Perjalanan Safari Dakwah Shamsi Ali ke Eropa Disambut Baik

Wina, MINA – Presiden Nusantara Foundation Shamsi Ali melakukan safari dakwahnya ke beberapa negara atau kota di Eropa selama 23 hari, 9-24 Februari 2020.

Dalam keterangannya kepada MINA, Kamis (20/2) Shamsi Ali mengatakan, ia berbahagia bahwa di mana-mana perwakilan pemerintah Indonesia di luar negeri menyambut dan mendukung secara penuh acara-acara ini.

“Sebagaimana pernah saya sampaikan bahwa dari tanggal 9 hingga 24 Februari ini saya keliling di beberapa negara atau kota Eropa untuk silaturahim dan sharing pengalaman, ilmu dengan teman-teman, Muslim dan non-Muslim Indonesia atau non Indonesia,” katanya.

Ia mengatakan, secara umum perjalanannya lancar, aman, sukses dan tentunya semoga manfaat dan berkah. Hingga saat ini, Shamsi Ali telah menyelesaikan perjalanan di delapan kota, di antaranya Frankfurt, Bonn, Berlin, Utrecht, Den Haag, Brussels, Wina dan Bratislava.

“Saat ini sedang menunggu boarding untuk terbang ke Hamburg, Jerman untuk 5 acara. Selain khutbah Jumat esok hari, juga ada Kajian dengan ibu-ibu, Dialog Kebangsaan di KJRI, bedah buku “Sons of Abraham” di Komunitas An-Nur, dan tablig akbar dengan tema ‘Peranan Diaspora Indonesia di Hamburg’,” ujarnya.

Shamsi Ali dijadwalkan, setelah dua hari di Hamburg ia akan terbang ke Belgrade untuk memberikan public lecture di Faculty of Orthodoxy Theology University of Belgrade dengan tema “The role of interfaith on sustainable peace and harmony”.

Acara terakhir tanggal 24 Februari adalah sebuah talk show di Kedutaan RI di Belgrade dengan tema “Wajah Islam Indonesia dalam Keragaman Budaya, Etnis dan Agama di Indonesia”.

“Saya senang karena penyambutan warga, baik Indonesia maupun non Indonesia, Muslim maupun non Muslim sangat hangat dan antusias. Di Bratislava misalnya, mantan Menlu Slovakia secara spontan meminta saya untuk hadir kembali dan dia sendiri bersedia menfasilitasi acara-acara di Universitas Slovakia, khususnya di Fakusltas Theologi,” katanya.

Menurutnya, safari dakwah ke Eropa ini adalah awal yang baik. Ia berkomitmen ke depannya akan lebih pro aktif untuk mempromosikan wajah Islam yang sesungguhnya, yaitu Islam yang damai, ramah, sejuk, bersahabat, dan merangkul semua manusia.

Ia menilai, stigma Islam yang berkembang selama ini bahwa Islam itu penuh kekerasan, kebencian, teror, tidak menghormati HAM dan wanita harus dirubah. Bukan sekedar dengan kata dan ceramah. Tapi dengan aksi dan interaksi langsung dengan masyarakat dunia.

“Saya Senang karena walau secara khusus perjalanan saya di sponsori oleh teman-teman PCIM Eropa, khususnya Jerman Raya, hampir semua organisasi massa ikut menjadi co sponsor. Termasuk di dalamnya PCINU dan PPI Eropa,” ucapnya.

Masanya Indonesia dikenalkan secara baik sebagai negara besar, khususnya dalam keagamaan dan lebih khusus lagi sebagai negara Muslim terbesar dunia. Bukan saja secara kuantitas. Tapi yang lebih penting dunia harus melihat Indonesia sebagai “role model” dalam membangun harmonisasi agama dan nilai-nilai modernitas dan kemajuan.

“Dengan sendirinya, Indonesia harus berada di Garda depan untuk merubah persepsi Yang salah tentang Islam. Karena memang bansa ini punya potensi dan integritas untuk menampilkan wajah Islam yang Rahmatan lil-alamin. Semoga!” pungkasnya. (T/R6/RI-1)

 

Mi’raj News Agency (MINA)