Pertama Kalinya Muslim Irlandia Gelar Shalat Idul Adha di Stadion Sepak Bola Nasional

Warga Muslim di Irlandia melaksanakan shalat Id pada hari raya Idul Adha 1441H di stadion Croke Park Gaelic, Dublin pada Jumat (31/7/2020),(Foto: Shane Raymond/Al Jazeera)

Dublin, MINA – Warga Muslim di Irlandia melaksanakan shalat Id pada hari raya Idul Adha 1441H, Jumat (31/7), di stadion Croke Park Gaelic, Dublin untuk pertama kalinya.

Pembatasan Covid-19 membatasi pertemuan di dalam ruangan sehingga para pemimpin Muslim meminta untuk menggunakan Croke Park, salah satu stadion yang terbesar di Eropa, dengan kapasitas dapat menampung 82.300 orang.

Sekitar 200 warga Muslim menggelar sajadah di atas lapangan, yang biasanya digunakan untuk kegiatan sepak bola.

Presiden Irlandia Michael D Higgins mengirim pesan Hari Raya Idul Adha 2020. Ia sholat Idul Adha ini sebagai momen penting bagi negaranya

“Perayaan, di tempat Irlandia yang ikonik, dari perayaan penting dalam kalender Islam ini adalah momen penting dalam narasi Irlandia,” tulis Higgins sebagaimana dikutip RTE.

Sejumlah pemimpin Katolik, Protestan, dan Yahudi hadir dan ikut berpidato, yang disiarkan televisi secara langsung untuk pertama kalinya.

Croke Park, tempat bersejarah di Dublin, membuka pintunya bagi ratusan Muslim Idul Adha ini.

Croke Park telah berdiri sejak tahun 1884 yang berlokasi di Dublin, Irlandia. Croke Park merupakan stadion milik GAA (Gaelic Athletic Association).

Ketua Dewan Perdamaian dan Integrasi Muslim Irlandia, Syaikh Umar al-Qadri, mengatakan manajemen stadion Croke Park tidak ragu menawarkan lapangan ini sebagai lokasi shalat Id.

Syaikh Umar mengatakan dia mendekati manajemen stadion ini setelah melihat warga Muslim di Jerman menggunakan lapangan parkir milik toko Ikea untuk kegiatan shalat tarawih.

Pemilihan lapangan sepak bola ini dilakukan karena shalat dengan jumlah jamaah besar tidak bisa digelar di masjid karena aturan menjaga jarak fisik sesuai protokol kesehatan pandemi Covid-19.

Doa untuk Pahlawan Kesehatan

Suasana shalat Id pada hari raya Idul Adha 1441H di stadion Croke Park Gaelic, Dublin pada Jumat (31/7/2020),(Foto: RTE)

Acara dimulai dengan pembacaan ayat-ayat Al-Quran, diikuti dengan pidato dari Menteri urusan Anak-anak, Disabilitas, Kesetaraan dan Integrasi Irlandia Roderic O’Gorman.

Syaikh Umar Al-Qadri didaulat menjadi Imam dan khatib Iedul Adha yang dimulai pukul 10 pagi waktu setempat.

Dia menyampaikan khutbah dengan mengungkapkan penghormatan pada pekerjaan para tenaga kesehatan yang telah mempertaruhkan hidup mereka untuk merawat pasien selama wabah virus corona.

Syaikh Umar menyampaikan doa kepada almarhum dokter Dublin Syed Waqqar Ali, yang bulan ini menjadi tenaga kesehatan kedelapan yang meninggal di Republik Irlandia setelah didiagnosis positif Covid-19.

Dalam khutbahnya, dia menambahkan bahwa pandemi juga “membawa beberapa berkah”.

“Kalau bukan karena pandemi ini, kita mungkin tidak akan ada di sini. Jika bukan karena pandemi ini, komunitas kita tidak akan bersatu. Kami mengerti sebagai manusia, kami bersama dalam hal ini dan kami memiliki tantangan yang sama,” tegas Syaikh Umar di hadapan jamaah Shalat Ied di Croke Park.

Imran Khurshid, anggota Fianna Fáil atau Partai Republik Irlandia, mengatakan kepada TheJournal.ie bahwa acara tersebut diselenggarakan dengan sangat baik; para jamaah shalat Ied masuk melalui satu pintu dan keluar melalui pintu lain untuk mematuhi aturan jaga jarak fisik.

“Sejujurnya, itu luar biasa, kata ini mencakup segalanya. Orang-orang sangat bahagia. Rasanya seperti di rumah, bahwa kami berada di rumah dan tidak ada yang perlu dikhawatirkan,” kata Khursid seorang aktivis kelahiran Pakistan-Irlandia.

Menghapus Sentimen Anti-Muslim

Menurut data Sensus Republik Irlandia pada tahun 2016, lebih dari 63.000 Muslim tinggal di negara itu, naik dibading dengan jumlah kurang dari 4.000 jiwa pada 1991. Jumlah penduduk Muslim di negara itu saat ini terus meningkat. Al-Qadri memperkirakan saat ini mungkin sudah mencapai lebih dari 100.000 jiwa.

Syaikh Umar menegaskan, pelaksanaan shalat Ied di tempat bersejarah di Dublin mengirim pesan sangat kuat kepada seluruh dunia bahwa Irlandia adalah memang negara dengan tangan terbuka.

Dia menggunakan frase Irlandia yaitu cead mile failte atau seratus ribu ucapan selamat datang.

“Meskipun Anda berbeda, begitu Anda tiba dan tinggal di sini, dan menjadi bagian dari masyarakat, pulau Irlandia memiliki kemampuan unik dan hebat untuk mengadopsi Anda,” kata Umar.

Sementara Uskup Agung Katolik Dublin, Diarmuid Martin, mengatakan kepada jamaah salat Ied bahwa,”Ada hal istimewa mengenai pengakuan secara terbuka tentang tempat komunitas Muslim sebagai bagian intergral dari keluarga Irlandia.”

Syaikh Dr. Umar al-Qadri lahir di Belanda tetapi pindah ke Pakistan saat remaja. Ketika dia kembali, dia menemukan bahwa partai-partai sayap kanan sedang meningkat di Belanda, seperti halnya retorika terhadap orang asing, Yahudi dan Muslim.

“Seperti kebanyakan komunitas imigran, mereka terlalu sibuk membangun kehidupan mereka sendiri dan menjaga keluarga mereka di rumah,” kata Syaikh Umar.

“Itu menciptakan ketakutan yang diterjemahkan ke dalam sentimen anti-Muslim. Dan saya ingin menghindarinya di Irlandia,” tegasnya.

Syaikh Umar membentuk Dewan Perdamaian dan Integrasi Muslim Irlandia untuk membangun jembatan dengan masyarakat luas, serta untuk mengatasi “ekstremisme” dalam komunitas Muslim.

Selama lokcdown pandemi Covid-19, al-Qadri mengeluarkan fatwa  yang memungkinkan para jamaah berkumpul secara online untuk mengucapkan doa di hari Jumat di media-media sosial yang memfasilitasi streaming video seperti Facebook. Kemudian, saat menonton video yang menunjukkan Muslim Jerman berdoa di sebuah parkir mobil Ikea, dia terinspirasi – atau lebih tepatnya, dia berpikir: “Kita bisa melakukan lebih baik dari itu.”(AK/R1/P1)

Sumber: dari berbagai sumber

Mi’raj News Agency (MINA)