Peringati Hari Santri, Dompet Dhuafa Gelar Jambore Santri Nusantara

Ahmad Lukman, Kepala Disaster Management Centre (DMC) Dompet Dhuafa. (Foto: Astuti/MINA)

Sukabumi, MINA – Dalam rangka memperingati Hari Santri Nasional, Dompet Dhuafa menggelar Jambore Santri Nusantara (Jantara) yang diikuti sebanyak 200 santri se-Indonesia di Pesantren Tahfizh Green Lido (PTGL), Cicurug, Sukabumi, Ahad (22/10).

Kepala Sekolah PTGL Juli Siswanto mengatakan, sebanyak 245 santri dari 43 pesantren di berbagai provinsi di Indonesia, paling jauh adalah Sumatera Selatan kemudian Jabodetabek, Jawa Barat dan Banten.

Juli mengatakan, kegiatan yang berlangsung tiga hari terhitung dari Jumat-Ahad (20-22/10) ini, rencananya akan dilaksanakan setiap tahun agar menjadi ciri khas dari pesantren tersebut.

Adapun rangkaian acara pada kegiatan tersebut di antaranya; dinamika kelompok dengan harapan antarpeserta saling mengenal atau silaturahim, pelatihan tanggap bencana, tracking, dan yang menjadi ciri khas Jantara sendiri yaitu Istighosah, khataman serta tahajud malam.

Baca Juga:  Ulama Terkemuka Aceh Waled Husaini Wafat

Ahmad Lukman, Kepala Disaster Management Centre (DMC) Dompet Dhuafa, mengatakan pada kesempatan itu seluruh santri yang mewakili pondok pesantrennya diperkenalkan resiko-resiko yang ada di pondok pesantren, karena biasanya di pondok pesantren memperkenalkan kitab, ngaji, tapi tidak memperkenalkan bahwa di pesantren juga ada resiko ancaman bencana.

“Banyak contoh bencana seperti longsor, tsunami, banjir, dan sebagainya, dimana pesantren jadi salah satu yang terdampak dan korbannya ada korban jiwa, makanya kita memberikan kesiapsiagaan mitigasi dan edukasi kepada santri-santri ini untuk kita perkenalkan apa itu bencana, apa jenis bencana, kemudian kajian resiko bencana yang ada di wilayah masing-masing santri itu berada,” tambahnya.

Melalui pelatihan tanggap bencana ini diharapkan dapat menyelamatkan diri ketika terjadi bencana, sehingga dapat mengurangi korban jiwa.

Baca Juga:  Duta Al-Quds: Sirah Nabawiyah Perkuat Pembebasan Al-Aqsa

“Selain itu, santri juga kita berikan peta resiko bencana. Bagaimana sih kalau ada bencana, evakuasinya larinya kemana, dan apakah di pesantren ada jalur evakuasi? Dan ternyata hampir semua pesantren tidak ada jalur evakuasi, titik kumpul juga tidak ada, ini menimbulkan resiko lebih tinggi,” katanya.

Menurut Lukman, setiap pesantren minimalnya harus ada rambu, jalan evakuasi, titik kumpul hingga edukasi terkait resiko bencana ini. (L/Mil/R7/RI-1)

 

Mi’raj News Agency (MINA)

Wartawan: sri astuti

Editor: Rudi Hendrik