Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Penistaan Agama dari Masa ke Masa

Rendi Setiawan - Selasa, 27 Desember 2016 - 19:25 WIB

Selasa, 27 Desember 2016 - 19:25 WIB

582 Views ㅤ

Islam-yang-Benar.jpg" alt="" width="852" height="527" />Oleh: Rendy Setiawan*

Penistaan agama menjadi isu hangat di penghujung tahun 2016. Adalah Gubernur nonaktif Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok yang menjadi aktor utamanya. Dugaan adanya penistaan agama yang dilakukan oleh Ahok berawal dari tersebarnya cuplikan video singkat di mana Ahok dalam pidatonya di Kep. Seribu, menyinggung surat Al-Maidah ayat 51. Pernyataannya itulah yang kemudian menyulut kemarahan umat Islam seantero Indonesia, bahkan hingga ke luar negeri.

Kemudian juga ada penistaan yang terjadi di Hotel Novita, salah satu hotel berbintang di Jambi yang beberapa hari lalu menampilkan sebuah kalimat dalam bahasa Arab lafadz “Allah” di bawah miniatur gereja untuk perayaan Natal.

Sebetulnya, penistaan agama yang dilakukan oleh Ahok maupun apa yang terjadi di Hotel Novita bukanlah kali pertama terjadi. Penistaan terhadap Islam sudah terjadi di setiap masa sejak Muhammad diutus menjadi seorang Nabi dan Rasul.

Baca Juga: Solidaritas Palestina sebagai Panggilan Jiwa Kemanusiaan

Masa Rasulullah

Suatu ketika di zaman Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam, ada seorang wanita Arab di Madinah datang membawa barang untuk dijual di Pasar Bani Qainuqa’, kemudian ia duduk bersebelahan dengan orang Yahudi penjual emas dan perak.

Orang-orang Yahudi meminta wanita Arab tersebut membuka wajahnya, namun ia bersikukuh menolak mengabulkan permintaan mereka. Tukang emas dan perak mendekat ke ujung pakaian wanita Arab tersebut dan mengikatkannya ke punggung wanita Arab tersebut. Ketika wanita Arab itu berdiri, terbukalah auratnya dan orang-orang Yahudi pun tertawa terbahak-bahak karenanya.

Mendapatkan perlakuan seperti itu, wanita Arab itu berteriak keras, kemudian salah seorang dari kaum muslimin meloncat ke tukang emas dan perak yang Yahudi itu dan membunuhnya. Orang-orang Yahudi lainnya tidak tinggal diam. Mereka menarik lelaki muslim tersebut dan membunuhnya. Karena kejadian tersebut, keluarga orang muslim yang terbunuh berteriak memanggil kaum muslimin sembari menyebutkan ulah orang-orang Yahudi. Kaum muslimin pun marah kemudian terjadilah perang antara mereka melawan orang-orang Yahudi.

Baca Juga: Puasa Asyura 10 Muharram Menghapus Dosa Setahun yang Lalu

Kisah ini sudah sangat terkenal di kalangan kaum muslimin yang menjadi penyebab meletusnya Perang Bani Qainuqa’. Namun sangat mengherankan masih saja banyak dari kaum muslimin saat ini tidak mengambil pelajaran terpenting darinya, yaitu disyariatkannya membela kaum muslimin yang didzalimi.

Kemudian kisah lain ada seorang munafik bernama Abi Sarah yang ditugaskan untuk menulis wahyu. Abi Sarah berbalik menjadi murtad dan kafir, kemudian mengumumkan kemurtadannya terhadap Islam dan berbalik pada kelompok orang-orang kafir Quraisy di kota Makkah.

Ketika Abi Sarah ditanya oleh para kafir musyrikin terhadap pengalamannya pernah diminta untuk menuliskan wahyu, dengan bangganya Abi Sarah mengatakan bahwa ternyata Nabi Muhammad itu dapat aku “bodohi”. Ketika dia mengeja kepadaku ayat “Aziizun Hakim” aku justru menuliskan “Alimun Hakim” dan Muhammad mempercayainya begitu saja.

