Pengumuman Kematian Pertama oleh COVID-19 di Kurdi Suriah Telat Dua Pekan

Jenewa, MINA – Seorang pria berusia lima puluhan menjadi orang pertama yang meninggal akibat wabah virus corona baru di wilayah Kurdi, utara Suriah yang dilanda perang, pengumumannya telat dua pekan.

Badan kemanusiaan PBB OCHA pada Jumat (17/4) mengatakan, pihaknya menerima pemberitahuan pada Kamis tentang kematian itu dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), demikian dikutip dari Nahar Net.

Pada unggahan di Twitter, OCHA mengatakan, WHO memberikan informasi yang menunjukkan bahwa kematian di Rumah Sakit Nasional Qamishli di timur laut Suriah pada 2 April, kemudian dinyatakan positif COVID-19.

Orang itu dikatakan berusia 53 tahun.

“Anggota keluarga lain saat ini dilaporkan juga berada di rumah sakit dengan gejala COVID-19 dengan hasil tes yang tertunda,” katanya. “Pengawasan aktif sedang berlangsung di NES (Suriah Timur Laut) untuk mendeteksi potensi kasus tambahan.”

Baca Juga:  WHO: Kesehatan Dimulai dari Rumah, Bukan Rumah Sakit

Sementara di wilayah yang dikuasai oleh Pemerintah Damaskus, virus corona secara resmi telah menginfeksi 38 orang dan merenggut dua nyawa, yang diumumkan pada 29 dan 30 Maret.

Otoritas Kurdi menuduh pemerntah Presiden Bashar Al-Assad yang memiliki hubungan tegang dengan mereka, gagal memberikan ventilator, alat tes dan peralatan lainnya yang diperlukan untuk mengatasi pandemi COVID-19.

Bulan Sabit Merah Kurdi dan Pemerintah Kurdi sama-sama mengkritik penundaan dua pekan oleh WHO dalam mengumumkan pasien yang meninggal karena COVID-19. (T/RI-1/P1)

 

Mi’raj News Agency (MINA)

Wartawan: Rudi Hendrik

Editor: Ismet Rauf