Pemuda Yatim dan Miskin Mendapatkan Anak Ulama

Oleh Bahron Ansori, wartawan MINA

Dikisahkan, seorang ulama bernama Said Bin Al –Musayyib, memiliki seorang putri yang sangat cantik. Suatu ketika sang khalifah Abdul Malik bin Marwan datang meminang putrinya untuk dinikahkan kepada putranya Al-Walid bin Abdul Malik, namun Said bin Musayyib menolak lamaran tersebut. Bahkan dia menikahkan putrinya dengan seorang muridnya yang miskin dan yatim yang bernama Katsir bin Abdul Muthallib bin Abi Wada’ah hanya dengan mahar dua atau tiga dirham.

Karena penolakannya ini ia dihukum 60 kali cambuk, disiramkan air dingin ke tubuhnya saat musim dingin, dan dipakaikan kepadanya jubah yang terbuat dari wol. Dengarkan kisah sang pemuda yang bercerita tentang rizki yang menghampiri dirinya.

Saya adalah seorang yang selalu duduk di majelis di Mesjid Nabawi untuk menuntut ilmu dan saya selalu duduk dalam halaqohnya Said ibnu Musayyib. Suatu waktu saya tidak hadir dalam majelis dalam beberapa hari lamanya, sehingga Said bin Musayyib merasa kehilangan diriku. Ia khawatir kalau saya sakit atau sedang ditimpa sesuatu. Ia pun bertanya kepada orang-orang, tapi tidak ada seorang pun yang mengetahui tentang beritaku.

Setelah beberapa hari saya pun kembali hadir dalam majelisnya. Di akhir pelajaran, ia menyapa saya dan mendoakan saya lalu ia menanyakan, “Kemana saja kamu wahai Abu Wada’ah?”

Saya katakan, ’’Sesungguhnya istri saya meninggal dunia, maka saya sibuk mengurusinya.’’

Ia menjawab, ’’Mengapa engkau tidak memberitahu kami sehingga kami dapat membantumu?”

Saya katakan, ’’Tidak, semoga Allah membalas kebaikanmu.”

Maka, ketika saya akan beranjak dari tempat duduk, ia tetap memerintahkan saya untuk duduk di tempat. Setelah semuanya beranjak dari tempat duduknya, iapun mendekati saya seraya mengatkan, “Wahai Abu Wadaah, apakah belum terpikir olehmu untuk mencari istri baru?”

Saya menjawab, “Semoga Allah merahmatimu, siapa orang yang mau menikahkan putrinya denganku. Saya adalah seorang pemuda yatim lagi miskin, saya tidak memiliki harta kecuali hanya 2 atau 3 dirham saja.”

Lalu ia berkata kepadaku, “Aku yang akan menikahkan putriku denganmu.”

Maka saya pun terperanjat, seakan-akan mulut saya tidak dapat berbicara. Saya berkata, “Anda….? Apakah anda akan menikahkan putri anda denganku padahal engkau telah mengetahui keadaan saya?”

Ia menjawab, ”Ya, kami apabila melihat seorang itu baik agamanya dan akhlaknya maka kami akan menikahkannya, dan engkau menurut kami adalah orang yang baik agama dan akhlaknya.”

Lalu ia memanggil beberapa orang yang tidak jauh darinya, setelah mereka datang, lalu ia memuji Allah dan bershalawat kepada Nabi-Nya lalu menikahkan saya dengan putrinya dengan mahar uang dua dirham. Setelah akad selesai maka saya pun bangkit, saya seperti orang bingung, saya tak dapat mengucapkan kata-kata karena saking gembiranya.

Lalu saya pun pulang kerumah, dan tatkala itu saya masih berpuasa hingga saya merasa lupa dengan puasa saya. Saya terus berkata, “Celaka engkau wahai Abu Wada’ah, apa yang baru saja engkau lakukan…dari mana engkau akan mendapatkan uang… kepada siapa engkau akan berutang….?”

Hingga tibalah waktu berbuka. Selepas mengerjakan sholat magrib saya segera menuju meja makan yang hanya terhidang roti dan minyak. Baru saja saya memulai satu atau dua kali suapan, tiba-tiba terdengar ada orang yang mengetuk pintu rumahku, saya pun bertanya, ”Siapa?”

Lalu dijawab, “Said.”