Tentu saja lelucon Abi Sarah yang bermaksud menghinakan Al-Qur’an sekaligus mencemooh nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam disambut gelak tawa kepuasaan pembenci Islam. Mereka seakan menganggap bahwa Rasulullah gampang dibodohi dan dibohongi hanya oleh seorang bernama Abi Sarah.

Baca Juga: Negara-Negara Eropa terus Persenjatai Israel

Berita kebohongan yang disampaikan oleh Abi Sarah pun telah sampai ke telinga Rasulullah dan para sahabat. Apa yang terjadi kemudian? Apakah berita itu dianggap kabar angin saja? Ternyata tidak! Penghinaan dan penistaan terhadap kalamullah sekaligus Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam memiliki hukum tersendiri hingga menyebar ke beberapa jazirah di negara Arab, usaha selanjutnya adalah membebaskan kota Makkah yang lebih dikenal dengan istilah Futuh Makkah.

Ketika umat Islam telah berhasil membebaskan kota Makkah, kaum kafir Quraisy menyerah tanpa syarat. Mereka tunduk atas segala ketentuan serta balasan terhadap permusuhan mereka terhadap kaum muslimin beberapa tahun yang lalu.

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam memaafkan segala bentuk kekerasan, kekejaman serta permusuhan kafir Quraisy Makkah. Namun, ada satu hal yang tidak terlupakan. Ingatan kaum muslimin terhadap penghinaan serta penistaan Islam yang pernah dilakukan seorang munafik bernama Abi Sarah tidak serta merta hilang begitu saja. Apa tindakan balasan atas penghinaan Abi Sarah terhadap Al-Qur’an?

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam dengan tegasnya memerintahkan para pasukan elit untuk mencari Abi Sarah serta beberapa orang yang melakukan penistaan yang sama, seperti Abdullah bin Hilal bin Khatal dan Miqyas bin Shubabah. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam menginstruksikan ketiga orang ini untuk dieksekusi mati sekalipun mereka bergantung di sisi Ka’bah.

Baca Juga: Sejarah Singkat Al-Aqsha Sejak Nabi Adam Hingga Kini

Masa Khulafaur Rasyiddin

Dua kisah di atas penistaan terhadap ajaran Islam yang terjadi di zaman Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam terus berlanjut hingga masa Khlafaur Rasyidin. Penistaan terhadap Islam terjadi ketika Abu Bakar Ash-Shiddiq menjadi khalifah kaum muslimin menggantikan peran Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam dalam memimpin umat.

Di awal masa kepemimpinannya, Khalifah Abu Bakar harus berhadapan dengan para pembangkang zakat. Jadi Islam dihadapkan pada dua keadaan, antara tetap eksis atau lenyap seketika. Penyebabnya adalah penyakit hati berupa bakhil (pelit) yang meracuni mayoritas kabilah-kabilah Arab, karena nabi telah tiada. Mereka merasa cukup telah berislam bila telah membayar zakat fitrah (individu) berupa 1 sha’ bahan makanan pokok, tanpa mau membayar zakat harta. Padahal ini satu pokok dari Rukun Islam.

Kabilah-kabilah Arab yang murtad ini, berani mengusir amil zakat utusan khalifah untuk memungut zakat di kabilah mereka. Mereka hanya bersedia membayar zakat fitrah saja, dan menolak membayar zakat maal. Bahkan ada di antara mereka yang menolak membayar zakat apapun, karena Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam telah wafat. Kata mereka tidak ada kewajiban zakat lagi atas mereka, sebab mereka bersyahadat kepada Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam bukan kepada Abu Bakar. Tentu saja Khalifah Abu Bakar radhiyallahu anhu pun marah.

Baca Juga: Perhatian Nabi Muhammad terhadap Masjid Al-Aqsa

Khalifah Abu Bakar mengatakan: “Demi Allah, saya akan perangi setiap orang yang memisahkan shalat dan zakat. Zakat adalah kewajiban yang jatuh pada kekayaan. Demi Allah kalau mereka menolak saya dalam membayarkan apa-apa yang dulu mereka bayarkan kepada Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam, saya akan perangi mereka!”

Dan Khalifah Abu Bakar bukan cuma bicara, ia lalu benar-benar mengirim laskar untuk memerangi mereka, agar mereka bertaubat dan mau membayar zakat. Karena mayoritas kabilah di Jazirah Arab murtad, dan tidak tersisa selain di pusat kepemimpinan Islam yang masih kuat, yaitu di Madinah dan Mekkah.

