Pengusaha Mesir: Umat Islam Penting Hidupkan Ekonominya

Syaikh Mahmoud Ahmed pengusaha dari Mesir. (Foto: Sakuri/MINA)

Jakarta, MINA – Pengusaha asal Mesir, Syaikh Mahmoud Ahmed mengatakan, umat Islam penting menghidupkan ekonominya. Menurutnya, Islam sejak dahulu sudah mengajarkan tentang ekonomi Islam. Bahkan di dalam Al-Quran banyak disinggung soal sistem ekonomi, seperti misalnya Al-Quran berbicara soal zakat.

Selain di dalam Al-Quran, kajian soal zakat juga dibahas di dalam hadits-hadits Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim.

“Nabi pertama kali menguatkan ekonomi terlebih dahulu. Itu karena ekonomi merupakan sendi kehidupan,” ujar Syaikh Ahmed saat workshop tentang riba di Hotel Amaroosa Grande, Bekasi, Sabtu (2/12).

Selain menguatkan ekonomi, Nabi Muhammad juga di awal perjuangannya di Madinah, hal yang pertama dilakukan adalah meluaskan pasar. Padahal, waktu itu pasar dikuasai oleh orang-orang Yahudi.

Ini sebagai strategi agar orang-orang kafir di luar tidak bisa menguasai pasar di Madinah. Nabi tahu bahwa orang-orang kafir seperti kafir Quraisy, kekuatan utama mereka adalah dalam perniagaan.

“Kalau kita perhatikan secara seksama, strategi ini bukan strategi yang remeh temeh, tetapi sebuah strategi yang cemerlang,” katanya.

Nabi mencoba memutus sumber kekuatan kafir Quraisy, yaitu jalur-jalur perdagangan. Itulah mengapa Nabi beserta para sahabatnya berada di Badar. Sebab, Badar adalah salah satu jalur penting menuju Syam.

“Ketika Nabi dan sahabatnya menang pada perang Badar, dua pelabuhan penting dikuasai,” katanya.

Sementara bagi orang kafir Quraisy, kekalahan ini membuat kerugian. Padahal, sebelum perang, kafir Quraisy memiliki keuntungan hingga 30 persen dari perniagaannya. Setelah itu, keuntungan mereka terpangkas hingga 10 persen.

Dari kisah ini umat Islam bisa mengambil hikmah penting. Nabi melakukan perang bukan semata-mata untuk melakukan agresi terhadap musuh, tetapi lebih kepada untuk menguatkan ekonom umat Islam. Ini terbukti dari perang-perang yang terjadi di daerah pelabuhan.

“Bisa saja Nabi langsung menyerang Makkah yang saat itu dikuasai kafir Quraisy. Tetapi hal itu tidak dilakukan,” katanya. (L/R06/RI-1)

 

Mi’raj News Agency (MINA)