PENGAMAT TIMUR TENGAH: AS HARUS TEKAN ISRAEL AGAR TUNDUK PADA PERJANJIAN

SMITH ALHADAR-MINA

SMITH ALHADAR-MINAJakarta, 21 Muharram 1436/14 November 2014 (MINA) – Pengamat Timur Tengah, Smith Alhadar mengatakan, Amerika Serikat (AS) harus tekan Israel agar tunduk dan jujur terhadap perjanjian yang telah dibuat.

“AS sebagai negara adidaya harus bertanggung jawab untuk menekan Israel agar tunduk terhadap perjanjian yang telah dibuat, dan harus berbuat jujur terhadap tindakan yang dilakukan Israel,” kata Smith kepada Mi’raj Islamic News Agency (MINA), Jumat (14/11).

Smith yang juga sebagai penasihat pada The Indonesian for Middle East Studies mengatakan,untuk memungkinkan terjadinya perdamaian, AS seharusnya mampu mengajak dan mendesak Israel untuk maju ke meja perundingan dengan Palestina.

Ia menambahkan, AS seharusnya tidak membela Israel secara habis-habisan, karena hal itu membuat Israel semakin berlaku keras kepala, bertindak semaunya, dan melanggar perjanjian-perjanjian yang telah dibuat.

Akhir-akhir ini Israel secara rutin melakukan penyerangan ke Masjid Al-Aqsha, bahkan Seorang Rabi Yahudi memaksa masuk untuk bersembahyang di kompleks terlarang, temasuk anggota Kneset (parlemen Israel).

Smith mengatakan, pelanggaran yang dilakukan Israel tersebut tidak dibawa ke meja hukum. Raja Yordania pun menarik duta besarnya dari Israel dan perlawanan dari Palestina semakin membara.

Pada tahun 1967, Israel menduduki kawasan Al Quds Timur pada peristiwa Perang Timur Tengah.

Israel kemudian menguasai kota Al-Quds pada tahun 1980, lalu mengklaimnya dengan memproklamirkannya sebagai ibukota Yahudi. Namun klaim sepihak itu ternyata tidak pernah diakui oleh masyarakat internasional.

Puncak kekerasan terjadi pada September 2000, yang dipicu oleh kunjungan kontroversial Perdana Menteri Israel Ariel Sharon ke Masjid Al-Aqsa. Tindakan itu memicu meledaknya “Intifada Kedua”, sebuah perlawanan muslim Palestina melawan pendudukan Israel. Perlawanan itu menyebabkan ribuan muslim Palestina syahid.(L/P008/R11)

Mi’raj Islamic News Agency (MINA)

Comments: 0