Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

PENGHAPUS NILAI SHADAQAH

Admin - Sabtu, 30 Agustus 2014 - 01:08 WIB

Sabtu, 30 Agustus 2014 - 01:08 WIB

1026 Views ㅤ

76534756347564756475646 Oleh : Imam Santoso, Reporter Mi’raj Islamic News Agency (MINA)

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :

 يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا تُبۡطِلُواْ صَدَقَـٰتِكُم بِٱلۡمَنِّ وَٱلۡأَذَىٰ كَٱلَّذِى يُنفِقُ مَالَهُ ۥ رِئَآءَ ٱلنَّاسِ وَلَا يُؤۡمِنُ بِٱللَّهِ وَٱلۡيَوۡمِ ٱلۡأَخِرِ‌ۖ فَمَثَلُهُ ۥ كَمَثَلِ صَفۡوَانٍ عَلَيۡهِ تُرَابٌ۬ فَأَصَابَهُ ۥ وَابِلٌ۬ فَتَرَڪَهُ ۥ صَلۡدً۬ا‌ۖ لَّا يَقۡدِرُونَ عَلَىٰ شَىۡءٍ۬ مِّمَّا ڪَسَبُواْ‌ۗ وَٱللَّهُ لَا يَهۡدِى ٱلۡقَوۡمَ ٱلۡكَـٰفِرِينَ (٢٦٤)

Artinya : “Wahai orang-orang beriman, janganlah kamu menghilangkan [pahala] shadaqahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti [perasaan si penerima], seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya’ kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih [tidak bertanah]. Mereka tidak menguasai sesuatupun dari apa yang mereka usahakan; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.” (QS. Al Baqarah [2] : 264).

Shadaqah merupakan perbuatan yang mulia dalam Islam, karena ia dapat membantu orang lain yang membutuhkan sedekah itu.

Baca Juga: Larangan Memberikan Loyalitas dan Pertemanan dengan Yahudi

Berapa banyak dalil Al-Quran dan Al-Hadits yang menyebutkan kelebihan dan kemuliaan perbuatan bershadaqah. Banyak hal dapat dikategorikan bershadaqah, mulai dari zakat, infak, piutang hingga tersenyum juga dapat termasuk bernilai shadaqah.

Dalam Kitab Arba’in An-Nawawiyah hadits nomor 26, Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu berkata : Rasulullah Shallallahu`Alaihi Wasallam bersabda :

كُلُّ سُلاَمَى مِنَ النَّاسِ عَلَيْهِ صَدَقَةٌ، كُلُّ يَوْمٍ تَطْلُعُ فِيْهِ الشَّمْسُ تَعْدِلُ بَيْنَ اثْنَيْنِ صَدَقَةٌ، وَتُعِيْنُ الرَّجُلَ فِي دَابَّتِهِ فَتَحْمِلُهُ عَلَيْهَا أَوْ تَرْفَعُ لَهُ عَلَيْهَا مَتَاعَهُ صَدَقَةٌ وَالْكَلِمَةُ الطَّيِّبَةُ صَدَقَةٌ، وَبِكُلِّ خُطْوَةٍ تَمْشِيْهَا إِلَى الصَّلاَةِ صَدَقَةٌ وَ تُمِيْطُ اْلأَذَى عَنِ الطَّرِيْقِ صَدَقَةٌ

Artinya : “Setiap anggota tubuh manusia dapat melakukan shadaqah, setiap hari di mana matahari terbit lalu engkau berlaku adil terhadap dua orang (yang bertikai) adalah shadaqah, engkau menolong seseorang yang berkendaraan lalu engkau bantu dia untuk naik kendaraannya atau mengangkatkan barangnya adalah shadaqah, ucapan yang baik adalah shadaqah, setiap langkah ketika engkau berjalan menuju shalat adalah shadaqah dan menghilangkan gangguan dari jalan adalah shadaqah.” (H.R. Bukhari dan Muslim).

Dengan demikian, tidak ada alasan bagi seseorang berputus asa karena tidak mampu bershadaqah. Sebab Allah sudah menyediakan jalan kebaikan untuk bershadaqah, meski bukan berbentuk harta benda.

Baca Juga: Bahaya Sifat Egois

Bahkan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menyebutkan juga dalam haditsnya : ”…Bahkan hubungan yang dilakukan suami isteri juga shadaqah..”. (H.R. Muslim).

