Perjuangan Imam Santoso Raih Master Ilmu Komunikasi: Pengaruh Branding Islam dan Religiusitas Individu

Amir Tarbiyah Jama’ah Muslimin (Hizbullah) Wilayah Jabodetabek Imam Santoso (kedua dari kiri) bersama para pengujinya. (dok. Imam Santoso)

Oleh: Sakuri, Redaktur Senior Kantor Berita MINA

Amir Tarbiyah Jama’ah Muslimin (Hizbullah) Wilayah Jabodetabek Imam Santoso berhasil mempertahankan tesisnya dan berhak menyandang gelar master di bidang ilmu komunikasi.

Hal itu ia kukuhkan pada Sidang Tesis Program Studi Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Muhammadiyah Jakarta, di kampus Pusat UMJ, Jalan K. H. Ahmad Dahlan Cirendeu Ciputat Tangerang, hari ini Sabtu 15 Pebruari 2020.

Dengan mengambil judul tesis “Pengaruh Branding Islam Dan Religiusitas Individu Terhadap Keputusan Dalam Menggunakan Produk Bank Syariah”, Imam menyampaikan rasa syukurnya kepada Allah dan terima kasih kepada rekan-rekannya.

“Alhamdulillah atas doa para ikhwan… saya sudah lulus,” kata Imam yang kini berusia 39 tahun kepada MINA melalui pesan singkat, Sabtu siang (15/2).

Menurutnya, branding Islam dan religiusitas individu memberikan pengaruh terhadap keputusan seseorang dalam menggunakan produk bank syariah. Untuk menyusun tesisnya itu Imam melakukan penelitian terhadap nasabah BMT Amanah Syariah.

“Objek penelitian saya nasabah BMT Amanah Syariah,” kata suami dari Hasnah dan sudah dikaruniai dua putri Aufa Rahil Taqiyya (7) dan Bilqis Hanayaa (3) itu.

Kepada MINA, Imam juga menuturkan perjuangannya bisa studi sampai S-2 dan meraih gelar master bukan perkara mudah.

Menurutnya, dulu ia sempat merasa bahwa sekolah hingga S-2 itu tak akan mungkin tercapai. Saat sekolah di SDN Rawabambu 1 Kalibaru Bekasi pada tahun 1987, ia sudah harus “nyambi” membagi waktu sekolah dengan dagang gorengan di depan sekolahnya.

Kemudian pada tahun 1992 ke SLTPN 6 (sekarang SMPN 5) Bekasi, ia pun tak seindah anak lain yang lancar-lancar saja.  Ia harus menempuh jarak 10 km jalan kaki atau bersepeda demi menghemat uang jajan,  sebab tak ada budget buat ongkos.

Masih menurut Imam, kalau akhir semester tidak bisa mengikuti UAS sebelum menyelesaikan urusan dengan bagian Tata Usaha dan biasanya ibunya yang akan datang membuat “deal of financial” alias surat pernyataan siap bayar, agar ia bisa ikut ujian semester.

Lalu pada tahun 1995 saat ia bersekolah di MA Al-Fatah Lampung  pun sama saja, bahkan orangtua tak pernah bisa menengok ke pesantren hingga ia lulus, karena memang tidak ada dana untuk biaya transportasinya. Jadilah ia santri yang melongo, ketika para orangtua teman-teman datang menjenguk.

Lebih dramatis jika menjelang akhir bulan, saat dana kiriman sudah habis dan tak bisa lagi jajan walau sekedar sepotong bakwan. Tapi alhamdulillah, akhirnya lulus pada tahun 1998.

Saat itu, kata Imam, sebenarnya ada tawaran untuk masuk Universitas Negeri Lampung lewat jalur PMDK,  namun tak direstui orangtua. Khawatir tak bisa membiayai dan memang tidak ada biaya, akhirnya pulang kampung ke kota Bekasi.

Sejak itu katanya “Kuliah enggak, kerja enggak, akhirnya jualan buku dan minyak wangi di Masjid Istiqlal.”

Hingga akhirnya tahun 1999, ia mendapat kepercayaan untuk melanjutkan kuliah di Sekolah Tinggi Agama Islam Al-Fatah, Cileungsi, Bogor angkatan pertama. Tak ada gedung kuliah, hanya pondasi saja yang terlihat. Namun, akhirnya tiba juga di masa penyelesaian skripsi.

Namun ia tidak pernah bisa menggarapnya lantaran harus kerja sebagai editor sebuah tabloid bisnis di Jakarta. “Saya tak boleh menyerah dan kalah, harus selesai,” tekad Imam.

Ia pun mencari kampus lain yang bisa menerima mahasiswa pindahan dan diterima di Institut Al-Aqidah Jakarta untuk Sarjana S1-nya.

Kini, ia sudah menyelesaikan S2 Magister Ilmu Komunikasi di UMJ. Meskipun dilaluinya dengan perjuangan sambil mengajar di kampus yang dulu sempat tidak ia selesaikan dan membagi waktu dengan “maisyah” sebagai ojek online. (A/RS5/R2)

Mi’raj News Agency (MINA)