Pengamat: Anak-Anak Rentan Jadi Korban Berita Hoax

Jakarta, 15 Ramadhan 1438/10 Juni 2017 (MINA) – Pengamat Media Sosial Nukman Luthfie mengatakan, salah satu yang paling rentan terkena dampak dan menjadi korban akibat adanya berita hoax adalah anak-anak.

“Fungsi media sosial yang awalnya sebagai ungkapan ekpresi dan eksistensi diri kini berubah menjadi alat kepentingan serta media informasi dan berita sehingga banyak muncul berita-berita hoax,” kata Nukman Luthfie dalam sebuah diskusi media bertema Bedah Fatwa MUI Muamalah Medsosiah, Jumat (9/6).

Nukman Luthfie mengatakan, gaya hidup masyarakat saat ini sangat banyak menghabiskan waktu dalam beraktifitas di dunia maya minimal 3 jam 16 menit dalam sehari yang digunakan seseorang dalam bermedsos.

Dari data yang dikumpulkan Nukman Salah satu media sosial yang paling banyak memiliki andil besar dalam tersebarnya berita hoax adalah Facebook. “Hal ini juga ditopang dengan kebiasaan warga netizen yang lebih suka menyebarkan berita-berita antimainstream yang kebanyakan adalah hoax,” kata Nukman Luthfie.

Menurutnya, salah satu dampak dan bukti bahayanya berita palsu atau hoax bisa memicu perang antar negara, contohnya persoalan politik di Timur Tengah yang dialami Qatar. “Jika saja FBI tidak merilis data dan bukti pemberitaan palsu tentang Qatar bisa saja terjadi perang,” katanya.

Ia menuturkan, bagian dari upaya menyelesaikan permasalah berita-berita negatif adalah dengan membombardir media sosial dengan konten-konten positif karena tidak mungkin memisahkan media sosial darin kehidupan masyarakat saat ini.

“Adanya Unsur agama dalam solusi permasalah sosial media di masyarakat saat ini akan semakin memperkuat usaha-usaha yang selama ini dilakukan baik pemerintah maupun nonpemerintah. Dan membanjiri dunia maya dengan konten-konten positif adalah solusi yang paling pas, terutama dengan peran pemuda yang saat ini paling banyak mengisi wajah media sosial,” jelasnya. (L/R02/R01)

Mi’raj Islamic News Agency (MINA)