Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

PERAN MEDIA MASSA ISLAM ATASI KRISIS UMAT*

Rana Setiawan - Sabtu, 20 Juni 2015 - 05:38 WIB

Sabtu, 20 Juni 2015 - 05:38 WIB

1398 Views

(Foto: Dok. Al-Bayan)
(Foto: Dok. Al-Bayan)

Syeikh Dr. Ahmad Ash-Showayan. (Foto: Dok. Al-Bayan)

Oleh: Syeikh Dr. Ahmad Ash-Showayan (Pemred Majalah Islam Internasional Al-Bayan Arab Saudi)**

Media memiliki pengaruh yang begitu besar dalam kehidupan masyarakat. Medialah yang membentuk pemikiran, nilai-nilai serta prinsip-prinsip masyarakat. Selain itu, media juga mampu membangun sikap sosial dan pandangan politik mereka.

Negara mana pun yang mampu menguasai media informasi maka akan dengan mudah menciptakan satu pengaruh tertentu dalam kehidupan masyarakatnya bahkan dunia, timur dan barat.

Maka tak heran jika bangsa Yahudi yang menguasai hampir 90 % informasi dan pemberitaan melalui industri media, mampu menciptakan pengaruh yang begitu besar dalam kehidupan masyarakat dunia.

Baca Juga: Gencatan Senjata Gaza: Jaminan dan Skenario Pascaperang

Melalui media, bangsa Yahudi menyebarkan secara massif berita-berita dan segala bentuk informasi yang berisi nilai-nilai budaya serta prinsip-prinsip yang mereka anut. Misalnya saja industri perfilman Hollywood. Film-film produksi Hollywood menjadi satu media penting Yahudi dalam mempromosikan gaya hidup, nilai-nilai, budaya serta prinsip-prinsip hidup mereka. Bahkan melalui film, mereka bisa merubah sikap, moral serta keyakinan masyarakat, tak terkecuali masyarakat muslim.

Pengaruh perfilman Hollywood dalam merubah tatanan nilai serta budaya suatu masyarakat dirasakan betul oleh bangsa Eropa, terutama Perancis. Serbuan nilai asing dalam banjir sinema Hollywood di Negara Perancis menyebabkan identitas budaya serta nilai-nilai bangsanya tersingkir dari masyarakatnya serta menjadi minoritas di hadapan nilai-nilai asing. Industri perfilman Hollywood membawa satu realita baru dalam kehidupan bangsa Perancis dan Eropa.

Kegelisahan ini yang kemudian mendorong Perancis mengeluarkan kebijakan yang disebut dengan The Cultural Exception Policy. Melalui The Cultural Exception Policy, sejak 1994 Pemerintah Perancis telah berupaya membatasi sebaran film Amerika Serikat untuk menjaga identitas budaya mereka dan mengangkat produksi film lokal dari 761 (2004) menjadi 789 (2005). Kebijakan ini kemudian diterapkan pula oleh European Community demi menyelamatkan identitas budaya asli mereka. Gagasan itu kemudian ramai diperbincangkan masyarakat Eropa. Meski tidak sedikit di antara mereka yang memprotes kebijakan ini karena dianggap membatasi demokrasi mereka namun akhirnya tetap saja The Cultural Exception Policy diterapkan oleh mereka.

Kalau Eropa saja menyadari betapa bahaya serbuan budaya Amerika melalui media informasi seperti sinema, padahal antara keduanya memiliki kedekatan nilai-nilai dan budaya, maka bagaimana halnya dengan negeri-negeri muslim? Bahaya media baik Amerika maupun Eropa tidak disadari dengan baik oleh negeri-negeri muslim yang pada akhirnya menyebabkan runtuhnya nilai-nilai Islam di dalam kehidupan masyarakatnya di tengah serangan budaya asing yang begitu gencar.