Saya pun terkejut karena telah saya teliti tidak ada seorangpun yang bernama Said yang saya kenal kecuali hanya Said bin Musayyib, hal ini tidak seperti biasanya, karena selama 40 tahun tidaklah ia terlihat kecuali hanya berada antara rumah atau mesjid saja.

Hingga saya berpikir panjang berangkali ia berkeinginan untuk membatalkan akad pernikahan yang tadi siang telah ia ucapkan.

Lalu saya katakan, “Wahai Abu Muhammad, mengapa anda tidak mengutus orang saja untuk memberi tahu agar saya yang mendatangi anda?”

Ia menjawab, “Tidak, bahkan hari ini engkau lebik berhak untuk aku datangi.”

Saya katakan, “Kalau begitu silahkan masuk!”

Ia menjawab, “Tidak, aku hanya ingin menyampaikan suatu perkara.”

Saya katakan, “Semoga Allah merahmatimu, perkara apa itu?”

Ia menjawab, “Sesungguhnya putriku sekarang telah sah menjadi istrimu dengan syariat Allah dan akupun tahu tidak ada seorang pun yang dapat menghibur kesedihanmu, dan aku tidak ingin engkau bermalam sendirian sedang istrimu pun bermalam sendirian, maka aku mengantarkannya untukmu.”

Lalu aku menoleh, ternyata putrinya telah berdiri dibelakangnya, lalu ia memerintahkan kepada putrinya, “Wahai putriku sekarang masuklah engkau ke rumah suamimu!”

Maka tatkala dia hendak melangkah seakan-akan kain bajunya mengikat kakinya, karena rasa malu, hingga hampir-hampir saja ia terjatuh, sedang saya….saya hanya berdiri tercengang tidak tahu apa yang akan saya katakan, lalu saya langsung mendahului masuk dan menghampiri meja makan lalu saya pindahkan ke tempat yang gelap agar istri baru saya tidak melihatnya.

Kemudian dengan penuh kegembiraan saya naik ke atas loteng saya seraya memanggil para tetangga, “Kemarilah….kemarilah! Sesungguhnya Said telah menikahkanku dengan putrinya di masjid dan sekarang dia telah datang kerumahku maka kemarilah dan temanilah ia, karena aku akan menjemput ibuku di desa sebelah.”

Maka datanglah seorang nenek keheranan, “Celaka engkau apa yang telah engkau ucapkan, apakah Said telah menikahkan putrinya denganmu lalu memboyongnya datang ke rumahmu….padahal kemarin ia menolak pinangannya Al Walid bin Abdul Malik!”

Aku menjawab, “Benar kemarilah dan lihatlah sekarang dia berada di dalam rumahku.” Maka beberapa tetanggaku pun datang seakan-akan tidak percaya, kemudian mereka mendoakanku dan mengajak bicara istriku.

Tidak seberapa lama datanglah ibuku, tatkala ia melihat istriku yang sangat cantik maka ia memandangiku seraya berkata, “Aku tidak akan berbicara denganmu sebelum aku membawa istrimu pulang dan tinggal bersamaku beberapa hari setelah itu baru akan aku serahkan kepadamu.” Saya katakan, “Silahkan apa yang ibu kehendaki?”

Maka setelah berlalu tiga hari, ibu saya pun datang menyerahkan istri saya, ternyata dia adalah seorang wanita yang paling cantik di kota Madinah, paling menjaga kitabullah, paling banyak merwayatkan hadits-hadits Rasulullah dan wanita yang paling banyak mengerti hak-hak suami.

Lalu saya pun tinggal bersamanya beberapa hari. Lalu saya pun datang kembali menghadiri majlis ayahnya (Said bin Musayyib), saya ucapkan salam dan ia pun menjawabnya dan ia tidak berbicara setelah itu, tatkala pelajaran telah selesai dan semua manusia telah beranjak pergi kecuali saya dan dirinya.

Lalu ia bertanya, “Bagaimana keadaaan istrimu wahai Abu Wada’ah?”

Saya menjawab, “Sungguh ia adalah sebaik-baik orang yang dicintai oleh teman dan dibenci oleh musuh.”

Lalu ia berkata, “Alhamdulillah.”

Dan tatkala saya kembali ke rumah, tiba-tiba saya mendapati bahwa ia telah menyiapkan harta yang sangat banyak untuk mencukupi kebutuhan saya dan istri saya.(A/RS3/P1)

(Sumber: HR. Abu Nuaim dalam Hilyatul Auliya)

 

Mi’raj News Agency (MINA)