Pengungsi Rohingya Khawatir Kekerasan Meningkat Pasca-Kudeta di Myanmar

Foto: Suara

Dhaka, MINA – Para Pengungsi Rohingya di Bangladesh khawatir tentang keselamatan saudara-saudara mereka di Negara Bagian Rakhine pasca kudeta yang terjadi di Myanmar.

“Kami khawatir Tatmadaw (tentara Myanmar) akan melancarkan operasi lagi,” kata Muhammad Ansar, 35, salah seorang dari dari 750.000 Rohingya yang melarikan diri dari kekerasan brutal dan penganiayaan tentara pada 2017, kepada Anadolu Agency, Sabtu (6/3).

Ribuan pria, wanita dan anak-anak Muslim dibunuh, dilempar ke dalam api dan diperkosa di negara mayoritas Buddha itu.

Bangladesh menampung lebih dari satu juta orang Rohingya di kamp-kamp darurat yang sempit di Cox’s Bazar, yang dianggap sebagai pemukiman pengungsi terbesar di dunia.

Sementara hampir 600.000 dari mereka masih tinggal di berbagai negara di Asia Tenggara tanpa kewarganegaraan dan hak suara.

Militer Myanmar sekarang mengambil alih kekuasaan dan telah menyatakan keadaan darurat selama setahun.

Para pemimpin sipil, termasuk Aung San Suu Kyi, yang dituduh melanggar undang-undang impor dan ekspor dan kepemilikan perangkat komunikasi yang melanggar hukum, masih dalam tahanan rumah.

“Kami tidak bisa menghubungi kerabat kami di Rakhine karena jaringan seluler sering terganggu. Kami dengar militer mungkin akan melancarkan tindakan keras baru. Saya khawatir,” kata Jumalida Begum (36).

Rahmat Karim (57), mengatakan semua harapan untuk kembali ke tanah air telah hancur setelah militer mengambil alih kekuasaan pada 1 Februari.

“Sepertinya sangat tidak mungkin sekarang,” ujar dia.

Myanmar sebelumnya mengatakan pihaknya berkomitmen untuk repatriasi sesuai perjanjian bilateral dengan Bangladesh. (T/RE1/P1)

Mi’raj News Agency (MINA)