Pertemuan G7 Bahas Stabilitas dan Perdamaian Timur Tengah

Biarritz, Prancis, MINAPresiden Prancis, Emmanuel Macron mengatakan, agenda utama pertemuaan negara-negara anggota G7 adalah membahas stabilitas dan perdamaian kawasan Timur Tengah, salah satunya tentang senjata nuklir Iran.

“Semua anggota G7 sangat terikat pada stabilitas dan perdamaian di kawasan itu,” kata Macron.

Meskipun ada laporan media baru-baru ini, Macron mengatakan dia tidak diberikan “mandat G7 secara resmi” untuk meneruskan pesan ke Teheran.

Dia menambahkan bahwa dia akan terus melakukan pembicaraan dengan Iran dalam beberapa pekan mendatang untuk mengurangi ketegangan.

Menjelang KTT G7, diplomat tinggi Iran, Javad Zarif mengunjungi Paris, di mana ia melakukan pembicaraan terpisah dengan Macron dan rekannya dari Prancis, Jean-Yves Le Drian. Kesepakatan nuklir Iran menjadi fokus utama dalam kunjungan tersebut.

Kemudian pada Ahad (25/8), Presiden AS Donald Trump mengkonfirmasi bahwa G7 tidak memberikan mandat kepada Macron untuk berbicara dengan Iran atas nama kelompok itu, dengan mengatakan: “Tidak, saya belum membicarakan hal itu.”

Trump mengatakan ia mendukung upaya Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe di Iran beberapa waktu lalu.

“Kami akan melakukan upaya kami sendiri, tetapi Anda tidak dapat menghentikan orang untuk berbicara. Jika mereka ingin berbicara, mereka dapat berbicara,” tambahnya.

Diplomat Tinggi Iran Mengunjungi Biarritz

Sementara itu, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Abbas Mousavi mengumumkan bahwa Zarif diundang oleh mitranya dari Prancis ke Biarritz untuk melakukan pembicaraan.

Mousavi mengatakan di Twitter bahwa tidak akan ada pembicaraan antara Zarif dan Trump, atau delegasi AS.

Zarif bertemu Macron di sela-sela KTT G7 setelah pembicaraan dengan Le Drian, diikuti dengan briefing bersama Inggris dan Jerman, kata diplomat Iran di Twitter.

Kanselir Jerman Merkel mengatakan bahwa para pemimpin G7 sepakat untuk mencegah senjata nuklir Iran dan menghindari ketegangan di Teluk.

Dia mengatakan kepada wartawan bahwa Iran seharusnya tidak mendapatkan senjata nuklir dan bahwa “semua orang ingin mencapai ini melalui negosiasi.”

Kesepakatan nuklir Iran, juga dikenal sebagai Rencana Aksi Komprehensif Bersama (JCPOA), ditandatangani pada 2015 antara Iran dan Rusia, Cina, Prancis, AS dan AS plus Jerman.

Namun tahun lalu, Presiden AS Donald Trump secara sepihak menarik diri dari kesepakatan dan meningkatkan tekanan terhadap Teheran dengan memberlakukan kembali sanksi yang menargetkan sektor energi dan perbankan negara itu.

Di bawah perjanjian itu, kekuatan utama dunia berjanji untuk mencabut sanksi ekonomi yang dikenakan pada Iran sebagai imbalan bagi Teheran yang setuju untuk membatasi aktivitas nuklirnya untuk tujuan damai dan sipil.

Pada Juni lalu, Iran dengan tajam mengkritik kekuatan dunia karena tidak memenuhi janji-janji mereka dan mengancam akan meninggalkan bagian dari perjanjian itu.(T/RS3/P2)

Mi’raj News Agency (MINA)