Perjuangan Tahanan Perempuan Palestina: Samar Sobeih, Melahirkan Anak Pertama di Dalam Penjara (Seri 11)

Oleh : Ali Farkhan Tsani, Redaktur Senior Kantor Berita MINA (Mi’raj News Agency)

Samar Sobeih, ditahan saat umur 22 tahun, adalah sosok tabah dan tegar, mantan tahanan perempuan Palestina, yang melahirkan anak pertamanya, Baraa, ketika dia berada di dalam penjara pendudukan Zionis Israel.

Sobeih ditangkap oleh tentara Israel dari rumahnya pada tahun 2005, saat ia sedang hamil di bulan pertamanya.

Ia ditangkap di rumahnya di kota Tulkarem, Tepi Barat, tempat suaminya tinggal, pada malam hari, dengan cara brutal.

Dia melanjutkan, “Pasukan tentara secara brutal menyerang rumah saya di tengah malam, dan saya dibawa, ditutup matanya, dan diikat ke pusat investigasi Al-Maskobiya di Yerusalem, ketika saya sedang mengandung anak pertama saya.”

Dia pun menghabiskan dua bulan interogasi dan penderitaan, di sel isolasi, jauh dari udara sehat, sinar matahari, dan perawatan kesehatan dan nutrisi yang harus diterima oleh seorang perempuan yang sedang mengandung.

Setelah menuduhnya “menggerakkan mahasiswa”, Samar Sobeih pun dimasukkan ke dalam penjara.

“Pengadilan mengajukan banyak tuduhan terhadap saya, yang saya tolak. Pendudukan membuat tuduhan terhadap perempuan Palestina dan orang-orang pada umumnya tanpa bukti, dan inilah yang diderita oleh para tahanan administrasi, tanpa tuduhan,” ujarnya.

Kondisi dalam Penjara

Samar Sobeih menyaksikan, para tahanan perempuan hidup dalam kondisi yang berat, berada di sel kecil, masing-masing berisi 5 tahanan perempuan.

Para tahanan perempuan juga kehilangan kunjungan, perawatan, dan pendidikan, dan menjadi sasaran pengabaian medis, imbuhnya.

Sebelum melahirkan anak pertamanya, Samar Sobeih, mengajukan permintaan kepada Otoritas Penjara, untuk memberinya kesempatan melahirkan di rumah. Hal ini sesuai ketentuan dalam Konvensi Jenewa Keempat, yang menetapkan penghormatan terhadap tahanan.Namun permohonan itu ditolak.

Dia pun mengalami kondisi melahirkan, yang dia gambarkan sebagai “sangat berat”. Itu menjadi kelahiran pertama yang dia alami sebagai seorang perempuan, di mana dia harus melahirkan, jauh dari semua anggota keluarganya.

Saat dia harus dirawat di rumah sakit Israel pun, tangan dan kakinya diikat dengan borgol besi.

Dia menambahkan, “Penjaga keamanan sangat ketat, saya dibelenggu, dengan kondisi yang sangat berat dan tidak manusiawi.”

Dia mengatakan dengan sedih, “Baraa masuk penjara bersamaku, dan menghabiskan dua tahun di sana.”

Dia juga menjelaskan, Israel menolak untuk memberikan perawatan kesehatan yang diperlukan, baik saat dia hamil, melahirkan atau setelah melahirkan.

Para sipir penjara biasa mengatakan kepadanya, “Anda adalah seorang teroris, dan segera Anda akan menempatkan seorang teroris Palestina baru.” Administrasi Otoritas Penjara juga memperlakukan anak yang tidak bersalah sebagai tahanan tanpa perlakuan khusus, katanya.

Sobeih menjelaskan, Baraa dicegah dari menghirup udara luar, sinar matahari, dan kepemilikan mainan.

Samar Sobeih, disebut sebagai “ibu dari tawanan termuda”, dan telah menghabiskan 2 tahun 8 bulan di balik jeruji besi.

Ia dan putranya, Baraa, kemudian dibebaskan dari penjara, setelah hidup dalam kondisi yang tidak manusiawi, dan tanpa perawatan memadai, seperti dilaporkan Anadolu Agency, 20 Oktober 2021.

Trauma Anak

Baraa, anak pertama Samar Sobeih yang dua tahun hidup di dalam penjara, tampak trauma pada awal-awak kehidupan di luar penjara, yang dia lihat untuk pertama kalinya. Baraa mulai sering berteriak sambil menangis.

Tentara Israel saat pembebasannya, tidak mengembalikan Sobeih ke rumah suaminya, di Tulkarem, Tepi Barat. Namun mengembalikan Sobeih ke kampung halamannya di Jalur Gaza, tempat kerabatnya tinggal di kamp pengungsi Palestina di Jabalia utara.

Suaminya mendampinginya dan putra kecilnya di Jalur Gaza, dan mereka tinggal bersama.

Sobeih dan suaminya membutuhkan waktu untuk merehabilitasi anaknya, dan menyesuaikannya ke dalam kerabat dan lingkungan sekitarnya.

Dia berkata dengan suara sedih saat pertama kali pindah, “Baraa takut pada burung pipit yang berdiri di sampingnya, karena ini tidak umum di penjara,” ujarnya.

Hafal 25 Juz

Kini, Baraa berusia 16 tahun, duduk di bangku kelas sepuluh jenjang menengah (SMA). Setahun lalu saat penerimaan rapor prestasi, ia mencapai rata-rata nilai 9,8. Baraa, juga baru selesai menghafal Al-Quran sekitar 25 juz.

Baraa, yang memiliki dua adik kembar, bercita-cita untuk melanjutkan studi di kedokteran, agar kelak bisa mengobati manusia.

Tahun 2016, Samar Sobeih dan keluarganya harus pergi ke Turki untuk merawat putrinya, Ahlam, yang membutuhkan operasi pada kakinya.

Ahlam harus menjalani operasi besar kakinya di sebuah rumah sakit di Istanbul, dan dia tetap di sana selama 6 bulan sambil mengenakan platinum medis.

Selesai operasi, putrinya membutuhkan kunjungan berkala ke Turki setiap satu atau dua tahun, untuk tinjauan medis, dan untuk mengetahui langkah perawatan selanjutnya.

Samar Sobeih dalam pesan terkininya meminta negara-negara Arab dan Islam untuk bekerja “memaksa pendudukan Israel menghentikan pelanggarannya terhadap hak-hak tahanan, terutama kaum perempuan.”

Ia memuji solidaritas istri Presiden Turki, Emine Erdogan, yang memberi perhatian atas isu “tahanan di penjara Israel.”

Sobeih bertemu dengan istri presiden Turki pada 16 Oktober 2021, dalam sebuah konferensi yang diadakan di Istanbul yang disebut “Kita semua Maria”, untuk menjelaskan situasi perempuan dan anak-anak Palestina.

Saat menjadi narasumber pada webinar “Bela Tahanan Palestina di Penjara Israel” yang diadakan Lembaga Kepalestinaan Aqsa Working Group (AWG), pada Rabu malam, 12 Januari 2022, samar Sobeih menyatakan rasa harunya, bercampur bahagia dan bangga, atas perhatian dan solidaritas kaum Muslimin di Indonesia.

Samar Sobeih mengatakan dengan menahan air mata, tersentuh, haru dan berharap melalui webinar tersebut akan berdampak besar terhadap pembebasan tahanan Palestina. (A/RS2/P1)

Mi’raj News Agency (MINA)