Masa Kini

Akhir tahun 2015 kemarin, dunia heboh terkait adanya pelecehan terhadap Islam. Dengan mengatasnamakan kebebesan berekspresi dan kebebasan berpendapat, majalah Satir Charlie Hebdo sengaja menampilkan cover-cover karikatur Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.

Baca Juga: Nabi Ishaq, Ya’qub dan Yusuf di Baitul Maqdis, Palestina

Sikap ‘kurang ngajar’ terhadap umat Islam itu sudah berulang kali dilakukan Charlie Hebdo, dengan tujuan melecehkan umat Islam. Secara logika, tak ada alasan satu pun bagi Charlie Hebdo menampilkan karikatur Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam yang sudah wafat belasan abad lalu, kecuali dengan tujuan untuk memancing emosi dan menyudutkan kaum muslimin.

Akibat pelecehan yang sudah berulang kali dilakukan oleh Charlie Hebdo itu, puncaknya adalah aksi penembakan oleh orang tak dikenal di kantor pusat Charle Hebdo di Perancis yang menewaskan 12 orang. Korban tewas termasuk pemimpin redaksi dan kartunis majalah tersebut bernama Stephane Charbonnier yang juga dikenal dengan nama ‘Charb’.

Selain itu, ada pula korban yang merupakan kartunis bernama Jean Cabu (Cabu), Bernard Verlhac (Tignous) dan Georges Wolinski (Wolinski). Mereka selama ini terkenal karena berulang kali menerbitkan karikatur Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, demikian dilaporkan AFP, Kamis (8/1/16).

Beberapa menit sebelum terjadi tembakan itu, Charlie Hebdo sempat men-tweet kartun pemimpin kelompok militant ISIS, Abu Bakr al-Baghdadi. Sebelumnya pada November 2011, kantor majalah satire ini pernah dilempari bom sehari setelah menyajikan karikatur Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.

Baca Juga: Muharram 1446 Saatnya Resolusi Hijrah

Sekelompok pihak mengatakan bertanggung jawab atas peristiwa tragis itu. Alasannya, penembakan itu adalah hal wajar yang harus diterima oleh Charlie Hebdo, sebab mereka sudah dengan sengaja berulang kali berulah melecehkan Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam. “Itu adalah pelajan bagi penghina Nabi. Tidak ada kebebesan yang mutlak di dunia ini,” kurang lebih begitulah pengakuan pihak yang bertanggung jawab atas aksi tersebut.

Dari beberapa kejadian di atas, banyak ibroh yang bisa kita ambil, pertama tidak ada satupun alasan yang dibenarkan untuk merendahakan ajaran Islam. Rasulullah pernah bersabda: “Islam adalah agama yang tinggi, tidak ada yang lebih tinggi darinya.” Kedua, Islam tidak pernah menghendaki permusuhan, kecuali memang jika dimusuhi terlebih dahulu.

Dalam hal menyikapi para penebar fitnah penistaan agama, Islam tidak main-main. Para ulama salaf maupun ulama khalaf sepakat bahwa hukuman bagi penghina Al-Qur’an, maupun penghina Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam maupun ajaran yang dibawanya adalah hukuman eksekusi mati. Bahkan banyak para ulama yang menulis khusus kitab-kitab yang berkenaan dengan sanksi hukum bagi penghina Al-Qur’an dan penghina Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam serta ajaran yang dibawanya.

Tentu dalam menjalankan hukum Islam ada koridornya, tidak asal eksekusi, tidak asal srudak-sruduk, harus tetap pada etika dan penegakkan yang adil serta membawa rahmat. (R06/P02)

Baca Juga: Muslim di Negeri Tirai Besi, Rusia

Mi’raj Islamic News Agency (MINA)

*Penulis adalah mahasiswa Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Al-Fatah Cileungsi

Baca Juga: Manajemen atau Pengelolaan, Bukan Hanya Perencanaan

Rekomendasi untuk Anda

Khadijah
Kolom
Sosok
Kolom
Palestina
Indonesia
Timur Tengah
Khadijah