PERBATASAN JALUR GAZA SIAP DISERAHTERIMAKAN KEPADA PEMERINTAH REKONSILIASI

Maher Abu Sebhah, Direktur Perbatasan Jalur Gaza. Foto : MINA
Maher Abu Sebhah, Direktur Perbatasan Jalur Gaza. Foto : MINA

Gaza, 23 Jumadil Akhir 1436/12 April 2015 (MINA) – Maher Abu Sebha, Direktur Penyeberangan Perbatasan Palestina di Jalur Gaza menyatakan pihaknya siap untuk menyerahkan semua manajemen dan pengurusan semua perlintasan penyeberangan di daerah terblokade itu kepada pemerintahan rekonsiliasi.

“Penyeberangan akan diserahterimakan setelah Pemerintahan Rekonsiliasi melengkapi berkas-berkas penyeberangan serta berperan penuh dalam mengontrol semua aspek di Jalur Gaza,” kata Abu Sabhah dalam sebuah pernyataan resmi yang dikutip AlRay dan Mi’raj islamic News Agency (MINA), Ahad (12/4).

Abu Sabhah menegaskan jika pemerintahan rekonsiliasi hanya berbicara serah terima perbatasan, namun mengabaikan permasalahan yang ada, hal tersebut tidak dapat diterima karena tidak akan memberikan kontribusi apa pun terhadap penderitaan di Jalur Gaza.

Dalam penjelasanya Abu Sebhah juga menyinggung telah mengontak pihak Mesir tentang waktu terbukanya Perbatasan Rafah setelah ditutup dalam beberapa bulan terakhir.

“Komunikasi dengan pihak Mesir masih terus berlangsung, dan kami telah menerima janji dari Mesir untuk membuka perlintasan Rafah periode mendatang, kita sedang menunggu tanggal resmi untuk pembukaan kembali perlintasan Rafah ini,” kata Abu Sabhah.

Terutupnya perlintasan-perlintasan perbatasan yang ada di Jalur Gaza adalah bentuk blokade yang terus berkepanjangan terhadap daerah pesisir pantai tersebut. Sejak awal tahun 2015 tercatat, perlintasan Rafah setidaknya hanya terbuka tiga kali.

Puluhan ribu orang mengantri hendak keluar dari Jalur Gaza untuk berbagai keperluan seperti melanjutkan pendidikan, melakukan pengobatan, serta tujuan lainnya.

Tertutupnya perlintasan perbatasan Jalur Gaza telah terjadi sejak 2007 lalu, namun saat terpilihnya Muhammad Mursi sebagai Presiden Mesir 2012 lalu, rakyat Gaza seolah mendapatkan nafas baru, karena perbatasan Rafah terbuka penuh selama satu pekan.

Setalah Mursi digulingkan dan dikudeta oleh Militer pada Juli 2013, perbatasan Rafah kembali ditutup penuh. Pemerintah Mesir beralasan ditutupnya Rafah saat ini karena situasi keamanan di Sinai yang terus memburuk akibat serangan-serangan dari para pemberontak. (L/K01/R05)

 

Mi’raj Islamic News Agency (MINA)

Comments: 0