٍۢ(يوسف [١٢]: ٣٠)

Dan perempuan-perempuan di kota berkata, “Istri Al-Aziz menggoda dan merayu pelayannya untuk menundukkan dirinya, pelayannya benar-benar membuatnya mabuk cinta. Kami pasti memandang dia dalam kesesatan yang nyata.”

Ayat ini dan seterusnya sampai ayat ke 33 memberi isyarat bahwa pemuda yang diharapkan Al-Qur’an adalah pemuda yang berani menolak kebatilan dan kemaksiatan, sebagaimana ketika Nabi Yusuf  yang masih muda menolak diajak berbuat tidak senonoh oleh tuan putrinya dan perempuan-perempuan Mesir.

  1. Q.S. Al-Kahfi [18] ayat 60

وَاِذْ قَالَ مُوْسٰى لِفَتٰىهُ لَآ اَبْرَحُ حَتّٰٓى اَبْلُغَ مَجْمَعَ الْبَحْرَيْنِ اَوْ اَمْضِيَ حُقُبًا (الكهف [١٨]: ٦٠)

Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada pembantunya, “Aku tidak akan berhenti (berjalan) sebelum sampai ke pertemuan dua laut; atau aku akan berjalan (terus sampai) bertahun-tahun.”

Ayat ini masih terkait dengan ayat di atas, bahwa pemuda adalah mereka yang memiliki semangat tinggi. Ia tidak akan pernah menyerah dalam mengarungi jalan masa depan. Sebelum keinginannya tercapai ia tidak akan pernah berhenti.

  1. Q.S. Al-Anbiya’ [21] ayat 60

قَالُوْا سَمِعْنَا فَتًى يَّذْكُرُهُمْ يُقَالُ لَهٗٓ اِبْرٰهِيْمُ… (الأنبياء [٢١]: ٦٠)

Mereka (yang lain) berkata, “Kami mendengar ada seorang pemuda yang mencela (berhala-berhala ini), namanya Ibrahim.”

Ayat Al-Qur’an ini memberikan isyarat bahwa pemuda seharusnya menjadi seseorang yang pemberani dalam menumpas kebatilan dan menegakkan kebenaran. Sebagaimana Ibrahim muda berani menumpas berhala dan menunjukkan masyarakat kepada kebenaran Tuhan.

  1. Q.S. Al-Kahfi [18] ayat 13

 نَحْنُ نَقُصُّ عَلَيْكَ نَبَاَهُمْ بِالْحَقِّ ۗ  اِنَّهُمْ فِتْيَةٌ اٰمَنُوْا بِرَبِّهِمْ وَزِدْنٰهُمْ هُدًىۖ (الكهف [١٨]: ١٣)

Kami ceritakan kepadamu (Muhammad) kisah mereka dengan sebenarnya. Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka, dan Kami tambahkan petunjuk kepada mereka.”

Ayat Al-Qur’an ini memberikan isyarat akan karakter pemuda dalam Al-Qur’an, yaitu mereka yang memiliki keimanan yang kokoh. Pemuda bukan mereka yang imannya cepat goyah karena iming-iming duniawi.

As-Sunnah

Berikut beberapa hadis yang berkaitan tentang pemuda:

Hadis Pertama:

Rasûlullâh ﷺ bersabda:

يَعْجَبُ رَبُّكَ مِنْ شَابٍّ لَيْسَتْ لَهُ صَبْوَةٌ (رواه أحمد)

Rabbmu kagum dengan pemuda yang tidak memiliki shabwah (H.R. Ahmad)

Shabwah adalah kecondongan untuk menyimpang dari kebenaran.

Hadis Kedua:

Rasûlullâh ﷺ bersabda:

الْحَسَنُ وَالْحُسَيْنُ سَيِّدَا شَبَابِ أَهْلِ الْجنَّة (رواه الترمذي)

Hasan dan Husain adalah tokoh pemuda penduduk surga (H.R. At-Tirmidzi)

Al-Hasan dan Al-Husain 2 cucu Rasulullah ﷺ, putra Ali bin Abi Thalib dan Fathimah .

