Jakarta, MINA – Pemerintah Azerbaijan memperingati tragedi genosida di kota Khojaly yang terjadi 33 tahun lalu, mendesak agar pelaku genosida segera diadili.
Kedutaan Besar Azerbaijan di Jakarta dalam keterangan persnya, Rabu (26/2), menyerukan keadilan bagi para korban dan mendesak komunitas internasional untuk mengadili para pelaku genosida tersebut.
“Tragedi Khojaly adalah salah satu halaman paling kelam dalam sejarah kami. Pelaku genosida harus bertanggung jawab atas kejahatan ini. Kami tidak akan berhenti memperjuangkan keadilan bagi para korban,” tegas pernyataan itu.
Tragedi Khojaly terjadi selama konflik Nagorno-Karabakh antara Armenia dan Azerbaijan. Pada malam 25-26 Februari 1992, pasukan Armenia, dengan dukungan dari resimen militer Rusia ke-366, menyerang kota Khojaly, yang merupakan kota strategis di wilayah Karabakh.
Baca Juga: Israel Kembali Lancarkan Serangan ke Suriah Selatan
Serangan brutal ini menewaskan 613 warga sipil, termasuk 106 perempuan dan 63 anak-anak, serta menyebabkan ribuan orang terluka dan mengungsi.
Pemerintah Azerbaijan menekankan pentingnya peran masyarakat internasional, termasuk Indonesia, dalam mendukung upaya perdamaian dan stabilitas di kawasan.
Tragedi Khojaly telah diakui sebagai genosida oleh sejumlah negara dan organisasi internasional. Pemerintah Azerbaijan terus mengkampanyekan pengakuan global atas tragedi ini sebagai bagian dari perjuangan mereka untuk mendapatkan keadilan dan memastikan perdamaian yang berkelanjutan di wilayah tersebut. []
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: Banyaknya Massa yang Hadir dalam Pemakaman Pemimpin Hezbollah Tunjukkan Kekuatan Perlawanan