Pentingnya Keyakinan dalam Perjuangan

Oleh Ahmad Zubaidi Ibnu Ardani (Amir Tarbiyah Pusat Jama’ah Muslimin /Hizbullah)

Sapu lidi jika hanya tiga batang tak akan bermanfaat kecuali untuk mengusir satu atau dua ekor lalat saja. Untuk membersihkan sampah tidak mungkin. Lidinya banyak tetapi jika tak terikat kuat tak banyak manfaat, bahkan akan menambah sampah. Banyak terikat tetapi jika panjangnya tak sama juga tak akan powerful. Jumlah lidi harus banyak, terikat kuat paanjangnya sama kalau pemakainya bukan seorang yang sholeh bisa jadi sapu lidi tersebut dijadikan alat untuk buat kerusuhan.

Ibroh apa? Sapu lidi adalah keyakinan seseorang atau masyarakat dan sampah adalah ujian, tantangan dan hambatan perjuangan yang dihadapi. Yang dapat mengubah prilaku  hanyalah  keyakinan, bukan sekedar ilmu. Banyak orang yang ilmunya banyak tetapi ia tak mampu merubah prilakunya, apalagi prilaku masyarakatnya. Jika sesorang atau  masyarakat memiliki keyakinan yang kuat didasari ilmu tentunya, dipimpin oleh orang yang sholeh (imam) insya Allah ujian tantangan sebesar apapun dengan pertolongan Allah Subhanahu Wa Ta’ala akan dapat diatasi.

Teladan telah terhampar di depan mata kita, di antaranya: pertama, hamba Allah Bilal bin Rabbah ra, seorang budak dengan keyakinan yang bersumber wahyu yang disampaikan oleh Rasulullah SAW, walaupun disiksa tuannya dengan siksaan yang sangat berat, tetapi yang keluar dari lisannya ”ahad”, ”ahad”, ”ahad”. Sampai akhirnya Allah SWT mengirim pertolongan-Nya melalui Sayidina Abu Bakar Radhiyallahu Anhu.

Abu Bakar membeli Bilal bin Rabbah ra dari tuannya dan dia bebaskan menjadi orang merdeka. Bilal Radhiyallahu Anhu mengubah prilaku musyrik menjadi prilaku orang yang bertauhid. Dengan keyakinan yang benar, dengan bimbingan Nabi Muhammad SAW jadilah ia orang mulia, sampai suara terompahnya sudah didengar Rasullah SAW di Surga.

Kedua, Imam pertama Allahumma Yarham Wali Al-Fattaah ketika merintis dan mengajak muslimin untuk berjuang mengamalkan Islam secara kaffah dengan mengamalkan sunah Rasulullah SAW hidup berjamaah, sedikit sekali dari muslimin yang menerimanya, bahkan ada yang komentar “Apa-apaan Pak Wali ini akan membawa kita kembali ke zaman unta.”

Dalam perjalanan ujian demi ujian, dihadapkan kepadanya. Ujian juga dihadapkan kepada muslimin yang mengamalkan ajakannya. Dengan keyakinan yang teguh akan kebenaran dalil-dalil wajibnya berjama’ah, Alhamdulillah Wali Al-Fattaah maupun muslimin yang mengikutinya dapat menghadapinya. Jama’ah terlaksana sebagai bagian ibadah muslimin, sampai hari ini semakin terbukti dan semakin membumi.

Banyak sudah hal-hal yang secara nalar tak mungkin dilakukan tetapi dengan kepemimpinan Imaamul Muslimin dan keyakinan penuh dapat terwujud dengan baik. Sungguh benar  firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang artinya: ”Jika kamu menolong Allah, pasti Allah akan menolongmu.“ Memang dengan Ilmu saja tidak cukup, mesti dengan ilmu, iman dan keyakinan.

Bagaimana keyakinan dapat dimiliki oleh seseorang? Setidaknya antara lain sebagai berikut.

Pertama dengan berdoa. Rasulullah SAW mengajarkan kepada kita untuk berdoa, di antaranya “Ya Allah anugerahkan kepadaku rasa takut kepada-Mu sehingga dapat  menghidarkan  kami untuk  memaksiati-Mu. Ya Allah anugerahkan kepadaku ketaatan kepada-Mu sehingga dapat membawa kami menuju surga-Mu. Ya Allah anugerahkan kepadaku keyakinan agar kami ringan dalam mengahapi ujian dan mushibah duniaku.“

Dengan doa itu Rasulullah SAW mengajarkan kepada kita untuk mencapai cita-cita tinggi dengan memilki keyakinan yang teguh sehingga dapat mengatasi segala ujian, cobaan, musibah apapun. Cita-cita tertinggi sering gagal tercapai karena seseorang tidak memiliki keyakinan  yang teguh tak sanggup menghadapi musibah atau rintangan yang menghadang.

