Penembakan Massal Makin Marak di Era Trump

Washngton, MINA – Pemerintah Amerika Serikat kembali diguncang dua penembakan massal akhir pekan lalu yang merenggut setidaknya 31 nyawa dan melukai puluhan lainnya.

Serangan di El Paso, Texas, pada Sabtu adalah salah satu yang paling mematikan dalam sejarah negara itu, di mana 22 orang tewas dan banyak lainnya terluka dalam penembakan di sebuah pusat perbelanjaan.

Tersangka, Patrick Crusius, 21, seorang pria kulit putih dari Allen, Texas, telah ditahan oleh pihak berwajib.

Crusius sedang menjalani penyelidikan setelah dia diduga mengunggah tulisan rasis yang mengklaim serangan itu sebagai tanggapan terhadap invasi Hispanik di Texas, tulis harian Inggris The Independent yang dikutip MINA.

Dia juga merujuk pada istilah “Penggantian Besar”, teori konspirasi supremasi kulit putih yang mengklaim orang-orang keturunan Eropa secara demografis sedang digantikan oleh ras non-kulit putih.

Penembakan lain di Dayton, Ohio, terjadi hanya 13 jam setelah kejadian di Texas.

Sembilan korban tewas bersama dengan satu-satunya tersangka yang ditembak mati oleh polisi setempat, sementara puluhan lainnya terluka.

Tersangka, Connor Betts, 24, dari Ohio, menargetkan ras kulit hitam dengan motif yang masih belum jelas.

Menurut data yang dikumpulkan oleh The Independent, AS telah mengalami empat penembakan paling mematikan dalam sejarah negara itu sejak Presiden Donald Trump menjabat pada 2017 dan para pelaku adalah pria kulit putih.

Trump memang dikenal dengan kebijakan anti-imigrasinya yang dinilai rasis oleh banyak orang.

Sebelumnya, Stephen Paddock, seorang pria kulit putih berusia 54 tahun, melepaskan tembakan di sebuah konser dari lantai 32 sebuah hotel di Las Vegas pada 2017, menewaskan 58 orang.

Seorang pria kulit putih bernama Devin Patrick Kelley juga menembaki sebuah gereja kecil di Sutherland Springs, menewaskan 25 orang dan janin yang belum lahir.

Sementara di Florida, seorang mantan siswa kulit putih bernama Nikolas Cruz, 19, melepaskan tembakan di Sekolah Menengah Stoneman Douglas, menewaskan 17 anak-anak dan staf sekolah. (T/R03/RS1)

Mi’raj News Agency (MINA)