Gaza, MINA – Kementerian Kesehatan Palestina mengatakan, lebih dari 21.000 pasien di Gaza sedang menunggu perawatan darurat di luar negeri karena kembali ditutupnya perbatasan Rafah, serta menuduh Israel menghalangi perjalanan mereka dan memperburuk krisis kesehatan di Jalur Gaza.
Dalam sebuah pernyataan pada Sabtu (11/4), Kementerian memperingatkan bahwa pihak berwenang penjajah Israel terus menutup penyeberangan bagi pasien, menyebabkan ribuan orang tidak dapat mengakses pengobatan di luar Gaza, dan juga menunjuk serangan terhadap tim Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Palinfo melaporkan.
Menurut Kementerian, hanya sekitar 420 pasien yang dievakuasi untuk perawatan di luar negeri selama enam bulan terakhir, rata-rata kurang dari 70 kasus per bulan, sementara lebih dari 21.500 pasien masih sangat membutuhkan perawatan medis di luar Gaza.
Pasien kritis dan mereka yang berada dalam perawatan intensif menghadapi hambatan besar untuk melakukan perjalanan karena kurangnya mekanisme yang dapat diandalkan untuk evakuasi darurat, sehingga banyak orang berada dalam daftar tunggu yang panjang.
Baca Juga: Ribuan Warga Argentina Turun ke Jalan Serukan Dukungan untuk Palestina
Kementerian juga memperingatkan adanya “kampanye media yang menyesatkan” yang bertujuan untuk merusak kepercayaan masyarakat terhadap institusi kesehatan, dan menekankan bahwa tim medis terus beroperasi dalam kondisi kemanusiaan yang sangat sulit.
Mereka meminta media dan masyarakat memverifikasi informasi dan menghindari klaim yang tidak berdasar, sambil menegaskan kembali kesiapannya untuk menangani keluhan secara transparan.
Kementerian juga mengundang badan-badan profesional dan relevan untuk meninjau kerja komite rujukan medis, dengan mencatat bahwa komite tersebut mencakup 12 konsultan khusus dan beroperasi berdasarkan standar integritas dan akuntabilitas.[]
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: Antrean Panjang di Gaza Jadi Realitas Harian yang Hancurkan Kesehatan Mental
















Mina Indonesia
Mina Arabic