Pemukim Ilegal Israel Bakar Lahan Pertanian Palestina di Nablus

Nablus, MINA – Pemukim-pemukim Israel membakar lahan pertanian Palestina dan menyerang rumah-rumah di desa Burin, selatan Nablus pada Rabu (5/5) dini hari.

Ghassan Daghlas, yang memantau kegiatan pemukiman pendudukan Israel di Tepi Barat utara mengatakan, pemukim Israel membakar sebidang besar lahan pertanian di bagian timur kota dan menyerang setidaknya tiga rumah.

“Para pemukim berasal dari Bracha, sebuah pemukiman kolonial ilegal yang dihuni oleh orang-orang Yahudi fanatik garis keras,” katanya, demikian WAFA melaporkan.

Sementara itu, sekelompok pemukim melemparkan batu ke arah kendaraan berpelat Palestina yang melintas di sepanjang Jalan Nablus-Ramallah, dan menyebabkan kerusakan pada beberapa kendaraan.

Kota Burin sering menjadi tempat serangan pemukim ilegal Israel, termasuk menebang pohon zaitun, membakar ladang dan tanaman, mencuri panen zaitun, menyerang para pemanen zaitun dan sukarelawan asing, serta melemparkan Molotov Cocktails ke rumah-rumah di kota tersebut.

Daerah itu, di selatan Nablus, telah mengalami peningkatan serangan para pemukim sejak penembakan dengan kendaraan yang menyebabkan tiga pemukim terluka di persimpangan Tepi Barat utara Zaatara, yang juga dikenal oleh pemukim sebagai Tapuah, pada Ahad lalu.

Penembakan itu menyusul ketegangan yang membara di kota Yerusalem yang diduduki, menyusul keputusan polisi Israel baru-baru ini untuk melarang orang duduk di tangga di luar Bab Al-Amoud (dikenal juga sebagai Gerbang Damaskus), dan upaya untuk secara paksa mengusir puluhan warga Palestina dari rumah mereka di Sheikh Jarrah.

Kekerasan pemukim Israel terhadap warga Palestina dan propertinya sering terjadi di Tepi Barat dan aksi mereka mendapat perlindungan dari polisi Israel.

Ini termasuk pembakaran properti dan masjid, pelemparan batu, pencabutan tanaman dan pohon zaitun, serangan terhadap rumah-rumah yang rentan, antara lain.

Lebih dari 700.000 pemukim Israel tinggal di permukiman khusus Yahudi di seluruh Yerusalem Timur yang diduduki dan Tepi Barat yang melanggar hukum internasional.(T/R6/P1)

Mi’raj News Agency (MINA)