Pemuda OKI Indonesia Gelar Peringatan 29 Tahun Tragedi Genosida Khojaly

(Foto: MINA)

Jakarta, MINA – Pemuda Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) Indonesia atau OIC Youth Indonesia bekerja sama dengan Islamic Cooperation Youth Forum Eurasian Regional Center (ICYF – ERC) menggelar peringatan 29 tahun mengenang sejarah pilu yang pernah terjadi di sebuah kota di wilayahnya yang kini diklaim sebagai bagian dari Armenia.

Kota tersebut bernama ‘Khojaly’, letaknya di wilayah Nagorno-Karabakh, Azerbaijan, dan memiliki luas total 940 kilometer persegi dan penduduk mencapai 7.000 sebelum konflik antara Armenia dan Azerbaijan pecah.

Kota ini menjadi tempat terjadinya pelanggaran kemanusiaan, yang disinyalir genosida oleh pasukan Armenia yang memasuki daerah tersebut pada 25-26 Februari 1992.

Menurut catatan Pemerintah Azerbaijan, 613 orang tewas dalam kejadian tersebut, sementara 1.275 orang lainnya dipenjara dan 150 orang dinyatakan hilang.

Peringatan 29 Tahun Tragedi Genosida Khojaly yang digelar bersamaan dengan pelaksanaan Seminar Warisan Budaya Islam bertema “Dampak Sejarah dan Warisan Budaya Islam Indonesia Terhadap Peradaban Islam Dunia” di Jakarta, Jumat (26/2).

Acara yang digelar dengan protokol kesehatan ketat dihadiri Sekretaris Kedua Kedutaan Besar Azerbaijan untuk Indonesia Mr. Emil Ahmadov, para tokoh nasional, perwakilan ormas-ormas pemuda Islam, akademisi, dan pengurus Pemuda OKI Indonesia.

Presiden OIC Youth Indonesia Astrid Nadya Rizqita, Wakil Presiden OIC Youth Indonesia Mauliza Effendi yang menyampaikan sambutan dalam acara itu.

Sebagai tamu kehormatan, mewakili Kedubes Azerbaijan, Sekretaris Ketiga Kedubes, Mr. Intigam Huseynov menjelaskan, konflik Armenia dan Azerbaijan ini merupakan konflik tertua yang sedang berlangsung di wilayah pasca-Soviet.

“Pembantaian di Khojaly adalah akibat dari pendudukan ilegal wilayah Azerbaijan oleh Armenia, yang menganggap tindakan terhadap warga sipil Azerbaijan di wilayah pendudukan itu sebagai kejahatan perang dan genosida,” kata Huseynov saat memberikan sambutan acara tersebut.

Dia mengatakan, Pemerintah Azerbaijan mengapresiasi dan mengucapkan terima kasih kepada rakyat dan pemerintah Indonesia, khususnya kepada Pemuda OKI atas pelaksanaan peringatan Genosida Khojaly ini.

“Atas nama rakyat dan pemerintah Azerbaijan, Kami Kedutaan Besar Azerbaijan mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Indonesia, baik pemerintah parlemen, dan komunitas masyarakat, yang mendukung dan mengutuk keras tindakan pembantaian khojaly,” tambah Huseynov.

Dia juga mengucapkan terima kasih kepada pemerintah Indonesia atas penegasan kembali dukungan terhadap keutuhan wilayah Republik Azerbaijan dan menekankan dukungan sepenuhnya terhadap penyelesaian damai dalam konflik di kawasan itu atas dasar norma dan prinsip Resolusi Dewan Keamanan PBB yang diadopsi pada tahun 1993.

T. Taufiq Lubis Wakil Presiden Islamic Cooperation Youth Forum (ICYF), menyampaikan penghormatan untuk mengenang para korban pembantaian Khojaly.

Menurut Ketua Dewan Penasihat OIC Youth Indonesia itu tragedi kemanusiaan tersebut menjadi sejarah kelam konflik Armenia dan Azerbaijan.

“Pada hari ini kita ingin menegaskan kepada dunia bahwa Indonesia terlibat dalam politik internasional bebas aktif yang selalu ingin mendukung segala hal yang menjamin kemerdekaan, kemandirian sebuah bangsa, entitas ataupun masyarakat dunia yang dilindungi oleh konstitusi Undang-Undang Dasar 1945,” kata Taufik.

Dia mengatakan, gerakan ini tidak berhenti sampai di sini pemuda OKI akan terus aktif dan konsisten untuk membela kemanusiaan khususnya membela HAM karena sangat konsen dengan pembangunan di 57 negara anggota OKI.

“Tidak hanya di Khojaly tapi kita juga aktif untuk membela Rohingya, Uighur, Kashmir, kita juga membela Palestina yang dijajah oleh Israel. Tentu kita akan terus memperjuangkannya hingga memperoleh kemerdekaan. Bagi siapapun yang tertindas,” tegas Taufik.

Peringatan 29 tahun tragedi genosida Khojaly harus dimaknai sebagai momentum untuk memulai kembali usaha perdamaian internasional untuk menyelesaikan konflik di wilayah Nagorno-Karabakh antara Amenia-Azerbaijan.

Untuk itu, Armenia didesak untuk mematuhi Resolusi Keamanan PBB 822, 853, 874 dan 884 dengan menarik seluruh angkatan bersenjatanya dari wilayah Azerbaijan serta memulangkan satu juta pengungsi Azerbaijan.

Acara peringatan dilanjutkan dengan Seminar Warisan Budaya Islam yang menghadirkan pembicara Dosen Universitas Al-Azhar Indonesia Yasmi Adriansyah, Ph.D; Direktur Santri Millenial Center Nur Rohman; Peneliti, Dewan Ahli OKI Pemuda Indonesia Imam Bayhaqi, Ph.D.; Direktur Eksekutif, Citra Institute, Dewan Penasihat OIC Youth Indonesia Yusak Fachan, M.Si.; Dewan Penasehat OIC Youth Indonesia, Universitas Indonesia Sya’roni Rofii, Ph.D; dan Pengurus Dewan Masjid Indonesia Muhammad Ibrahim Hamdani, M.Si..

Selain itu, yang memberikan sambutan seminar tersebut yakni Direktur Jenderal ICYF Eurasian Regional Center Elmaddin Mehdiyev, dan Wakil Gubernur DKI Jakarta Ahmad Riza Patria.(L/R1/P2)

 

Mi’raj News Agency (MINA)