Allah menyebutkan di dalam firman-Nya :

  لَّيۡسَ ٱلۡبِرَّ أَن تُوَلُّواْ وُجُوهَكُمۡ قِبَلَ ٱلۡمَشۡرِقِ وَٱلۡمَغۡرِبِ وَلَـٰكِنَّ ٱلۡبِرَّ مَنۡ ءَامَنَ بِٱللَّهِ وَٱلۡيَوۡمِ ٱلۡأَخِرِ وَٱلۡمَلَـٰٓٮِٕڪَةِ وَٱلۡكِتَـٰبِ وَٱلنَّبِيِّـۧنَ وَءَاتَى ٱلۡمَالَ عَلَىٰ حُبِّهِۦ ذَوِى ٱلۡقُرۡبَىٰ وَٱلۡيَتَـٰمَىٰ وَٱلۡمَسَـٰكِينَ وَٱبۡنَ ٱلسَّبِيلِ وَٱلسَّآٮِٕلِينَ وَفِى ٱلرِّقَابِ وَأَقَامَ ٱلصَّلَوٰةَ وَءَاتَى ٱلزَّڪَوٰةَ وَٱلۡمُوفُونَ بِعَهۡدِهِمۡ إِذَا عَـٰهَدُواْ‌ۖ وَٱلصَّـٰبِرِينَ فِى ٱلۡبَأۡسَآءِ وَٱلضَّرَّآءِ وَحِينَ ٱلۡبَأۡسِ‌ۗ أُوْلَـٰٓٮِٕكَ ٱلَّذِينَ صَدَقُواْ‌ۖ وَأُوْلَـٰٓٮِٕكَ هُمُ ٱلۡمُتَّقُونَ 

Artinya : “Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi Sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari Kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. mereka Itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka Itulah orang-orang yang bertakwa”. (Q.S. Al-Baqarah [2] : 177).

Rusaknya Nilai Shadaqah

Baca Juga: Muharram 1446 Saatnya Resolusi Hijrah

Perlu diperhatikan bahwa sebuah perbuatan yang seringkali dilakukan tanpa sadar malah dapat merusak dan melenyapkan nilai shadaqah itu sendiri. Seperti ayat tersebut, menyebutkan perbuatan shadaqah seraya menyakiti si penerimanya justeru membuat amalan baiknya dinilai sia-sia.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam meyebutkan, ada tiga macam manusia yang pada hari kiamat nanti tidak akan diajak bicara, tidak dilihat, tidak diampuni bahkan akan diazab dengan siksa yang pedih. Yaitu orang yang menjulurkan pakaiannya hingga menutupi mata kaki karena sombong, orang yang senantiasa menyebut-nyebut amal kebaikannya sendiri (dengan menyakiti orang lain) dan orang yang berdagang dengan sumpah bohong. (H.R. Muslim)

Banyak orang tertipu karena masalah ini, merasa dengan menyebut shadaqahnya dihadapan orang banyak membuatnya merasa dirinya orang besar dan dermawan. Termasuk juga menghutangkan kepada seseorang dengan menyiarkannya agar orang melihat bahwa dirinya orang baik, hal ini pun termasuk perbuatan yang akan menghapus nilai shadaqahnya. Tanpa diketahuinya, orang yang menerima amal baiknya merasa malu dan sakit hati, sehingga akibatnya bukan pahala yang didapat malah menjadi dosa.

Oleh karena itu, selain menjaga hati agar selalu ikhlas dalam bershadaqah, juga sama pentingnya menjaga lidah agar tidak membuat si penerima merasa dipermalukan dan direndahkan derajatnya. Jangan sampai perbuatan yang sebenarnya dapat dibalas hingga 700 kali lipat malah menjadi sia-sia belaka, atau justeru berbuah dosa.

Baca Juga: Memberantas Judi Online di Masyarakat

Dalam Al-Quran, amalan semacam itu diibaratkan batu licin yang berdebu, kemudian datang hujan deras yang menjadikan batu itu bersih dari debu.

Demikianlah amalan shadaqah yang sia-sia karena disebut-sebut dengan menyakiti perasaan orang lain. Karena itu, waspadalah bahaya lisan ketika kita tengah bershadaqah agar tidak menyakiti siapapun juga.

  قَوۡلٌ۬ مَّعۡرُوفٌ۬ وَمَغۡفِرَةٌ خَيۡرٌ۬ مِّن صَدَقَةٍ۬ يَتۡبَعُهَآ أَذً۬ى‌ۗ وَٱللَّهُ غَنِىٌّ حَلِيمٌ۬

Artinya : “Perkataan yang baik dan pemberian maaf lebih baik daripada shadaqah yang diiringi dengan tindakan yang menyakiti. Allah Maha Kaya Maha Penyantun.” (Q.S. Al-Baqarah [2] : 263).

Mi’raj Islamic News Agency (MINA)

Baca Juga: Istiqamah dalam Da’wah dengan Memperkuat Ukhuwah Islamiyah

Rekomendasi untuk Anda

Tausiyah
Ramadhan 1445 H
Tausiyah
Tausiyah
Feature