Penelitian 100 Ahli: Perang dengan Hizbullah Akan Jadi Paling Mematikan Bagi Israel

Ilustrasi: Ratusan pendukung Hizbullah dan Amal mengendarai iring-iringan mobil di sepanjang Garis Biru, perbatasan yang dibatasi PBB antara Israel dan Lebanon, untuk merayakan 20 tahun sejak pasukan Israel menarik diri dari Lebanon selatan. [@alishoeib1970 /Twitter]

Tel Aviv, MINA – Potensi perang antara pendudukan Israel dan diprediksi akan menjadi perang paling mematikan yang pernah Israel alami sejak awal pendiriannya, berdasarkan studi tiga tahun yang dilakukan oleh 100 ahli di Counter-Terrorism Policy Institute di Reichman University.

Saluran berita Israel, Calcalist, menyoroti analisis suram mengenai potensi perang tersebut, yang memperingatkan akan adanya kehancuran dan pertumpahan darah yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam konflik, yang dapat melampaui ketakutan terburuk pendudukan Israel. Al Mayadeen melaporkan.

Keyakinan itu tertuang dalam laporan lengkap setebal 130 halaman yang merupakan upaya kolaboratif enam tim lembaga think tank, yang terdiri dari 100 pakar, mantan pejabat militer dan keamanan, akademisi, dan pejabat pemerintah.

Tim ini dipimpin oleh Profesor Boaz Ganor, seorang pionir yang diakui secara global dalam apa yang disebut “penelitian terorisme” dan merupakan Presiden Reichman University saat ini.

Laporan ini menggali aspek-aspek penting, termasuk kesiapan pasukan Israel dan front dalam negeri untuk perang multi-front.

Kontributor utama penelitian ini termasuk Mayor Jenderal Cadangan Aharon Ze’evi Farkash, Mayor Jenderal Cadangan Isaac Ben-Israel, Brigadir Jenderal Cadangan Zeev Zuk Ram dan Betzalel Treiber, Kolonel Cadangan Eran Makov, Haim Tomer, dan mantan Menteri Kehakiman Dan Meridor.

Terlepas dari pentingnya temuan ini, Calcalist berpendapat bahwa ada keraguan seputar waktu penerbitan laporan tersebut, yang mengisyaratkan kemungkinan penyembunyian atau manipulasi.

Ganor dilaporkan menyampaikan laporan tersebut kepada berbagai pemimpin militer dan politik Israel pada bulan-bulan menjelang operasi Perlawanan Palestina pada 7 Oktober. Namun, upaya untuk mengingatkan badan keamanan dan pengambil keputusan diduga tidak berhasil, menurut media Israel.

Laporan tersebut disampaikan kepada para pejabat senior Israel selama 40 pertemuan dengan tokoh-tokoh berpangkat tinggi seperti mantan Perdana Menteri Naftali Bennett, Menteri Keamanan Moshe Ya’alon, dan mantan Kepala Staf Aviv Kochavi.

Profesor Ganor mengungkapkan kekecewaannya karena gagal mengadakan pertemuan dengan tokoh-tokoh penting seperti Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, Ketua Dewan Keamanan Nasional Tzachi Hanegbi, dan Kepala Staf Herzi Halevi, meskipun ada banyak permintaan kepada mereka. (T/RI-1/P1)

 

Mi’raj News Agency (MINA)