Hadis Ketiga:

Rasûlullâh ﷺ bersabda:

سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمْ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ إِمَامٌ عَادِلٌ وَشَابٌّ نَشَأَ فِي عِبَادَةِ اللَّهِ وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللَّهَ فِي خَلَاءٍ فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ فِي الْمَسْجِدِ وَرَجُلَانِ تَحَابَّا فِي اللَّهِ وَرَجُلٌ دَعَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصِبٍ وَجَمَالٍ إِلَى نَفْسِهَا قَالَ إِنِّي أَخَافُ اللَّهَ وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ فَأَخْفَاهَا حَتَّى لَا تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا صَنَعَتْ يَمِينُهُ (رواه البخاري ومسلم)

Ada tujuh golongan manusia yang akan dinaungi oleh Allâh dibawah naungan ‘Arsynya pada hari tidak ada naungan selain naungan Allâh Azza wa Jalla (yaitu): Imam yang adil; Pemuda yang tumbuh dalam ibadah kepada Allâh Azza wa Jalla; Seorang laki-laki yang mengingat Allâh dalam kesunyian (kesendirian) kemudian dia menangis (karena takut kepada adzab Allâh); Seorang laki-laki yang hatinya selalu bergantung dengan masjid-masjid Allâh; Dua orang yang saling mencintai, mereka berkumpul dan berpisah karena Allâh Azza wa Jalla; Dan seorang laki-laki yang diajak berzina oleh seorang perempuan yang memiliki kedudukan dan cantik akan tetapi dia menolak dan berkata, ‘Sesungguhnya aku takut kepada Allâh.’ Dan seorang laki-laki yang bersedekah dengan sesuatu yang ia sembunyikan, sampai-sampai tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfakkan oleh tangan kanannya. (H.R. Al-Bukhâri dan Muslim)

Hadis Keempat:

Dikatakan kepada penghuni surga:

وَإِنَّ لَكُمْ أَنْ تَشِبُّوا فَلَا تَهْرَمُوا أَبَدًا (رواه مسلم)

Sesungguhnya kalian akan terus-menerus muda dan tidak akan pernah menua selamanya. (H.R. Muslim)

Hadis Kelima:

قَالَ أَبُو بَكْرٍ –وَعِنْدَهُ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ- لِزَيْدِ بْنِ ثَابِتٍ: إِنَّكَ رَجُلٌ شَابٌّ عَاقِلٌ لَانَتَّهِمُكَ، وَقَدْ كُنْتَ تَكْتُبُ الْوَحْيَ لِرَسُولِ اللَّهِ ﷺ، فَتَتَبَّعِ الْقُرْآنَ فَاجْمَعْهُ (رواه البخاري)

Abu Bakr  mengatakan kepada Zaid bin Tsâbit saat itu Umar bin al-Khatthab  berada di antara mereka, “Sesungguhnya kamu laki-laki yang masih muda, cerdas dan kami tidak menuduhmu (berbuat dusta), kamu dahulu menulis wahyu untuk Rasûlullâh , maka sekarang telitilah Al-Qur’an itu dan kumpulkanlah ia. (H.R. Al-Bukhâri)

Hadis Keenam:

لَا تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ أَرْبَعِ خِصَالٍ: عَنْ عُمُرُهِ فِيمَا أَفْنَاهُ، وَعَنْ شَبَابِهِ فِيمَا أَبْلَاهُ، وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَا أَنْفَقَهُ، وَعَنْ عَلِمهِ مَاذَا عَمِلَ فِيهِ (رواه الطبراني)

Kaki seorang hamba tidak akan bergeser pada Hari Kiamat sampai dia ditanyai tentang empat perkara: tentang umurnya, dalam hal apa dia habiskan; masa mudanya, untuk apa dia gunakan; tentang hartanya, dari mana dia peroleh dan untuk apa dia belanjakan; dan tentang ilmunya, untuk apa dia amalkan (H.R. Ath-Thabrani)

Hadis Ketujuh:

عَنِ ابْنِ مَسْعُوْدٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: كُنَّا نَغْزُوْ مَعَ النَّبِيِّ ﷺ وَنَحْنُ شَبَابٌ (رواه أحمد)

Dari Ibnu Mas’ûd  berkata, “Kami ikut berperang bersama Rasûlullâh padahal saat itu kami masih muda. (H.R. Ahmad)

Hadis Kedelapan:

