Pengamat: Lobi Kuat Armenia Jadikan AS Bersikap Mendukung

Bendera Amerika Serikat dan Armenia.

Baku, MINA – Bungkamnya Amerika Serikat (AS) terhadap konflik Nagorno-Karabakh dinilai oleh pengamat, lobi kuat Armenia di AS membuat Washington pro kepada Pemerintah Yerevan.

Pengamat Farhad Mammadov menulis di National Interest bahwa lobi Armenia yang kuat di AS telah mengerahkan banyak upaya untuk membentuk kebijakan luar negeri AS menjadi pro-Armenia atas konflik Nagorno-Karabakh, MEMO melaporkan, Kamis (22/10).

“Kegiatan lobi Armenia adalah fakta yang terkenal, dan pengaruhnya terhadap kebijakan luar negeri AS selalu luar biasa,” tulis Mammadov. “Diaspora Armenia telah melobi dengan harapan membentuk kebijakan luar negeri AS menuju sikap pro-Armenia dalam konflik Nagorno-Karabakh.”

Mammadov memberi contoh bagaimana lobi berhasil dalam hal ini. “Salah satu pencapaian signifikan lobi Armenia adalah adopsi dan pemeliharaan Pasal 907 dari Undang-Undang Dukungan Kebebasan, yang telah membekukan bantuan AS ke Azerbaijan,” meskipun “berdampak negatif” bagi kepentingan nasional AS.

Perang Azerbaijan dan Armenia semakin sengit antara Azerbaijan dan Armenia atas Nagorno-Karabakh, wilayah pegunungan yang hanya berpenduduk 150.000 orang di Kaukasus Selatan. Armenia telah kehilangan kendali atas wilayah yang dianggap sebagai zona penyangga antara tanah yang dipermasalahkan dengan Azerbaijan.

Konflik selama puluhan tahun kembali meletus pada 27 September dan sejauh ini telah menewaskan lebih dari 700 orang, termasuk 13 warga sipil dalam serangan Armenia di kota Ganja. Ini terjadi hanya satu minggu setelah serangan lain di kota yang menewaskan 10 warga sipil.

“Armenia masih melakukan kejahatan perang dan pembantaian warga sipil,” komentar Menteri Luar Negeri Turki Mevlut Cavusoglu di Twitter.

Ia mengkritik kebungkaman global atas pembantaian tersebut, dia berkata, “Diam melawan kekejaman ini sama dengan berbagi tanggung jawab atas pembunuhan ini.”

Namun, dalam pernyataan singkatnya, Uni Eropa mengutuk serangan Armenia melalui juru bicaranya Peter Stano, “Semua penargetan warga sipil dan instalasi sipil oleh salah satu pihak harus dihentikan.”

Suara absen yang paling menonjol adalah suara Washington, meskipun AS adalah anggota Minsk Group, sebuah troika yang telah bekerja untuk mengakhiri konflik di Nagorno-Karabakh sejak 1993.

Carey Cavanaugh, mantan perwakilan AS untuk Minsk Group mengatakan setelah seruan untuk gencatan senjata oleh sejumlah kekuatan dunia pada awal Oktober, “AS tidak terkoordinasi dengan diskusi itu.”

Berbicara kepada The Guardian, Thomas de Waal, seorang spesialisasi masalah Kaukasus dengan Carnegie Eropa, mengatakan, “Amerika telah menarik diri dari masalah ini.”

Ketika ditanya tentang hal ini, Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo berkomentar, “Pandangan kami adalah bahwa ini telah menjadi konflik berkepanjangan antara kedua negara dalam bidang real estat khusus ini.” (T/RI-1/P1)

 

Mi’raj News Agency (MINA)