Perjuangan Hilmi Dampingi Warga Korban Erupsi Semeru

Laporan khusus Widi Kusnadi, wartawan MINA di lokasi bencana Semeru

Belum sembuh derita masyarakat akibat pandemi Covid-19, Warga Indonesia kembali menghadapi musibah. Sabtu, 4 Desember 2021, erupsi Gunung Semeru kembali melanda warga Kabupaten Lumajang, Jawa Timur. Kali ini, dampak erupsi terhadap masyarakat lebih besar dari tahun 2020 lalu.

Habib Miqbil Husein Assegaf, selaku koordinator lapangan Hilal Merah Indonesia (Hilmi) Front Persaudaraan Islam untuk Misi Semeru, Jawa Timur segera bertindak cepat. Sehari pasca erupsi melanda warga, tim Hilmi sudah berada di lokasi bencana. Mereka segera mendirikan posko, mengonsolidasi segenap potensi, membuka donasi dan mengkoordinir relawan untuk dapat segera membantu para korban erupsi.

Wartawan MINA, Widi Kusnadi bersama tim Radio Silaturahim (Rasil) berkesempatan mengunjungi beberapa posko Hilmi di dusun Oro-oro Ombo, Kecamatan Pronojiwo. Kami dibawa ke beberapa tempat terdampak cukup parah, di sisi barat sungai Mujur, Pronojiwo.

Relawan Hilmi di Kecamatan Pronojiwo berjumlah 32 orang. Mereka berasal dari beberapa wilayah Jawa Timur, seperti Kota Malang, Kabupaten Malang, Surabaya, Pamekasan dan Bangkalan (Madura), serta beberapa relawan dari Pemalang, Jawa Tengah. Mereka mendapat amanah minimalnya satu bulan di lokasi bencana, setelah itu bergiliran digantikan relawan lainnya.

Hingga hari ke- 14 pasca erupsi, relawan Hilmi telah membersihkan setidaknya 48 rumah warga, satu masjid dan satu mushola di Dusun Sumber Wangi dan Kamar A, Desa Supiturang, Kecamatan Pronojiwo. Hingga beberapa hari mendatang, mereka masih melanjutkan program bersih rumah dan fasilitas umum.

Warga dusun setempat merasa sangat terbantu dengan keberadaan relawan Hilmi di wilayahnya. Tidak hanya membantu tenaga dan logistik, tim relawan Hilmi juga mendampingi warga dengan memberikan trauma healing, memberi nasihat dan tausiyah agar warga tetap sabar dan optimis di tengah bencana. Dalam keadaan apapun juga, setiap manusia tidak boleh berputus asa dengan rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Melihat kesungguhan dan ketulusan relawan Hilmi, Muhammad Maliki, salah seorang warga desa Supiturang bersedia membantu Hilmi untuk memberi pendampingan sekaligus informasi mengenai di mana saja warga yang memerlukan bantuan paling urgen.

Maliki mengatakan, kondisi rumah-rumah warga di desa itu rusak parah. Sebagian hanyut terbawa lahar, sementara sebagian lagi tertutup abu vulkanik. Rumah yang tertutup abu bisa dibersihkan, sementara yang berada di tepi bantaran sungai sudah tidak bisa ditempati lagi. Bangunan hanyut terbawa lahar, hanya tinggal fondasi saja.

Kini, Maliki bersama warga desa lainnya tinggal di pengungsian sementara. Jika siang hari mereka menjenguk rumah mereka yang masih bisa ditempati. Sementara warga yang rumahnya hancur, bersabar sambil menunggu kebijakan pemerintah setempat.

Program Kemanusiaan Hilmi

Habieb Miqbil Husein Assegaf mengungkapkan, saat ini banyak dari masyarakat korban terdampak membutuhkan dukungan dan pendampingan, “Dari sisi psikologis mereka masih trauma,  sehingga relawan perlu memberikan support dan mendampingi mereka,” ujarnya.

Selain rumah-rumah yang rusak akibat luapan lahar dingin abu gunung Semeru, banyak aktivitas di sekitar gunung Semeru juga terhenti. “Aktivitas mereka juga terhenti karena jembatan putus, terutama jembatan gladak perang yang menghubungkan Lumajang dengan Malang. Selain itu juga banyak tanaman yang mati terkena lahar dingin,” papar Habib Miqbil.

Saat ini yang menjadi prioritas Hilmi ada dua, yaitu pertama program pendistribusian sembako untuk diberikan kepada masyarakat terdampak, “Program kami saat ini adalah pendistribusian sembako, jangan sampai mereka tidak makan,” tambahnya.

