Penyelidikan PBB: Kejahatan Perang dan Kejahatan Kemanusiaan di Libya

Tripoli
Perayaan 9 tahun revolusi Libya di Lapangan Martir, Tripoli, 17 Februari 2020. (Foto: Hazem Turkia/AA)

Jenewa, MINA – Kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan, termasuk penggunaan tentara anak-anak, telah dilakukan di Libya sejak 2016, sebuah penyelidikan PBB mengungkapkan pada Senin (4/10).

Misi Pencari Fakta Independen di Libya, yang ditugaskan oleh Dewan Hak Asasi Manusia PBB, mengatakan, para migran dan tahanan sangat rentan terhadap pelanggaran.

Laporan misi tersebut mengungkapkan, ranjau darat telah membunuh atau membuat cacat banyak orang, para migran yang menuju Eropa menghadapi pelecehan di pusat-pusat penahanan dan di tangan para pedagang, tahanan yang mendekam di penjara disiksa dalam kondisi mengerikan, sementara wanita banyak yang dibunuh atau hilang, The New Arab melaporkan.

“Ada alasan yang masuk akal untuk percaya bahwa kejahatan perang telah dilakukan di Libya, sementara kekerasan yang dilakukan di penjara dan terhadap migran mungkin merupakan kejahatan terhadap kemanusiaan,” kata misi tersebut dalam sebuah pernyataan.

Kerusuhan di negara Afrika utara itu memiliki dampak dramatis pada hak-hak ekonomi, sosial dan budaya Libya, seperti rumah sakit dan sekolah yang mendapat serangan.

“Semua pihak dalam konflik, termasuk negara ketiga, pejuang asing dan tentara bayaran, telah melanggar hukum kemanusiaan internasional, khususnya prinsip proporsionalitas dan pembedaan, dan beberapa juga telah melakukan kejahatan perang,” kata Mohamed Auajjar, yang memimpin misi beranggotakan tiga orang.

Misi tersebut mengatakan telah mengidentifikasi individu dan kelompok – baik Libya maupun asing – yang mungkin bertanggung jawab atas pelanggaran dan kejahatan.

Daftar tersebut akan tetap rahasia sampai dapat dibagikan dengan mekanisme akuntabilitas yang sesuai.

Meskipun otoritas kehakiman Libya sedang menyelidiki sebagian besar kasus yang didokumentasikan dalam laporan tersebut, prosesnya “menghadapi tantangan yang signifikan”, kata para ahli. (T/RI-1/P1)

Mi’raj News Agency (MINA)