Kedua, dengan mengamalkan ilmu dengan penuh kesungguhan dan ikhlas. Amalkan ilmu yang Allah SWT anugerahkan kepada kita sekecil apapun dengan penuh kesungguhan dan ikhlas, terus amalkan sampai Allah SWT anugerahkan keyakinan akan kebenaran ilmu Allah SWT tersebut. Bermula dari ilmu yang kita amalkan dengan penuh kesungguhan dan ikhlas, Allah SWT buka mata hati kita akan kebenaran tampak jelas di depan mata kita (keyakinan). Dengan keyakinan Allah SWT mengantar kita sampai kepada haqqul yakin menuju surga-Nya. Firman Allah SWT “Ittaqullah haqqa tuqatih” juga “wajahidu fillahi haqqa jihadih.”

Ketiga, dengan banyak tafakur. Tafakur adalah perpaduan antara berfikir dan berdzikir. Contoh bertafakur mengenai musibah. Bila kita pikir dengan akal, maka: 1). Musibah adalah sesuatu yang buruk, 2). Tidak ada seorangpun yang mau menerima musibah, 3). Musibah sering kita samakan dengan nasib sial, 4). Musibah itu akibat perbuatan jahat orang lain, 5). Musibah juga akibat kecerobohan kita saja.

Dari proses berfikir tersebut menghasilkan output antara lain: 1). Wajar orang mengalami stress ketika tertimpa musibah, 2). Orang yang tertimpa musibah itu adalah orang yang sial, 3). Berbuatlah dengan perhitungan yang matang agar tak tertimpa musibah.

Hasil ini akan berbeda bila disertai zikir (menghadirkan nuansa Ilahiyyah) dalam kalbu kita: 1). Allah SWT selamanya Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, 2). Allah Maha Adil tidak dzalim kepada hamba-Nya, 3). Allah Maha Mengetahui segalanya sekaligus juga Maha Mengatur yang suci, 4). Allah Maha Mendengar doa hamba-Nya.

Interaksi (perpaduan) antara pikir dan zikir sebagaimana yang disebutkan di atas akan menhasilkan keyakinan yang benar sebagai berikut:

  • Tidak wajar bila kita stress ketika mengalami musibah. Bukankah itu merupakan bagian dari doa kita “Ihdinasshirotol mustaqim“?
  • Bila Allah SWT memberikan musibah, yang ingin Dia berikan kepada kita adalah Hikmah. Kata orang bijak “banyak nikmat yang dilipat di antara taring-taring bencana.“
  • Bila awan tak menangis mana mungkin taman akan tersenyum.
  • Musibah adalah tanda cinta Allah SWT pada kita. Dia memberikan peluang kepada kita untuk meningkatkan ketaqwaan. Bukankah semulia-mulia orang adalah orang yang paling bertaqwa.

Keyakinan yang teguh, orang–orang yang di miliki orang orang yang beriman yang menyertai Rasullullah yang di abadikan Allah dalam surat Al Ahzab : 22 dan surat Ali Imron : 173-174 yang artinya, “Dan tatkala orang-orang mukmin melihat golongan-golongan yang bersekutu itu, mereka berkata, “Inilah yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada kita”. Dan benarlah Allah dan Rasul-Nya. Dan yang demikian itu tidaklah menambah kepada mereka kecuali iman dan ketundukan.

Ayat lain mengatakan yang artinya, (Yaitu) orang-orang (yang mentaati Allah dan Rasul) yang kepada mereka ada orang-orang yang mengatakan: “Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka”, maka perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab: “Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung. (Qs: Ali Imran | Ayat: 173).

Maka mereka kembali dengan nikmat dan karunia (yang besar) dari Allah, mereka tidak mendapat bencana apa-apa, mereka mengikuti keridhaan Allah. Dan Allah mempunyai karunia yang besar. Semoga kita dapat meneladani mereka  wallahua’lam bisowaf. (A/RS3/RI-1)

Mi’raj News Agency (MINA)