Baca Juga: Peristiwa-peristiwa Bersejarah di Hari As-Syura

Sangat disayangkan, kenyataan di atas diperparah dengan kondisi media massa di negeri-negeri muslim terutama negara-negara Arab. Media massa di Arab justru menjadi alat hegemoni budaya Barat dengan menyebarkan nilai-nilai serta budaya mereka.

Setidaknya ada tiga kesalahan besar yang dilakukan oleh media massa di negara-negara muslim terutama negara-negara Arab.

Pertama, media massa di negara-negara muslim menciptakan kebingungan dan kecemasan di tengah-tengah masyarakat muslim.

Sangat disayangkan media massa negara-negara Islam justru menyebarkan paham, pemikiran dan budaya yang menyimpang di tengah-tengah masyarakat muslim. Banyak di antara mereka yang justru mempromosikan musik dan tarian. Menyibukan masyarakat dengan program-program yang semakin menjerumuskan mereka ke dalam budaya yang kosong dari tujuan, prinsip dan nilai-nilai mulia. Inilah yang kemudian menyebabkan timbulnya kebingungan dan keresahan di tengah masyarakat.

Baca Juga: Bahaya Sifat Egois

Kedua, media massa di negeri-negeri muslim justru menamamkan identitas baru yang direproduksi dari identitas masyarakat Barat. Satu bentuk identitas yang oleh Barat dijadikan sebagai alat untuk menghancurkan masyarakat muslim. Identitas yang kental dengan nilai-nilai dan budaya Barat.

Maka tak heran kita dapati di antara media massa di dalam masyarakat muslim yang menjadi media massa kiri, media massa liberal, media massa komunis, media massa hedonis dan lain sebagainya.

Kita berada di tengah situasi di mana media massa kita telah menjadi alat promotor pemikiran dan budaya Barat. Hampir tidak kita dapati media massa yang memiliki satu identitas tersendiri.

Ketiga, media massa kita mengalihkan fokus perhatian muslimin dari isu besar yang menyangkut agama mereka. Di antara isu yang hilang dalam perhatian muslimin adalah isu Al-Aqsha.

Baca Juga: Solidaritas Palestina sebagai Panggilan Jiwa Kemanusiaan

Masjid Al-Aqsha memiliki kedudukan yang sangat penting dalam hati umat Islam. Kedudukannya telah berakar dalam akidah mereka. Namun, Al-Aqsha juga menempati hati kaum Yahudi. Isu Masjid Al-Aqsha pun menjadi isu persengketaan antara umat Islam dan Yahudi. Maka tak heran jika Yahudi berusaha merampas tanah Al-Quds dan mengusir saudara-saudara kita dari sana.

Meski merupakan isu sentral umat Islam, namun sayang sekali isu ini tidak mendapat perhatian serius dalam dunia Islam. Di media massa kita, persoalan Al-Aqsha bukanlah isu utama, yang muncul sesaat namun kemudian lenyap seketika. Bahkan media berusaha mengaburkan isu Al-Aqsha dan memberikan gambaran yang tidak benar terkait Al-Aqsha.

Persoalan Al-Aqsha erat kaitannya dengan kehidupan muslimin. Al-Aqsha merupakan salah satu identitas kemajuan, peradaban serta kebangkitan muslimin. Namun kini kita hampir tidak mendapati isu ini dibahas mendalam, serius dan terus-menerus oleh media massa kita karena tenggelam di tengah pusaran isu-isu lainnya.

Itulah di antara bahaya media massa barat yang berusaha keras menjauhkan kita, muslimin, dari ajaran agama Islam yang lurus.

Baca Juga: Puasa Asyura 10 Muharram Menghapus Dosa Setahun yang Lalu

Dengan demikian umat Islam membutuhkan satu media alternatif. Media yang menjadi identitas umat Islam. Berakar, tumbuh dan berkembang di atas dasar aqidah Islam yang bersumber dari mata air Al-Quran dan asSunnah. Media demikianlah yang akan menyebarkan nilai-nilai Islam yang membangun, penuh kedamaian dan keadilan di semua aspek kehidupan muslimin; ekonomi, pendidikan, politik serta budaya.

