PERANG AMERIKA SERIKAT CIPTAKAN KEKACAUAN LEBIH BURUK

Amerika Serikat menggunakan drone dalam memerangi kelompok pejuang Muslim di beberapa negara. (Foto: File Tribune.com.pk)
Amerika Serikat menggunakan drone dalam memerangi kelompok pejuang Muslim di beberapa negara. (Foto: File Tribune.com.pk)

Oleh: Rudi Hendrik, jurnalis Mi’raj Islamic News Agency (MINA)

Tanggal 31 Januari 2015, Hareth Al-Nazari, seorang tokoh senior Al-Qaeda di Semenanjung Arab (AQAP) yang memuji penyerang kantor majalah ateis Perancis Charlie Hebdo, tewas oleh serangan pesawat tanpa awak (drone) Amerika Serikat (AS) di Yaman.

Ini adalah serangan drone pertama di Yaman setelah pemerintahan negara itu takluk di tangan kelompok bersenjata Houthi berpaham Syiah.

Namun muncul pertanyaan, sama halnya dengan kekuatan udara dalam melawan Negara Islam di Irak dan Suriah, apakah cara serangan drone ini benar-benar akan menghabisi Al-Qaeda di Yaman atau hanya membangkitkan perlawanan terhadap AS?

Serangan drone dengan jelas memastikan membunuh beberapa pejuang Al-Qaeda di Yaman, cabang pejuang Muslim yang paling ditakuti AS, tetapi mereka juga membunuh sejumlah besar warga sipil tak berdosa.

Jika melihat struktur suku di Yaman, AS menghasilkan sekitar 40 sampai 60 musuh baru untuk setiap operasi pembunuhan warga Yaman oleh pesawat drone.

Hingga serangan drone AS terakhir di negara itu, pemerintah Yaman masih mendukung serangan drone di wilayahnya. Tapi sekarang, Yaman tidak hanya menghadapi tantangan dari AQAP dan kelompok suku Sunni lainnya, melainkan juga pemberontakan gerilya dari Syiah Houthi yang didukung oleh mantan presiden Ali Abdullah Saleh.

Di saat AS dan Inggris sibuk memikirkan ancaman Al-Qaeda di Yaman, milisi Houthi sibuk mengembangkan strategi gaya Taliban untuk melawan negara. Mereka kemudian menyerbu kursi kekuasaan di pusat ibukota, Sanaa, dan menggulingkan pemerintahan.

Beberapa suara di pemerintahan Presiden AS Barack Obama mencoba untuk bepikir ini positif, karena AS dan Houthi memiliki musuh yang sama, yaitu AQAP.

Namun, setelah bertahun-tahun mendukung Amerika bersama pesawat tanpa awaknya, pemerintah Yaman sekarang kosong kekuasaan dan sangat berpotensi terjadinya konflik lanjutan. Terlebih ketika ribuan rakyat mulai turun ke jalan menunjukkan perlawanan, memprotes kudeta kelompok Houthi.

Kondisi ini juga menunjukkan, pendekatan drone untuk menstabilkan kondisi Yaman dari gangguan pejuang Al-Qaeda telah gagal.

Perang jarak jauh dengan mengutamakan serangan drone diutamakan, setelah strategi pengerahan pasukan dalam jumlah besar gagal di Afghanistan dan Irak.

Kegagalan Washington yang mencoba menempatkan dirinya sebagai “Polisi Dunia” dalam memerangi kekuatan-kekuatan yang dianggap mengancam perdamaian, terlihat jelas di Libya.

Kelompok milisi bersenjata militer berat tidak terkendali di Libya, buntut perang yang dikobarkan Amerika Serikat. (Foto: File Euro Xpress)
Kelompok milisi bersenjata militer berat tidak terkendali di Libya, buntut perang yang dikobarkan Amerika Serikat. (Foto: File Euro Xpress)

Tahun 2011, Inggris, Perancis dan AS melakukan perang jarak jauh untuk menggulingkan Presiden Libya Muammar Gaddafi.

Mereka “menyulap” para pemberontak bobrok menjadi milisi berkekuatan yang mampu menggulingkan Gaddafi.

Pasca perginya Gaddafi, Libya runtuh menjadi negara anarkis dan kacau berlumuran darah. Tidak terelak pula, Duta Besar AS tewas dan pemerintah terus berperang dengan milisi. Dan kini Libya memiliki dua parlemen yang saling bersaing memperebutkan legalitas.

Tujuan taktis menggulingkan Gaddafi tercapai, tetapi tidak ada strategi jangka panjang yang pernah diungkapkan dengan jelas.

Setelah hampir 15 tahun berinvestasi dalam “perang melawan terorisme” di luar negeri, strategi hampa Barat hanya memancing kerusakan yang lebih luas yang dilakukan oleh kelompok-kelompok pejuang dengan dalih “perang melawan Amerika dan Barat” serta para pendukungnya.

Setelah dunia menghadapi ambisi perang AS dan sekutu-sekutunya yang berkedok “pahlawan perdamaian”, dunia juga kini menghadapi kelompok pejuang Al-Shabaab, Boko Haram, Islamic State (ISIS), Taliban dan sejumlah gerakan pejuang bersenjata lainnya yang berbasis di berbagai negara-negara dunia.

Kehancuran Irak oleh AS, melahirkan Al-Qaeda di Irak, yang pada gilirannya juga melahirkan ancaman baru bernama ISIS, bagi manusia diluar golongannya.

Program intervensi NATO di Afghanistan justeru hanya memperkuat Taliban.

Penggunaan senjata canggih drone mungkin telah membebaskan pemerintah dari pengerahan pasukan, tetapi sangat jelas gagal melumpuhkan kekuatan para pejuang Muslim yang gigih di berbagai negara.

Keberhasilan drone dalam membunuh para pemimpin pejuang seperti Hareth Al-Nazari, bukan hal yang bisa menggembosi kekuatan kelompok-kelompok pejuang. (T/P001/R02)

Sumber: Yemen Fox

Mi’raj Islamic News Agency (MINA)

Comments: 0