PENGAMAT: MIGRASI PAKSA ADALAH KONSPIRASI MEMECAH IRAK

Warga Irak mengungsi, 13 Oktober 2014. (Foto: Puk Central Council)
Warga Irak mengungsi, 13 Oktober 2014. (Foto: Puk Central Council)

Oman, 16 Rajab 1436/5 Mei 2015 (MINA) – Pengamat Irak Othman Abdul Malik Al-Saadi, menilai perpindahan paksa warga Irak berdasarkan paham kesektean adalah konspirasi yang diciptakan untuk memecah rakyat negeri itu.

“Perpindahan paksa  warga Sunni dan Syiah adalah sebuah konspirasi,” kata dokter Irak yang telah pindah ke Oman, Yordania, Al Monitor melaporkan yang dikutip Mi’raj Islamic News Agency (MINA), Selasa (5/5).

Gelombang besar perpindahan penduduk dan krisis kemanusiaan – kurangnya akomodasi, makanan dan air – telah mengangkat isu perpindahan berdasarkan identitas sektarian, di mana pengungsi Syiah pindah ke daerah Syiah, Sunni pindah ke daerah Sunni.

Migrasi dan perpindahan pada 2004 terjadi menyusul bentrokan antara pasukan keamanan dan Al-Qaeda di Irak yang ditandai dengan aspek sektarian. Banyak penganut Syiah bermigrasi dari daerah yang didominasi Sunni di Irak barat dan utara ke daerah Irak tengah dan selatan yang penduduknya mayoritas Syiah.

Menurut Saadi, mengungsinya puluhan ribu warga Muslim berpaham Sunni dari provinsi Anbar karena adanya serangan kelompok Islamic State atau ISIS, menciptakan kondisi yang memelihara isu sektarian yang sudah lama ada sejak era Saddam Hussein.

“Itu telah dibuat mudah bagi pemuda Sunni untuk bergabung ISIS dan bagi pemuda Syiah untuk bergabung dengan Unit Mobilisasi Populer, bertujuan memecah warga Irak dan membuat orang saling membunuh,” kata Saadi yang merupakan anak ulama Sunni Irak Abdul Malik Al-Saadi.

Era Saddam Hussein dan Al-Qaeda yang banyak membuat warga Kurdi dan Syiah mengungsi, membuat kota-kota berpenduduk mayoritas Syiah menolak puluhan ribu warga Anbar yang berpaham Sunni untuk memasuki kota.

Puluha ribu warga Anbar terpaksa mengungsi ke daerah lain, terutama Baghdad, setelah kelompok ISIS menyerang daerah mereka.

Pengungsi Sunni baru diizinkan masuk ke kota jika mendapat jaminan dari “sponsor” yang merupakan lembaga Sunni lokal, itu pun harus dibatasi ditengah kewaspadaan akan adanya anggota ISIS yang menyusup sebagai pengungsi.

Wartawan dan penulis Ahmed Jabbar Ghareb mengatakan, warga Anbar harus mengungsi ke wilayah berpenduduk mayoritas Syiah karena Anbar dikelilingi oleh gurun dan kota-kota yang dikuasai pemerintah Syiah dan Kurdi.

“Orang-orang dari Anbar terpaksa melarikan diri ke Baghdad dan daerah-daerah Syiah yang mengelilingi provinsi mereka, karena mereka tidak memiliki perlindungan lain, terutama karena daerah sekitarnya adalah gurun yang tidak cocok untuk ditinggali,” katanya. (T/P001/R11)

Mi’raj Islamic News Agency (MINA)

Comments: 0