Untuk itu, mulai saat ini umat Islam harus memiliki perhatian serius untuk menciptakan industri media massa alternatif yang membentuk identitas dan karakter mereka. Kita tidak cukup hanya mengkritisi serta melawan media massa barat tanpa menawarkan satu media alternatif di tengah masayarakat. Media yang bermanfaat dan mampu memberikan perubahan positif, menampilkan citra Islam sebagai agama yang penuh dengan kedamaian dan kasih sayang.

Agama Islam merupakan agama rohmah, penuh kasih sayang. Islam mengajarkan cinta dan perdamaian. Untuk itu, di antara tujuan diutusnya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam adalah sebagai rahmat bagi seluruh alam dan menyelamatkan manusia dari kerusakan dan kekacauan.

Oleh karenanya, ajaran rohmah ini harus menjadi nilai dasar dalam identitas umat Islam dan media massa mereka. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Barangsiapa yang tidak menyayangi maka dia tidak akan disayangi.”

Baca Juga: Negara-Negara Eropa terus Persenjatai Israel

Nilai kasih sayang ini merupakan nilai dasar dan utama yang harus ada dalam media massa Islam, yang kemudian menjadi cermin bagi hubungan politik, sosial, serta hubungan antar bangsa dan peradaban. Inilah perwujudan Rahmah yang diharapkan mendatangkan kebaikan dalam kehidupan umat manusia. Maka kita sebagai umat Islam adalah putra-putra ar-rohmah.

Dalam satu haditsnya, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda yang artinya “Kerugian dan sengsaraan seorang hamba disebabkan karena di hatinya tidak ada kasih sayang sesama manusia.”

Rohmah. Itulah makna yang harus senantiasa hadir di hati seorang muslim. Senantiasa hadir di media massa Islam. Senantiasa hadir dalam budaya dan identitas umat Islam. Dari kasih sayang inilah kemudian lahir nilai keadilan, kejujuran, amanah, ketundukan dan keikhlasan yang tulus karena Allah Ta’ala. Dengan nilai-nilai ini, memungkikan media massa Islam memeluk hati banyak umat manusia.

Risalah Islam merupakan misi dan tanggung jawab semua muslimin. Setiap muslim harus menampilkan citra Islam yang indah dan mulia. Menampilkannya di hadapan manusia dengan cara yang baik. Sebab kita yakin Islam merupakan solusi bagi semua permasalahan, politik, ekonomi, sosial dan budaya. Tidak mungkin manusia selamat dari kekacauan di bidang-bidang tersebut jika tidak kembali ke dalam ajaran Islam yang bersumber dari Al Qur’an dan Sunnah.

Baca Juga: Sejarah Singkat Al-Aqsha Sejak Nabi Adam Hingga Kini

Misi menyebarkan ajaran Islam yang indah ini melalui media membutuhkan kerjasama seluruh muslimin. Untuk itu umat Islam harus saling bahu-membahu dan tolong menolong mengembalikan kejayaan dan kemuliaan Islam melalui media massa.Wallahua’lam bis showab.(R05/R02)

*Ini merupakan transkrip rekaman tausyiah Syeikh Ahmad Ash-Shoyan yang disampaikan pada Acara Tabligh Akbar Jama’ah Muslimin (Hizbullah) 26-27 Sya’ban 1436 H/13-14 Juni 2015 M di Pondok Pesantren Al-Fatah Cileungsi, Bogor.

**Al-Bayan adalah majalah Islam komprehensif yang terbit sejak tahun 1406 H atau 1986M.

 

Baca Juga: Perhatian Nabi Muhammad terhadap Masjid Al-Aqsa

Mi’raj Islamic News Agency (MINA)

Rekomendasi untuk Anda

Khadijah
Kolom
Sosok
Kolom
Khutbah Jumat
Palestina
Internasional
Indonesia