Peneliti Jepang: Persatuan Orang Aceh Modal Merawat Perdamaian

Banda Aceh, MINA – Peneliti konflik dan kelangsungan perdamaian Aceh, Wataru Tohze dari Universitas Kanazawa, Jepang mengatakan persatuan orang Aceh menjadi modal penting merawat perdamaian.

Hal itu disampaikannya dalam salah satu rekomendasi hasil penelitian konflik dan kelangsungan perdamaian Aceh pada Seminar Internasional Conflict Development and Peace Sustainability in Aceh, Rabu (6/3) yang diselesaikan Prodi Pengembangan Masyarakat Islam (PMI) Fakultas Dakwah Dan Komunikasi UIN Ar-Raniry.

“Aceh akan lebih bermartabat jika semua butir perjanjian damai dapat diterapkan dengan baik. Dan yang paling penting sesama orang Aceh harus menjaga persatuan, tetap kompak,” katanya.

Hal lain, Wataru juga mengatakan Aceh jangan minta merdeka sebagai sebuah negara. Tapi minta merdeka menjadi Aceh yang bisa menjalankan segala haknya.

“Tetap merdeka, tetapi bukan sebagai sebuah negara. Merdekalah menjalankan apa yang diinginkan. Aceh harus punya kekuatan dan bisa berbuat untuk apa yang Aceh miliki,” ujarnya.

Ia berharap Aceh dapat terus memperkuat hubungan dengan Pemerintah Indonesia. Karena menurutnya, level damai Aceh masih pada tahap kompromi belum masuk damai sempurna (peace full).

Seminar digelar di Ruang Teater UIN Ar-Raniry itu menghadirkan Wataru Tohze, Peneliti Konflik Dan Perdamaian Aceh Dari Universitas Kanazawa, Jepang, M Nur Djuli, Mantan Juru Runding GAM, Dan Fajran Zain, Mantan Komisioner Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi Aceh (KKR).

Seminar yang dibuka oleh Dekan Fakultas Dakwah Dan Komunikasi Dr Fakhri, S.Sos, MA itu dihadiri seratusan lebih peserta.

Wataru Tohye berbagi terkait hasil penelitian yang dilakukannya terkait konflik Dan keberlangsungan Perdamaian di Aceh.

Ketua Prodi PMI, Dr Rasyidah berharap seminar ini membuka cakrawal berfikir mahasiswa terkait perdamaian dan peran apa yang bisa diambil mahasiswi dalam merawat perdamaian Aceh ke depan.(L/AR/R01)

Mi’raj News Agency (MINA)