Pengertian Puasa Ramadhan

Oleh: Ali Farkhan Tsani, Redaktur Senior MINA, Pengasuh Ma’had Nurut Jannah Pandeglang (Manjada) Banten

Puasa (bahasa Arab shaum) secara bahasa berasal dari kata : صَامَ – يَصُوْمُ – صَوْمًا – وَصِيَامًا, artinya : menahan diri dari sesuatu.

Di dalam Al-Quran Surat Maryam disebutkan kata shauman:

فَكُلِي وَاشْرَبِي وَقَرِّي عَيْنًا فَإِمَّا تَرَيِنَّ مِنَ الْبَشَرِ أَحَدًا فَقُولِي إِنِّي نَذَرْتُ لِلرَّحْمَنِ صَوْمًا فَلَنْ أُكَلِّمَ الْيَوْمَ إِنْسِيًّا

Artinya : “Maka makan, minum dan bersenang hatilah kamu. Jika kamu melihat seorang manusia, maka katakanlah: “Sesungguhnya aku telah bernazar shaum untuk Tuhan Yang Maha Pemurah, maka aku tidak akan berbicara dengan seorang manusiapun pada hari ini”. (QS Maryam [19] :  26).

Sedangkan secara istilah puasa artinya menahan diri dari makan, minum, dan berhubungan suami isteri, dari waktu fajar sampai waktu maghrib dengan niat ikhlas karena Allah.

Karena yang kita bahas adalah puasa Ramadhan, maka pengertian menahan tersebut selama puasa pada bulan suci Ramadhan.

Niat ikhlas karena ridha Allah dalam melaksanakan puasa sangat penting sebagai landasan ibadah.

Firman Allah mengingatkan :

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ

Artinya : “Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan keta`atan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.” (QS Al-Bayyinah/98 : 5).

Imam Al-Qurthubi di dalam tafsirnya menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan ikhlas adalah semata-mata mengharap wajah (ridha) Allah, tidak ada tujuan lainnya.

Di dalam Tafsir Al-Jalalain dikatakan bahwa ikhlas artinya bersih dari syirik.

Pentingnya niat dalam melaksanakan ibadah puasa Ramadhan dinyatakan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dalam sebuah hadits :

مَنْ لَمْ يُبَيِّتِ الصِّيَامِ قَبْلَ الفَجْرِ فَلاَ صِيَامَ لَهُ

Artinya : “Barangsiapa tidak berniat berpuasa sebelum fajar, maka tidak ada puasa baginya”. (HR Abu Dawud, At-Tirmidzi, dan An-Nasa’i).

Adapun hakikat puasa, atau menahan diri, bukanlah sekedar menahan diri dari makan, minum dan dari hal-hal yang membatalkan puasa. Namun juga menahan diri dari perbuatan dosa, buruk dan maksiat. Jika tidak, maka puasanya tidak mendatangkan pahala apa-apa kecuali lapar dan dahaga saja.

Dalam hal ini Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam mengingatkan tentang banyaknya orang yang berpuasa. Namun tidak memperoleh apa-apa kecuali lapar. Juga tidak mendapatkan apa-apa pada shalatnya, kecuali lelah. 

كَمْ مِنْ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلاَّ الظَّمَأُ وَكَمْ مِنْ قَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ قِيَامِهِ إِلاَّ السَّهَرُ

Artinya :”Betapa banyak orang yang berpuasa, tidaklah memperoleh  apa-apa baginya dari puasanya selain lapar, dan betapa banyak orang yang mendirikan shalat, tidaklah memperoleh apa-apa baginya dari shalatnya kecuali lelah”. (HR Ad-Darimi dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu).

Pada hadits lain dikatakan:

رُبَّ صَائِمٍ حَظُّهُ مِنْ صِيَامِهِ الجُوْعُ وَالعَطَشُ

Artinya: “Betapa banyak orang yang berpuasa, tapi dia tidak mendapatkan dari puasanya tersebut kecuali rasa lapar dan dahaga.” (HR Ath Thabrani).

Semoga kita dapat memahami makna puasa Ramadhan secara syariat dan hakikat. Sehingga puasa Ramadhan kita dapat meningkatkan derajat takwa, ampunan dan Ridha Allah. Aamiin. (A/RS2/P1)

Mi’raj News Agency (MINA)