Kedua, program lanjutan pasca evakuasi dan rekonstruksi yaitu menciptakan lapangan kerja mandiri agar masyarakat terdampak bisa kembali bekerja seperti sedia kala. Dalam program ini, Hilmi akan menerjunkan relawan ahli pertanian dan perkebunan untuk dapat membantu masyarakat terdampak agar dapat kembali bercocok tanam dengan teknologi pertanian yang lebih baik.

Saat ini, Hilmi mendirikan tiga posko untuk terus dapat memberikan dan menyalurkan bantuan kepada para pengungsi Erupsi Gunung Semeru di Lumajang Jawa Timur. Dua di sisi barat dan satu di sisi timur. Keduanya terpisah karena jembatan gladak perak yang putus. Saat ini untuk dapat menjangkau sisi barat dan timur harus memutar melalui Probolinggo dengan jarak dan waktu yang lebih lama.

Menengok Gudang Logistik Hilmi

Wartawan MINA berkesempatan meninjau Gudang logistik Hilmi di Dusun Oro-oro Ombo. Mereka menyewa sebuah bangunan yang cukup luas milik warga setempat sebagai Gudang logistik. Hingga Jumat, 17 Desember, hari ke-13 pasca bencana, bantuan masyarakat yang disalurkan melalui Hilmi terus berdatangan.

Bantuan berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Bahkan, Habib Miqbil mengatakan, ada juga perwakilan masyarakat Singapura yang menghubungi Hilmi untuk dapat menyalurkan bantuan dari mereka. Mereka mengirimkan sejumlah uang untuk dapat dibelikan barang-barang kebutuhan dasar masyarakat sehingga bisa langsung didistribusikan langsung kepada mereka.

Saat wartawan MINA berada di Gudang logistik Hilmi, beberapa warga datang untuk memintakan barang kebutuhan bagi para tetangga dan saudara mereka. Ketika kami bertanya, mengapa mereka tidak datang langsung dan meminta sendiri? Jawaban mereka karena masyarakat merasa “ewuh pakewuh” untuk langsung meminta bantuan.

Memang dalam budaya Jawa, meminta sesuatu untuk diri sendiri rasanya tabu. Masyarakat merasa malu jika harus meminta. Maka salah satu solusinya adalah ada tetangga dan saudaranya yang menyampaikan kepada relawan bahwa ada masyarakat yang sangat memerlukan bantuan di sana.

Dari kesaksian masyarakat setempat, posko logistik Hilmi memang yang paling lengkap di antara Gudang logistik milik lembaga lain di lapangan. Tidak hanya kebutuhan dasar masyarakat seperti beras, minyak dan lainnya, tapi boneka untuk anak hingga pakaian dalam tersedia.

Hingga hari ke-13 pasca bencana, Hilmi telah membagikan hampir 2000 paket sembako kepada masyarakat terdampak. Paket tersebut terdiri atas beras 10 kg, minyak 1 liter, gula 1 kg, bumbu dapur, mie instan, mushaf Al-Quran, sarung/mukena dan pakaian baru. Rata-rata perhari mereka membagikan 200 paket.

Dalam beberapa pekan ke depan, paket akan terus dibagikan karena stok masih tersedia banyak. “Alhamdulillah, para donatur mempercayakan kepada kami dan dengan doa dan dukungan antum semua, kami bisa menyalurkannya kepada masyarakat yang membutuhkan,” ujar Habib Miqbil kepada MINA.

Ada sebuah cerita menarik, Ketika relawan hendak berbelanja daging kambing di pasar Pronojiwo. Harga normal di sana Rp.110.000 perkilo. Namun Ketika pedagang tersebut mengetahui bahwa mereka adalah relawan Hilmi, maka diberi harga khusus yakni Rp.50.000 per kilo. Walhasil, semua dagangannya diborong oleh relawan Hilmi, selanjutnya dimasak dan dibagikan kepada warga dan relawan.

Hilmi juga mendatangkan juru masak (Chef) spesial dari Jakarta yang beramal shaleh di posko bencana selama beberapa pekan ke depan. Mereka adalah Ihsan, Syaiful dan Ais, relawan Hilmi yang sudah beberapa kali ikut dalam misi kemanusiaan di beberapa wilayah di Indonesia. Mereka berpengalaman bertahun-tahun sebagai chef di sebuah hotel ternama di Jakarta.(A/P2/R1)

 

Mi’raj News Agency (MINA)