Pertemuan Nasional dan Milad ke-30 ICMI Digelar di Bandung

(Foto: ICMI Pusat)

Bandung, MINA – Gubernur Jawa Barat (Jabar) Ridwan Kamil membuka Pertemuan Nasional dan Milad ke-30 Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) di Gedung Merdeka, Kota Bandung, Senin (7/12).

Pertemuan tersebut dilaksanakan dengan menerapkan protokol kesehatan. Jumlah pengurus ICMI yang hadir dibatasi. Hanya pengurus ICMI Pusat yang hadir langsung. Sedangkan pengurus ICMI Korwil se-Indonesia mengikuti pertemuan melalui konferensi video, demikian keterangan resmi yang dikutip MINA.

“Selamat datang dan selamat milad untuk kita semua. Semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala terus memberkati dan memberikan kepada kita petunjuk-petunjuk-Nya agar kita semua, bersama ICMI terus berada di jalan yang tepat dalam mewujudkan impian perjuangan long-march berjangka panjang untuk masa depan negara dan bangsa kita serta umat Islam, dunia Islam dan umat manusia pada umumnya,” kata Ketua Umum ICMI, Jimly Asshiddiqie, dalam sambutan dan orasinya, Senin.

Jimly memaparkan refleksi 30 Tahun ICMI sebagai sebuah organisasi yang merupakan wadah dialog intelektual bagi para cendekiawan muslim Indonesia ini telah menyumbang untuk meningkatnya kesadaran mengenai pentingnya iptek dan keseimbangannya dengan imtaq dalam proses pembangunan nasional menuju tingkat peradaban bangsa yang semakin kuat di dunia.

“ICMI telah menyumbang untuk meningkatnya kesadaran mengenai pentingnya iptek dan keseimbangannya dengan imtaq dalam proses pembangunan nasional menuju tingkat peradaban bangsa yang semakin kuat di dunia,” ujarnya.

ICMI, lanjut Jimly, juga telah menyumbang bagi dimulainya penerapan sistem ekonomi dan keuangan syariah serta dimulainya gerakan untuk menghidupkan gerakan kewirausahaan di kalangan umat Islam sebagai “ajaran sunnah Rasul” yang harus dijadikan prasyarat bagi upaya peningkatan ummat Islam dalam membangun peradaban bangsa dan peradaban dunia pada umumnya.

Pertemuan Nasional dan Webinar Peringatan Milad ICMI ke-30 ini bertema “Tantangan Indonesia di Kancah Dunia Pasca COVID-19″.

Kontribusi ICMI Menuju Indonesia Emas 2045

Dalam sambutannya, Kang Emil -sapaan Ridwan Kami- mengatakan, dirinya merasa bangga karena Ibu Kota Jabar dijadikan tempat untuk merumuskan tantangan Indonesia di kancah dunia pascapandemi COVID-19.

Kang Emil pun berharap, hasil pertemuan ICMI tersebut menghadirkan rumusan-rumusan untuk pembangunan Jabar.

“Mudah-mudahan berbanding lurus dengan kontribusi ICMI pada pembangunan Jabar,” kata Kang Emil.

Selain itu, Kang Emil menyampaikan bahwa di Gedung Merdeka, tempat pertemuan berlangsung, Presiden Republik Indonesia pertama Soekarno dan pemimpin negara Asia-Afrika pernah menyuarakan anti kolonialisme yang memberikan imajinasi tentang masa depan dunia.

“Imajinasi itu saya ingin tekankan lagi kepada ICMI, beri kami jalan penerang untuk tahun 2045. Tinggal 25 tahun lagi apakah sampai Indonesia menjadi negara terhebat kedua atau ketiga di dunia, kita butuh kompas,” ucapnya.

Kang Emil memaparkan bahwa ada tiga syarat yang harus dipenuhi apabila Indonesia ingin mewujudkan Indonesia Emas 2045. Pertama adalah kondisi sosial-politik kondusif.

“Saya doakan kita selalu menjadi bangsa yang damai dengan dasar Pancasila,” ucapnya.

Syarat kedua yakni pertumbuhan ekonomi harus dijaga di angka 5 persen. Namun, saat ini, perekonomian negara-negara di seluruh dunia terpukul pandemi COVID-19.

“Sekarang semua minus oleh pandemi COVID-19 yang mengajarkan bahwa urusan kesehatan bisa menghancurkan sisi ekonomi,” katanya.

Kang Emil berharap, perekonomian Indonesia kembali pulih secara perlahan, dan dijaga pertumbuhannya selama 25 tahun kedepan. “Maka Indonesia emas 2045 itu akan terwujud,” ucapnya.

Syarat terakhir adalah Sumber Daya Manusia (SDM) harus produktif dan kompetitif. Menurut Kang Emil, ICMI berperan penting dalam menciptakan SDM tersebut.

“Syarat ketiga, SDM harus kompetitif dan produktif, ini menjadi salah satu dari peran ICMI menciptakan SDM andal,” katanya.
Indonesia di tahun 2045 diprediksi akan menjadi satu-satunya negara di dunia yang 75 persen populasinya dihuni oleh generasi muda.

“Ini bisa menjadi potensi atau malah jadi beban negara kalau tidak dikelola dengan baik,” ucapnya.

ICMI dibentuk pada tanggal 7 Desember 1990 di sebuah pertemuan kaum cendekiawan muslim di Kota Malang tanggal 6-8 Desember 1990. Pada pertemuan itu juga dipilih Baharuddin Jusuf Habibie sebagai Ketua ICMI yang pertama.

Ketua Panitia dan Ketua ICMI Orwil (Organisasi Wilayah) Jawa Barat, Mohammad Najib, menjelaskan dalam Pertemuan Nasional dan Webinar Peringatan Milad Ke-30 ICMI juga diluncurkan program-program ICMI yaitu: ICMI School, Program Haji Muda, dan BMT Insan Madani – eMarket Place for MSME (Micro Small Medium Enterprise) – kajojo.id.

“Webinar Nasional Peringatan Milad ICMI ke-30 bertujuan untuk menghasilkan rekomendasi komprehensif penanggulangan pandemi, menyusun peta jalan bangsa yang beradaptasi dengan kenormalan baru, dan mengaktualkan Politik Luar Negeri Indonesia Bebas-Aktif,” kata Najib.

Pada peringatan Milad ke-30 ICMI dirangkai Webinar Nasional ini juga menghadirkan pembicara kunci Menteri Pertahanan RI Prabowo Subianto, serta narasumber Duta Besar RI di Amerika Serikat Muhammad Lutfi, Duta Besar RI di Tiongkok Drs. Djauhari Oratmangun, Ekonom Senior Prof. Dr. Emil Salim, Ketua Wantim MUI Prof. Dr. M. Din Syamsudin, dan Pengamat Militer Dr. Connie Rahakundini Bakrie.

Pertemuan Nasional dan Webinar Peringatan Milad ICMI ke-30 diselenggarakan secara offline dengan peserta terbatas dan penerapan protokol kesehatan di Gedung Merdeka, Bandung, Jawa Barat.

Pertemuan Nasional dan Webinar Peringatan Milad ICMI ke-30 juga digelar secara online lewat Zoom Meeting bersama pengurus Organisasi Wilayah (Orwil) dari dalam maupun luar negeri, Organisasi Daerah (Orda), Organisasi Satuan (Orsat), Badan Otonom (Batom) ICMI, serta undangan lainnya.(L/R1/P1)

 

Mi’raj News Agency (MINA)