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: كَانَ شَبَابٌ مِنَ الْأَنْصَارِ سَبْعِينَ رَجُلًا يُقَالُ لَهُمْ الْقُرَّاءُ يَكُونُونَ فِي الْمَسْجِدِ فَإِذَا أَمْسَوْا انْتَحَوْا نَاحِيَةً مِنَ الْمَدِينَةِ، فَيَتَدَارَسُونَ وَيُصَلُّونَ يَحْسِبُ أَهْلُوهُمْ أَنَّهُمْ فِي الْمَسْجِدِ، وَيَحْسِبُ أَهْلُ الْمَسْجِدِ أَنَّهُمْ في أَهْلِيهِمْ، حَتَّى إِذَا كَانُوا فِي وَجْهِ الصُّبْحِ اسْتَعْذَبُوا مِنَ الْمَاءِ، وَاحْتَطَبُوا مِنَ الْحَطَبِ، فَجَاءُوا بِهِ فَأَسْنَدُوهُ إِلَى حُجْرَةِ رَسُولِ اللهِ ﷺ (رواه أحمد)

Dari Anas bin Mâlik , beliau mengatakan bahwa ada 70 pemuda dari kalangan Anshâr yang digelari al-Qurrâ’ (para pembaca Al-Qur’an). Mereka biasa tinggal di Masjid Nabawi. Tatkala petang menjelang mereka keluar ke pinggiran kota Madinah, lalu mereka belajar bersama dan mendirikan shalat. Keluarga mereka menyangka mereka sedang berada di masjid, sementara orang-orang di masjid menyangka mereka pulang menemui keluarga mereka. Ketika mendekati waktu Shubuh mereka mencari air lalu mencari kayu bakar yang mereka bawa dan sandarkan di dinding kamar Rasûlullâh ﷺ (H.R. Ahmad)

Mereka adalah para pemuda yang menanggung kehidupan ahli shuffah dengan menjual kayu. Hasil penjualan kayu-kayu tersebut, mereka belikan makanan buat para penghuni shuffah. Penghuni shuffah adalah orang-orang fakir yang hijrah ke Madinah sedangkan mereka tidak memiliki keluarga ataupun kerabat di Madinah, hingga mereka tinggal di shuffah di dekat Masjid Nabawi.

Hadis Kesembilan:

‘Alqamah , salah seorang Shahabat Ibnu Mas’ûd  bercerita, “Aku berjalan bersama Abdullah bin Mas’ûd , kemudian dia bertemu dengan Utsmân bin Affân  yang mengajak dia berbicara. Utsman  berkata pada Ibnu Mas’ûd , ‘Wahai Abu Abdirrahman! Maukah engkau kami nikahkan dengan seorang pemudi? Semoga dia bisa membangkitkan lagi memori-memori lamamu?’ Abdullâh bin Mas’ud  pun menanggapinya, ‘Jika engkau mengatakan seperti itu, maka sesungguhnya Rasûlullâh pernah mengatakan kepada kami:

يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ، مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ، فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ، وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ، وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ، فَلْيَصُمْ، فَإِنَّ الصَّوْمَ لَهُ وِجَاءٌ (رواه البخاري ومسلم)

Wahai para pemuda! Barangsiapa sudah mampu untuk menikah, maka hendaklah dia menikah! Karena menikah lebih menjaga pandangan dan lebih membentengi kemaluan. Dan barangsiapa yang belum mampu maka hendaklah dia berpuasa, sesungguhnya puasa itu adalah tameng bagi pelakunya. (H.R. Al-Bukhâri dan Muslim)

Hadis Kesepuluh:

Dalam hadis Nabi ﷺ tentang dajjal diceritakan:

يَدْعُو رَجُلًا مُمْتَلِئًا شَبَابًا فَيَضْرِبُهُ بِالسَّيْفِ، فَيَقْطَعُهُ جِزْلَتَيْنِ رَمْيَةَ الغَرَضِ، ثُمَّ يَدْعُوهُ، فَيُقْبِلُ، وَيَتَهَلَّلُ وَجْهُهُ يَضْحَكُ (رواه مسلم)

Dajjal memanggil seorang laki-laki muda belia, kemudian dajjal menebas lehernya dengan pedang dan membelahnya menjadi dua, kemudian dajjal memanggilnya kembali, ia pun datang memanggut-manggutkan wajahnya seraya tertawa. (HR. Muslim)

وَاللهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَّابِ

(A/R1/P2)

Mi’raj News Agency (MINA)